ADB Gelontorkan Pembiayaan Iklim $100 Miliar untuk Negara Berkembang

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID Krisis iklim makin memburuk tiap hari, sehingga makin banyak permintaan agar pembiayaan iklim dapat ditingkatkan. Asian Development Bank (ADB) pun menyatakan akan meningkatkan ambisinya untuk menyediakan pembiayaan iklim senilai $100 miliar bagi negara-negara berkembang anggotanya TOPNEWS.MY.ID 2019 dan 2030.

“Menang atau kalahnya peperangan melawan perubahan iklim akan ditentukan oleh kawasan Asia dan Pasifik. Kami menjawabnya dengan meningkatkan ambisi kami menjadi $100 miliar dalam pembiayaan iklim kumulatif yang berasal dari sumber daya kami sendiri sampai dengan 2030,” tutur Presiden ADB Masatsugu Asakawa melalui keterangan resminya, Kamis (14/10/2021).

Masatsugu mengklaim pada 2018, ADB telah berkomitmen untuk memastikan paling tidak 75 persen dari operasinya mendukung tindakan iklim, dan sumber dayanya sendiri yang dialokasikan untuk pembiayaan iklim mencapai setidaknya $80 miliar secara kumulatif sampai dengan 2030. ADB memperkirakan pembiayaan iklim dari sumber dayanya sendiri selama 2019–2021 secara kumulatif akan mencapai sekitar $17 miliar.

” Peningkatan ambisi pembiayaan iklim ini merupakan elemen penting dalam upaya ADB untuk mendukung negara-negara berkembang anggotanya,” jelasnya.

Menurutnya, di tengah tantangan yang saling berkaitan berupa pandemi penyakit virus korona (Covid-19) dan krisis iklim, banyak negara berkembang anggota ADB yang mengambil langkah tegas guna mendorong pemulihan yang hijau, tangguh, dan inklusif. ADB akan terus meningkatkan akses ke teknologi baru yang difokuskan pada iklim dan memobilisasikan modal swasta menuju pembiayaan iklim di berbagai bidang ini.

” ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota—49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik,” tukasnya.

Sementara itu, tambahan nilai $20 miliar disinyalir akan mendukung agenda iklim di lima bidang utama:

Pertama, berbagai langkah baru untuk mitigasi iklim, termasuk penyimpanan energi, efisiensi energi, dan transportasi rendah karbon. ADB memperkirakan pembiayaannya untuk mitigasi iklim secara kumulatif akan mencapai $66 miliar.

Kedua, peningkatan skala bagi proyek-proyek adaptasi yang transformatif. Berbagai proyek di sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti perkotaan, pertanian, dan air, akan dirancang dengan tujuan utama adaptasi iklim yang efektif dan peningkatan ketangguhan. ADB memperkirakan pembiayaan adaptasi secara kumulatif akan mencapai $34 miliar.

Ketiga, peningkatan pembiayaan iklim dalam operasi sektor swasta ADB. Hal ini termasuk dengan menambah jumlah proyek yang lebih layak secara komersial, baik bagi ADB maupun investor swasta. Penambahan ini akan ditopang oleh peningkatan dalam efisiensi operasional, pemulihan pasca-pandemi dalam hal permintaan pasar akan pembiayaan, teknologi dan inovasi baru dalam pembiayaan iklim, serta bidang-bidang usaha baru bagi operasi iklim di sektor swasta. ADB bertekad untuk mendukung berbagai prakarsa ini dengan $12 miliar dari sumber dayanya sendiri untuk pembiayaan iklim sektor swasta secara kumulatif, dan menargetkan adanya tambahan $18 miliar sampai $30 miliar dari sumber-sumber dana lainnya.

Keempat, dukungan bagi pemulihan yang hijau, tangguh, dan inklusif dari Covid-19, termasuk melalui platform pembiayaan yang inovatif, seperti ASEAN Catalytic Green Finance Facility and Green Recovery Platform, yang diharapkan akan memanfaatkan dana dari pasar modal dan investor sektor swasta untuk infrastruktur rendah karbon.

Kelima, dukungan untuk mengedepankan reformasi di negara-negara berkembang anggotanya agar dapat mengambil langkah-langkah baru melalui pinjaman berbasis kebijakan, guna mendukung kebijakan dan lembaga yang dapat meningkatkan ketangguhan iklim dan mitigasi iklim.[]

 



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *