FIFA Ingin Israel-Palestina Tuan Rumah Bersama Piala Dunia, Mungkinkah Terwujud?

  • Bagikan
10 Foto Ada Hegerberg, Pemenang Ballon d'Or Wanita Pertama


“Jika ide gila ini benar-benar terwujud, sepakbola akan jadi alat perdamainan sejati.”

TOPNEWS.MY.ID – Mimpi besar FIFA bukanlah menjadikan sepakbola sebagai olahraga yang menguasai dunia. Keinginan penguasa sepakbola internasional tersebut ternyata hanya satu, melihat Israel dan Palestina damai.  Caranya, menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.

Gianni Infantino menjadi Presiden FIFA pertama yang mengunjungi Israel dalam lawatan resminya, Senin (11/10/2021). Dalam kunjungan tersebut, Infantino langsung menyarankan Israel menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama dengan negara-negara tetangga Arabnya, termasuk Palestina.

Berbicara pada pembukaan “The Friedman Center for Peace through Strength”, Infantino membahas kemungkinan menjadi tuan rumah bersama Israel di masa depan. “Mengapa kita tidak bisa memimpikan Piala Dunia di Israel dan tetangganya?” ucap Infantino, dilansir The Athletic.

“Dengan Abraham Accords, mengapa kita tidak melakukannya di sini di Israel, dengan tetangganya di Timur Tengah dan Palestina,” tambah pria asal Swiss itu.

Yang dimaksud Infantino dengan Abraham Accords adalah kesepakatan normalisasi yang ditandatangani Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, serta Maroko tahun lalu. Dengan pemulihan hubungan itu, Israel kini memiliki teman-teman baru dari dunia Arab, yang pada akhirnya akan bermuara pada perdamaian dengan Palestina.

Kemungkinan Israel, Palestina, dan negara-negara lain di kawasan bersengketa itu menjadi tuan rumah Piala Dunia akan tampak luar biasa. Pasalnya, konflik di kawasan itu telah ada selama beberapa dekade, dengan perselisihan Israel-Palestina sebagai episentrumnya.

“Dalam diskusi, Presiden FIFA mengemukakan gagasan bahwa Israel akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030, bersama dengan negara-negara lain di kawasan itu, terutama dengan Uni Emirat Arab,” kata Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, melalui Twitter resminya.

Piala Dunia 2030 yang ingin diberikan FIFA kepada Israel dan tetangganya sebenarnya juga diinginkan negara-negara di Amerika Selatan. Uruguay, Argentina, Paraguay, dan Chile mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama. Ada lagi Inggris dan Irlandia serta Portugal dan Spanyol. Begitu pula China.

Tapi, tuan rumah akan ditentukan pada 2024 atau dua tahun setelah Piala Dunia 2022 di Qatar. Piala Dunia 2030 akan menjadi turnamen kedua yang diikuti 48 negara setelah 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Butuh waktu dan dialog yang lebih komperehensif

Sayang, setiap niat baik tidak selalu mendapatkan tanggapan positif. Asosiasi Sepakbola Palestina (PFA) langsung memberikan respons keras atas partisipasi Presiden FIFA dalam acara di Israel. Tanpa melihat apa yang dikatakan Infantino, PFA menganggap kunjungan ke Israel sebagai penghinaan total terhadap nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan secara damai, seperti yang tertulis di statuta FIFA.

“Dia (Infantino) tidak menyampaikan pesan yang dinyatakannya mengenai nilai-nilai sistem sepakbola internasional,” bunyi pernyataan resmi PFA, dilansir Al Jazeera Sport.

Salah satu keberatan PFA adalah Infantino mengunjungi lokasi yang disebut sebagai Museum Toleransi Israel, Menurut PFA, Infantino berpartisipasi dalam konferensi politik yang tidak ada hubungannya dengan olahraga. Selain itu, museum yang dikunjungi FIFA dibangun di atas pemakaman Muslim bersejarah di Yerusalem.

“FIFA melakukan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional, HAM, dan perasaan jutaan Muslim di dunia. Mempolitisasi olahraga tidak akan menghasilkan perdamaian,” bunyi pernyataan lanjutan PFA.

PFA juga menentang rencana FIFA menjadikan Israel tuan rumah Piala Dunia. Mereka beranggapan Israel memiliki rekam jejak mengebom stadion olahraga di Palestina, mencegah pemain sepakbola dari Jalur Gaza untuk berlatih dan bermain dengan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, dan telah menargetkan serta menangkap pemain sepak bola.

“Kami berharap kunjungan ini akan menjadi awal untuk mengakhiri penderitaan para pemain Palestina dan tindakan pendudukan yang bertujuan untuk menghambat penyebaran dan pengembangan permainan di wilayah Palestina, dan bukan untuk mendukung kelompok Zionis,” ungkap PFA.

(atmaja wijaya/anda)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *