Pentingnya Rumah Sakit Hadirkan Transformasi Digital Dalam Layanan Kesehatan

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID, Jakarta – Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Abdul Kadir mengingatkan pentingnya rumah sakit mengedepankan digitalisasi dalam pemberian layanannya. “Kita sebagai tenaga kesehatan, dalam kondisi mengandalkan digitalisasi. Jadi transformasi digital layanan kesehatan harus terjadi,” katanya dalam acara Kolaborasi Philips dan Mandaya Royal Hospital Puri dalam Wujudkan Rumah Sakit Pintar untuk Indonesia pada 29 September 2021.

Kadir mengingatkan perlunya adanya inovasi dalam rumah sakit. Layanan yang diberikan pun perlu mudah diakses dan dijangkau para pasien. “Harus jadi smart hospital,” katanya.

Salah satu hal mudah yang perlu dilakukan adalah melakukan registrasi secara elektronik. Sehingga kedatangan pasien pun bisa diatur. “Pasien bisa daftar secara online, perlu pula telemedicine,” katanya.

Mandaya Royal Hospital Puri mencoba memberikan layanan kesehatan dengan teknologi tinggi kepada pasien dan keluarganya. Hal itu dilakukan dengan bekerja sama dengan Royal Philips.

Acara Kolaborasi Philips dan Mandaya Royal Hospital Puri dalam Wujudkan Rumah Sakit Pintar untuk Indonesia pada 29 September 2021.Tempo/Mitra Tarigan

“Merupakan kehormatan bagi Philips untuk bermitra dengan Mandaya Royal Hospital Puri dan dapat mendukung visinya yang progresif bagi masa depan pelayanan kesehatan,” kata Presiden Direktur Philips Indonesia, Pim Preesman pada kesempatan yang sama.

Pim Preesman mengatakan timnya sangat mendukung teknologi di bidang kesehatan. “Dokter dan para perawat perlu untuk didukung dalam hal digital teknologi yang memang merupakan masa depan layanan kesehatan,” katanya.

Pim Preesman mengingatkan bahwa dengan mengkombinasi teknologi canggih dan layanan kesehatan, ia yakin bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ia menambahkan bahwa Royal Phillips terus bekerja untuk meningkatkan perawatan pasien, tidak hanya dengan menyediakan solusi terbaru dan tercanggih, tapi juga membuat pekerjaan tenaga kesehatan lebih cepat, akurat dan lebih efisien. “Para pasien Mandaya Royal Hospital Puri akan dapat merasakan beberapa teknologi paling inovatif dari Philips,” kata Pim,

Presiden Direktur Mandaya Hospital group Ben Widaja mengatakan rumah sakitnya mengutamakan pengalaman pasien dan keluarganya. “Kami berusaha menyediakan dan memberikan tidak hanya perawatan klinis terbaik, tertapi juga memperhatikan aspek emosional, mental, spiritual, solusi dan keuangan pasien,” katanya.

Ben pun berharap agar layanan kesehatan terpadu yang disiapkannya bisa meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien dengan melibatkan keluarga pasien. “Teknologi Philips di rumah sakit ini memungkinkan kami unuk menerapkan pendekatan inovatif yang bermanfaat bagi pasien, dan juga dokter perawat, serta staf kami,” katanya.

Mandaya Royal Hospital Puri memiliki kapasitas total lebih dari 250 tempat tidur rawat inap, enam ruang operasi, lebih dari 100 ruang pemeriksaan rawat jalan. Perjanjian kerja sama strategis Mandaya Royal Hospital Puri dengan Royal Philips mencakup teknologi pencitraan dan terapi degan gambar pertama di Indonesia, integrasi solusi informatika dan solusi pemantauan terkoneksi untuk mendukung pemberian perawatan klinis terbaik. Kemitraan ini pun mencakup solusi Philips Ambient Experience, teknologi yang dirancang menggunakan pencahayaan dinamis, proyeksi dan suara untuk meningkatkan pengalaman pasien dan staf.

Philips Ambient Experience, dalam Philips Ingenia Ambition X MRI. Tempo/Mitra Tarigan

Tempo sempat mendatangi ruangan yang menggunakan teknologi Philips Ambient Experience. Alat itu dipasang di ruangan pemeriksaan Magnetic resonance imaging (MRI) dengan Philips Ingenia Ambition X. Pasien yang hendak melakukan tes di MRI bisa menyesuaikan ruangan mereka secara khusus. Lampu ruangan bisa berwarna merah, biru, atau warna yang diinginkan pasien. Selain itu, di dinding ruangan pun pasien bisa memilih tema apa yang bisa terpasang di dinding. Ada video kartun, ada pula video soal hewan yang sedang beraktivitas. Ketika pasien sedang terlentang pun, pasien bisa sekaligus melihat animasi itu karena ada layar di hadapannya. Pasien pun bisa menggunakan headphone untuk menikmati suasana itu lebih dalam.

Ben mengatakan dirinya sangat mengutamakan pengalaman yang dirasakan pasien. Ia berharap dengan mengatur ruangan sesuai dengan keinginan pasien, bisa menurunkan tingkat kecemasan pasien ketika sedang melakukan pengobatan. “Pemeriksaan di MRI itu bisa memakan waktu 30 menit-1 jam. Menyesuaikan suasana ruangan perlu dilakukan agar pasien bisa lebih tenang,” katanya.

Ben juga menjelaskan bahwa pemeriksaan tensi yang dilakukan perawat, sudah digitalisasi. Jadi alat pemeriksaan tensi itu, sudah terkoneksi dengan papan layar yang sebesar papan tulis. Layar yang dioperasikan dengan sentuhan itu bisa melihat langsung data-data pemeriksaan pasien secara berkala. “Jadi perawat tidak perlu lagi mencatat perkembangan tes tensi pasien di buku tulis. Mereka jadi punya waktu lebih banyak untuk mengawasi pasien,” kata Ben.

Selain itu, digitalisasi dalam hal pemeriksaan itu juga bisa memprediksi kemungkinan terjadinya serangan jantung pada pasien. “Alat-alat pemeriksaan perawat itu sudah terintegrasi dengan data pasien, sehingga perawat bisa melihat langsung perkembangan kondisi pasien di layar. Tindakan pencegahan pun bisa dilakukan bila kondisi pasien semakin menurun,” katanya.

Baca: PPKM Semakin Longgar, Rumah Sakit Diminta Siapkan 3 Strategi Ini



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *