Kisah Eddie Howe, Pelatih Muda Paling Berbakat di Inggris

  • Bagikan
10 Foto Ada Hegerberg, Pemenang Ballon d'Or Wanita Pertama


“Main bareng Frank Lampard dan Jamie Carragher di Inggris U-21. Tapi, cedera mengubah kariernya.”

TOPNEWS.MY.ID – Mantan pelatih Burnley dan Bournemouth, Eddie Howe, sedang dikaitkan dengan rezim baru Newcastle United. Pelatih berusia 43 tahun itu dikabarkan masuk daftar untuk mengambil alih kursi Steve Bruce di St James’ Park.

Jika di Portugal ada Andre Villas-Boas dan di Jerman terdapat Julian Nagelsmann, Juergen Klopp, hingga Thomas Tuchel; maka Inggris memiliki Howe. Mereka dikenal sebagai pelatih sepakbola yang memulai karier di usia sangat muda.

Howe memulai karier pada Desember 2006, dalam usia 29 tahun, ketika ditunjuk menjadi pemain merangkap asisten pelatih oleh Pelatih Bournemouth, Kevin Bond. Secara khusus, Howe ditugaskan melatih tim cadangan sambil terus bermain di tim utama The Cherries.

Enam bulan kemudian, Howe pensiun sebagai pemain setelah tidak dapat pulih dari cedera lutut. Tapi, pada September 2008, Howe kehilangan pekerjaan sebagai pelatih tim cadangan ketika Bond dipecat sebagai pelatih kepala Bournemouth. Dia diturunkan menjadi pelatih akademi.

Tapi, itu tidak berlangsung lama. Ketika Jimmy Quinn, yang menggantikan Bond, diberhentikan pada akhir tahun, Howe ditunjuk menjadi pelatih kepala. Entah bagaimana ceritanya, dia berhasil menyelamatkan klub dari degradasi, meski sempat tertinggal 17 poin dari zona aman. Selanjutnya, seperti yang sudah menjadi sejarah.

Mantan pemain yang tak terlalu buruk

Sebelum menjadi pelatih muda berbakat di Liga Premier, Howe juga memulai karier sepakbola sebagai pemain bersama Bournemouth. Dia melakukan debut untuk tim dari Pantai Selatan tersebut pada usia 18 tahun.

Tiga tahun kemudian, Howe secara mengejutkan dipanggil ke tim nasional Inggris U-21 untuk Toulon Tournament bersama Frank Lampard, Jamie Carragher, dan Emile Heskey. Yang paling mengejutkan dari pemilihan itu adalah dia satu-satunya pemain League One dalam skuad.

Pada 2002, saat menukangi Portsmouth, Harry Redknapp mengontrak bek tengah itu dengan transfer 400.000 pounds (Rp7,7 miliar). Dan, dirinya sepertinya ditakdirkan untuk tampil di panggung besar.

Sayang, takdir berkata lain. Hanya dalam pertandingan keduanya untuk klub saat melawan Nottingham Forest, Howe mengalami cedera yang akan mempengaruhi karier sepakbolanya seumur hidup.

Saat itu, dia sedang berusaha melompat untuk menyundul bola. Saat mendarat, Howe mendengar bunyi di lutut kirinya. Ternyata, tempurung lututnya lepas dan membuat tulang di bawah lututnya terkelupas. Dia lalu menjalani dua operasi. Tapi, dokter gagal menemukan solusi. Bahkan, dia masih merasakan sakit ketika mencoba berlari setelah sembuh.

Howe kemudian mengunjungi spesialis lutut Dr. Richard Steadman, pria yang membangun kembali lutut Alan Shearer dan Ronaldo. Sang dokter mengatakan kepadanya bahwa dia akan bisa bermain sepakbola lagi. Tapi, tidak pada level yang sama.

“Pada akhirnya, saya adalah bayangan dari pemain yang pernah saya miliki. Saya sangat ingin menyelesaikannya (sebagai pemain). Sementara orang-orang mengingat saya sebagai pelatih daripada menjadi pemain,” kata Howe dalam sebuah kesmepatan, dilansir The Telegraph.

“Itu sangat sulit, karena tantangan terbesar yang saya temukan ketika saya kembali adalah saya tidak seefektif itu. Saya telah kehilangan banyak hal yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Kecepatan saya, kemampuan berbelok saya, lompatan saya, semuanya hilang,” tambah Howe.

“Saya tidak terlalu besar untuk bek tengah. Jadi saya harus melompat dengan baik dan itu adalah salah satu kekuatan saya. Semua orang dengan cepat melupakan siapa anda dan menilai anda apa adanya. Saya tidak terlalu baik. Saya menemukan periode karier saya itu sangat, sangat sulit,” ungkap Howe.

Howe kemudian pergi ke Swindon Town dengan status pinjaman pada 2004. Tapi, dia tidak mendapatkan menit bermain. Kemudian masa peminjaman yang sukses di Bournemouth pada tahun yang sama memberinya harapan baru, yaitu menampungnya sebagai pelatih setelah pensiun dini.

TOPNEWS.MY.ID Bournemouth dan Burnley

Pada 2011, masa depan Howe menjadi subyek spekulasi dengan banyak klub menginginkan dirinya. Tapi, dia justru bergabung dengan Burnley. Setahun kemudian dia diguncang dengan kematian ibudannya, Anne.

Kematian sang ibu sempat menganggu karier Howe di Burnley. Dia tidak nyaman di sana sehingga memutuskan kembali ke Bournemouth pada 2012. Tiga tahun kemudian dia membuat klubnya dipromosikan ke Liga Premier. “Kematian ibu saya tentu saja mengubah perspektif saya tentang banyak hal, tentang kehidupan, karier saya, dan segalanya,” kata Hoew kepada Bournemouth Daily Echo.

“Ketika hal seperti itu terjadi, itu membuat anda mengevaluasi kembali dan menyadari apa yang benar-benar penting. Itu sangat sulit untuk dihadapi. Ketika anda kehilangan seseorang yang anda cintai dengan tiba-tiba, sangat sulit untuk menerimanya,” ungkap Howe.

“Itulah mengapa kembali ke daerah ini (Bournemouth) dan ke klub ini. Di sini benar-benar menghibur saya. Itu tentu berdampak besar dalam kehidupan pribadi saya dan membuat saya jauh lebih bahagia di luar lapangan. Saya lebih dekat dengan orang-orang yang mengenal saya secara personal,” tambah Howe.

Mendedikasikan kariernya untuk sang ibu

Howe sangat menyadari bahwa dia berada di tempatnya sekarang karena dibesarkan oleh ibunya, yang sangat dia syukuri. “Saya pikir cara saya dibesarkan oleh ibu saya dan pondasi yang dia berikan kepada saya memainkan peran besar,” kata Howe kepada The Telegraph. 

“Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa orang tua dan pengalaman masa kecil anda sangat penting. Saya diberi beberapa nasihat yang sangat bagus. Saya dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan itu membuat saya sangat fokus pada pekerjaan saya,” tambah Howe.

“Kepergian ibu telah membuat saya untuk mengingat lebih banyak hal untuk mengenangnya. Steve (adik) dan saya gila sepakbola. Tentu saja saja kami saling menginspirasi untuk bermain. Kami sangat dekat dengan ibu kami, berjalan-jalan dengan anjing atau menonton, atau terkadang bertindak sebagai penjaga gawang,” ungkap Howe.

“Ibu akan mendukung kami dalam apa pun yang ingin kami lakukan dan terkadang itu membuat kami termotivasi. Dia adalah inspirasi besar dalam hidup saya karena saya ingin melanjutkan awal yang baik yang dia berikan kepada saya. Saya ingin memastikan bahwa saya tidak menyia-nyiakannya,” pungkas Howe.

(diaz alvioriki/anda)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *