Wahsyi bin Harb, Pembunuh Paman Nabi dan Musailamah Al Kadzdzab Si Nabi Palsu

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID  Pada peperangan Uhud, ada seorang yang dikenal karena sifat buruknya. Ia adalah Wahsyi bin Harb yang merupakan pembunuh sahabat paman Rasulullah SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib yang jasadnya kemudian dirusak oleh Hindun binti Utbah. Yaitu sebagai balas dendam atas kematian bapak, paman, saudara dan putranya yang dibunuh Hamzah dalam peperangan Badar.

Diketahui, Wahsyi sebenarnya merupakan seorang budak milik Jubair bin Muth’am yang pamannya juga terbunuh di perang Badar oleh Hamzah. Kala itu Wahsyi dijanjikan akan dibebaskan dari perbudakan, jika ia berhasil membalas dendam dengan membunuh Hamzah. Hindun juga ikut menjanjikan hadiah-hadiah yang berlimpah jika ia berhasil membunuh Hamzah.

Nama Wahsyi juga dikenal dengan keahlian melempar tombak teknik Habsyi, tempat asalnya Habasyah, Afrika. Wahsyi terus melatih kemampuannya tersebut.

Hingga pada saat perang Uhud berlangsung, Wahsyi tidak punya tujuan lain kecuali untuk membunuh Hamzah demi mendapatkan kebebasannya dari perbudakan. Dengan demikian, ia tidak melakukan pertempuran dengan orang muslin lainnya kecuali hanya mengendap-endap mendekati Hamzah yang berperang bagai banteng yang sedang mengamuk. Ia mencari kesempatan yang tepat untuk bisa melemparkan tombaknya kepada Hamzah.

Pada saat situasi berbalik, yaitu dari kemenangan kaum muslim menjadi kekalahan, karena sebagian besar pemanah yang ditugaskan Rasulullah SAW menjaga dari sisi bukit turun untuk mengambil ghanimah, posisi Hamzah menjadi terbuka. Seorang kafir Quraisy bernama Siba’ bin Abdul Uzza sedang melayani Hamzah bertarung, saat pedang Hamzah mengenai leher Siba’, disaat yang sama, Wahsyi melemparkan tombaknya dan mengenai pinggangnya hingga tembus ke depan. 

Ketika itu, Hamzah sempat akan berdiri kemudian terjatuh dan meninggal. Wahsyi lalu mencabut tombaknya dari tubuh Hamzah dan kembali dan menunggu di kemahnya. Ketika pertempuran usai, ia kembali ke Makkah bersama rombongan kaum kafir Quraisy. Atas keberhasilannya itu, Wahsti mendapatkan kebebasannya dari perbudakan.

Saat Fathul Mekkah, seperti kebanyakan orang yang mempunyai kesalahan besar terhadap Islam, Wahsyi pun berusaha melarikan diri, sehingga ia lari ke Thaif. Ketika utusan dari Thaif akan menghadap Rasullullah SAW dengan tujuan untuk menyatakan keislaman, ia berfikir untuk lari ke Syiria, Yaman atau tempat lainnya. 

Namun di tengah-tengah kebingungannya, seseorang berkata kepadanya, “Hai orang bodoh, Rasulullah tidak akan membunuh seseorang yang memeluk Islam.”

Wahsyi pun akhirnya datang ke Madinah. Saat terlihat oleh Rasulullah SAW, Wahsyi segera berdiri di depan Beliau dan mengucap syahadat. Rasulullah SAW mengenali Wahsyi dan memintanya untuk menceritakan proses ia membunuh Hamzah. 

Setelah Wahsyi bercerita, Rasulallah SAW tampak sangat bersedih mengingat apa yang terjadi pada pamannya di Perang Uhud. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Sungguh amat disesalkan!! Engkau telah muslim, tetapi sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku,”.

Hal tersebut sungguh sangat dimaklumi sikap Nabi SAW ini. Meskipun hanya sebagai paman, Hamzah sebaya dengan Nabi SAW, bermain dan tumbuh dewasa bersama sebagai sahabat. Ketika Hamzah memeluk Islam, tak lama disusul oleh Umar bin Khaththab, dan mereka berdua menjadi pilar yang kokoh dalam meredam perlakuan kejam orang-orang kafir Quraisy. Bahkan mereka melakukan perlawanan yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya, termasuk beribadah dengan terang-terangan di dekat Ka’bah.

Dengan begitu, terbunuhnya Hamzah di Perang Uhud, ditambah lagi jasadnya dirusak Hindun untuk mengambil hatinya, adalah kehilangan besar bagi diri pribadi Rasullullah SAW atau bagi Islam. Saat melihat jasad paman dan sahabat yang dicintainya tersebut, Rasullullah SAW sempat memberikan ancaman atas kebiadaban orang-orang kafir Quraisy dan melakukan pembalasan terhadap 30 orang dengan cara yang sama. Tetapi kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Rasullullah SAW adalah Rahmatan Lil Alamin, sehingga Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut.

Sejak saat itu, Wahsyi berusaha untuk tidak bertemu dengan Rasullullah SAW sampai beliau wafat. Mungkin tidak mengenakkan bagi Wahsyi untuk tidak bisa bergaul rapat dengan sosok mulia seperti Rasullullah SAW. Namun atas apa yang dilakukannya di masa lalu, ia bisa sangat memahaminya. Cukup bisa melihat Rasulullah SAW dari kejauhan dan menjadi umatnya adalah suatu karunia besar.

Ketika Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan ke Yamamah untuk menumpas nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab, Wahsyi pun ikut serta dalam pasukan ini dengan membawa tombak yang dahulu ia gunakan untuk membunuh Hamzah. Terlihat tekadnya yang bulat untuk menebus kesalahannya di masa lalu dalam peperangan ini. 

Sambil bertempur, ia terus bergerak mendekati posisi nabi palsu itu. Pada saat yang tepat, ia melihat Musailamah berdiri dengan pedang terhunus, kemudian ia melemparkan tombaknya dengan teknik Habsyi yang dikuasainya, dan tepat mengenai nabi palsu itu hingga tewas. 

Wahsyi berkata, “Sungguh dengan tombak ini saya telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah, saya berharap semoga Allah mengampuniku, karena dengan tombak ini pula saya telah membunuh sejahat-jahatnya manusia, yaitu Musailamah…!” Wallahu A’lam. []



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *