Aktivis dan Penulis Perempuan Berbagi Pengalaman Seputar Kesetaraan Gender dan Keadilan dalam UWRF 2021 Hari Ke-7

  • Bagikan


Gelaran acara sastra terbesar di Asia Tenggara, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2021 telah memasuki hari ketujuh. Sejak berlangsung sejak tanggal 8 Oktober lalu, UWRF 2021 telah menghadirkan sederet penulis, seniman serta aktivis ternama yang membagikan sudut pandang dan pengalamannya mewakili tema “Mulat Sarira” atau refleksi diri yang diusung UWRF 2021.

Di hari ketujuh tepatnya Kamis tanggal 14 Oktober, salah satu Main Program UWRF 2021 mengusung topik “Beyond the Barriers” dengan menghadirkan aktivis perempuan yang dikenal konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan. Kira-kira seperti apa pengalaman para aktivis perempuan Indonesia ini, dan siapa saja mereka?

Rangkaian acara pada hari ke-7 UWRF 2021 menghadirkan para aktivis sekaligus penulis perempuan Indonesia yang aktif memperjuangkan isu kesetaraan gender dan hak-hak perempuan

Program acara Beyond the Barriers | dok. Tangkapan layar UWRF 2021

Sosok inspiratif yang akan membagikan pengalamannya dalam memperjuangkan hak perempuan lewat topik “Beyond the Barriers” UWRF 2021 adalah Kalis Mardiasih, penulis sekaligus aktivis yang mengkampanyekan keragaman Indonesia dan kesetaraan gender dalam wacana Islam. Kalis pernah menulis artikel berjudul “Don’t Let Women Left Behind” yang masuk dalam nominasi untuk Anugerah Swara Saraswati Award.

Selain Kalis, dalam acara yang digelar secara virtual ini juga hadir Intan Andaru, seorang dokter sekaligus penulis yang berpartisipasi dalam ASEAN-Japan Writers Residency pada tahun 2017. Intan juga merupakan penerima Hibah Cipta Media Express tahun 2018 untuk Aktor Budaya Perempuan dalam Sastra.

Selain itu, ada Rotua Valentina Sagala yang merupakan seorang aktivis hukum dan hak-hak perempuan. Ia memenangkan Penghargaan N-Peace 2013 sebagai salah satu panutan untuk perdamaian dan dinobatkan sebagai salah satu Women on the Rise dari GlobeAsia Magazine.

Diskusi menarik yang berlangsung kurang lebih 45 menit ini dimoderatori oleh Olin Monteiro, seorang aktivis, penulis, peneliti, penerbit, dan produser feminis Indonesia yang telah mengoordinasikan Peace Women Across the Globe Indonesia sejak 2004.

Mereka membagikan pengalaman masing-masing dalam memperjuangkan dan membagikan nilai-nilai kesetaraan gender di Indonesia

Kalis Mardiasih | dok. Tangkapan layar UWRF 2021

Sebagai seorang penulis dan aktivis, Kalis Mardiasih aktif menulis tentang isu-isu dan hak perempuan yang saat ini masih dianggap sebagai suara sekunder. Dalam banyak hal, perempuan masih menjadi sosok yang selalu dibicarakan dan disalahkan ketika terjadi suatu kegagalan. Selain itu, ketika ada peristiwa atau tindak kekerasan seksual, pihak perempuan juga yang disalahkan. Berangkat dari situasi ini, Kalis mencoba mengambil posisi tengah untuk menjadi wajah dari wanita itu sendiri.

“Ketika ada perempuan yang berani bersuara, lagi-lagi suara perempuan masih disalahartikan, pengalaman korban dianggap tidak valid, serta tidak dianggap sebagai representasi perjuangan melawan keadilan. Kita tidak akan berhenti sebelum suara kita dianggap setara,” tutur Kalis.

Intan juga membagikan pengalamannya saat melakukan sebuah riset di wilayah pesisir Papua yaitu Asmat. Awalnya, ia bertujuan meneliti perihal gizi buruk dan wabah campak. Akan tetapi dalam perjalanannya, Intan juga mempelajari budaya Suku Asmat. Bagi Suku Asmat, perempuan sama berartinya dengan tanah adat yang harus dimuliakan dan dijaga.

Perempuan yang bisa menyanyi, memiliki daya ingat kuat, memiliki kemampuan untuk mendongeng, serta bisa menghasilkan karya seni sangat dihargai dan dianggap sebagai seorang pemimpin. Perempuan tak hanya dianggap sebagai objek, tapi juga berperan untuk menjadi seorang pemimpin.

Melalui riset, storytelling, dan menyediakan bantuan hukum, para aktivis perempuan bergerak untuk bisa melebur sekat-sekat kemanusiaan

Kalis Mardiasih | dok. Tangkapan layar UWRF 2021

Baik Kalis, Intan, dan juga Valen, semuanya memiliki cara yang beragam untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Kalis misalnya, memilih untuk membagikan potret perempuan yang menjadi kepala rumah tangga untuk menyebarkan nilai-nilai kesetaraan gender.

“Hal yang aku lakukan yaitu bercerita mengenai perempuan yang berperan menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga. Perempuan juga manusia seutuhnya yang memiliki peran kemanusiaan. Jadi ,yang aku lakukan adalah menceritakan banyak perempuan luar biasa dengan pendekatan yang humanis,” ujar Kalis.

Jika Kalis menggunakan cara storytelling untuk menyuarakan hak-hak perempuan, Intan yang juga terlibat dalam kegiatan sosial aktif memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai nilai kesetaraan. Dalam lingkup profesinya, Intan juga meluruskan hal-hal yang terkait dengan hak perempuan seperti praktik KB dan kehamilan.

“Saya tidak akan berhenti belajar dan membagikan nilai kesetaraan. Sebagai seorang yang bergelut di kegiatan sosial, saya harus menanamkan nilai-nilai kesetaraan, diberi pengertian bahwa anak perempuan juga bisa mendapatkan akses pendidikan seperti laki-laki dan berhak memilih cita-citanya,” ujar Intan.

Sementara Valen mengatakan tema yang diusung oleh UWRF 2021 mengenai refleksi diri sangat tepat. Ia menganggap bahwa refleksi diri sangat diperlukan untuk melihat sejauh mana aksi yang telah ia lakukan. Valen juga mengatakan jika akar dan jiwa seorang feminis adalah dirinya sendiri. Jika kita bisa menerima diri kita seutuhnya, maka itu bisa menjadi kekuatan untuk melebur sekat-sekat dalam memperjuangkan hak perempuan.

“Beyond the barriers” adalah salah satu rangkaian acara utama UWRF 2021 tanggal 14 Oktober 2021

Program utama dari gelaran acara UWRF 2021 setiap hari dimulai pada pukul 09.00 – 19.00 WITA hingga tanggal 17 Oktober 2021. “Beyond the Barries” merupakan salah satu acara utama yang digelar hari ini. Sebelum sesi ini, UWRF 2021 hari ketujuh menghadirkan diskusi bertajuk “Joseph Conrad’s Eastern Voyages” bersama Virania Munaf dan Ian Burnet, dilanjutkan dengan “Generational Poems” bersama Gody Usnaat, Vanesa Martida, Ni Wayan Idayati, dan Joko Pinurbo, “Homo Irealis” bersama Michael Vatikiotis dan André Aciman, “New Spaces” bersama Raisa Kamila, Ramayda Akmal, Liswindo Apendicaesar, dan Kadek Sonia Piscayanti, serta “Ethical Tourism Post Pandemic” bersama Niluh Djelantik dan Janet Deneefe.

Selain bincang bersama para penulis, aktivis dan seniman dalam program utama, hari ketujuh UWRF 2021 juga menghadirkan beberapa acara menarik lainnya, mulai dari workshop mengenai kepenulisan, perilisan buku, live music hingga pemutaran film yang tak kalah seru.

Tertarik untuk menyaksikan acara sastra terkemuka ini? Masih ada banyak waktu dan sosok-sosok keren yang bisa kamu jumpai dalam UWRF 2021. So, jangan sampai ketinggalan! Informasi lengkap UWRF 2021 seperti pembelian tiket hingga jadwal acara bisa kamu akses melalui situs ubudwritersfestival.com.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *