Komunikasi Efektif – Angsamerah Blog

  • Bagikan


Sebagai komunikator, kita pun perlu memberikan pesan dengan tidak terburu-buru sehingga pesan bisa dimengerti. Persiapkan perangkat atau medium yang sesuai. Jika akan menggunakan materi presentasi, sebaiknya gunakan banyak gambar daripada kata-kata agar tidak membosankan. Komunikasi yang interaktif juga sangat baik, misalnya dengan berbagi pengalaman dengan trainee, atau mendiskusikan contoh kasus yang relevan dengan situasi yang dihadapi sehari-hari.

Yang terpenting bagi dr. Nurlan adalah fokus pada output yang akan diberikan, sehingga materi harus terukur dan practicable. Tidak hanya teori tapi juga contoh kasus agar trainee dipersiapkan untuk menghadapi common situation. Dokter Nurlan mengingatkan bahwa dalam ilmu kedokteran, pastikan trainee tidak hanya menghafal materi tapi juga memahami dan mengasah strategic thinking. Jika materi dibungkus dalam sebuah cerita yang sifatnya personal, maka mereka akan fokus dan menaruh perhatian karena pesan ini dianggap penting bagi mereka.

“Tentu saja tidak akan mudah untuk semua orang, karna ada juga yang tidak nyaman berbicara di depan publik. Makanya perlu banyak latihan, karena harus disadari bahwa pesan yang kita sampaikan ini akan membuat sebuah kesan dan menghasilkan feedback, apakah orang akan tertarik untuk berelasi nantinya, mau untuk berjejaring dengan kita. Jadi ketika memberikan materi, perhatikan juga penampilan kita. Misalnya pakai warna-warna cerah, tersenyum dan ramah supaya memberikan aura positif,” jelas dr. Nurlan.

Komunikan tidak dapat menerima pesan secara bulat-bulat. Pesan yang diterima harus dicerna bahkan mungkin dalam waktu yang cukup lama dan berkesinambungan, sehingga penting untuk melakukan follow up dengan trainee.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *