Setelah Viral di TikTok, Brand ini Stop Hancurkan Barang Reject dan Upayakan Daur Ulang

  • Bagikan


Belakangan ini publik dunia dihebohkan dengan salah satu unggahan video di TikTok. Melalui pengguna bernama @thetrashwalker mengatakan bahwa Coach memiliki kebijakan dengan sengaja memotong produk reject sehingga tak bisa digunakan kembali. Akun milik Anna Sacks tersebut membuat video berdurasi 1 menit, di mana dirinya memegang sejumlah tas dengan robekan besar, hingga sepatu dengan tali yang dipotong.

Sacks menuding adanya praktik sebagai bagian dari celah pajak yang membuat perusahaan menghapus produk, seolah-olah memang tak sengaja dihancurkan. Video pertama kali dipublikasikan pada Sabtu, 9 Oktober 2021 hingga kini sudah disaksikan lebih dari 2,4 juta kali. Merek asal Amerika Serikat itu pun dikritik oleh warganet karena dianggap tak menciptakan sistem yang ramah lingkungan.

Setelah viral di media sosial, Coach memberikan klarifikasi bahwa pihaknya telah berhenti menghancurkan produk reject

Merek fesyen yang berpusat di New York ini mengumumkan bahwa pihaknya tak akan lagi menghancurkan barang-barang rusak atau “tidak dapat dijual” yang dikembalikan ke tokonya. Pernyataan ini muncul 3 hari usai video di TikTok yang menuding mereka dengan sengaja menghancurkan barang viral.

Tanpa secara langsung merujuk pada tudingan tersebut, Coach mengumumkan bahwa mereka telah berhenti melakukan tindakan merusak barang yang diretur ke toko. Selanjutnya, ditekankan bahwa pihak mereka akan berupaya mendaur ulang dan mengenakan kembali produk kelebihan produksi atau rusak secara bertanggung jawab.

“Kami selalu berusaha menjadi lebih baik dan berkomitmen, dengan tujuan bertanggung jawab sebagai merek fashion global untuk menghasilkan perubahan nyata secara terus menerus bagi industri. Kami akan mengembangkan dan menerapkan solusi produk yang bertanggung jawab, menggunakan kembali, mendaur ulang dan memakai produk yang berlebih atau rusak,” tulis Coach dalam keterangan di Instagram, (12/10).

Tudingan ini pun sejalan ketika akun Instagram Diet Prada, pengawas mode berpengaruh mengunggah konten dari Anna Sacks sembari menunjukkan barang-barng Coach yang telah diambil dari tempat sampah.

Coach bukan satunya-satunya yang diketahui melakukan praktik industri semacam ini. Publik pun menuntut perusahaan untuk menciptakan sistem yang ramah lingkungan

Kritik pada perusahaan tak ramah lingkungan | Credit: Instagram

Praktik serupa yang dilakukan Coach biasanya ditujukan untuk mencegah kelebihan stok yang dijual dengn harga lebih murah sehingga bisa menurunkan eksklusivitas dari merek. Pada 2018, Burberry juga mengumumkan bahwa mereka akan berhenti membakar barang-barang yang tak terjual. Hal ini sejalan dengan ditemukannya pakaian dan parfum yang hancur senilai lebih dari 36 juta dollar AS atau senilai Rp509 miliar kala itu.

Berbagai rumah mode, pembuat jam tangan, dan perusahan pakaian juga dituduh melakukan tindakan serupa dalam beberapa tahun terakhir. Dilansir dari CNN, Anna Sacks menyambut pernyataan Coach dengan suka cita, ia menilai tindakan ini merupakan permulaan yang baik.

“Kali ini Coach yang tertangkap basah. Tapi, ketakutan saya adalah mungkin saja merek lain akan terus meproduksi berlebihan dan menghancurkan barang secara sembunyi-sembunyi. Ini adaah pelajaran yang harus diambil industi fesyen,” paparnya kepada CNN.

Padahal, mengusung produk yang perhatikan keseimbangan alam sudah mulai difokuskan oleh beberapa brand ternama

Pentingnya sustainability | Credit: Photo Boards on Usplash

Sebelum hal ini mencuat sederet brand fesyen ternama telah meluncurkan koleksi yang mengambil bahan ramah lingkungan. Sebut saja rumah mode Zara yang meluncurkan pakaian musim dingin dengan bahan kasmir. Ada lagi label ternama Convers yang pernah mengusung sepatu eco-friendly dengan mendaur ulang botol plastik yang sudah tak terpakai menjadi koleksi bertajuk “Convers Renew Canvas”. Hal ini juga diikuti oleh Mango, mereka mengusung poduk yang ramah lingkungan dalam koleksi bernama “Mango Committed” dari bahan polyester, katun dan tencel.

Tak ingin merusak lingkungan dengan sistem produksi yang egois. Maka semua pihak sudah seharusnya memikirkan mode berkelanjutan. Termasuk bagi konsumen, berpikir pada pembelian yang memberikan investasi bukan justru berlebihan hanya demi gengsi. Sebab hasil produk fesyen yang mudah rusak akan meningkatkan polusi limbah dan pada akhirnya menganggu kehidupan manusia.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *