Bima Arya: Penanganan Covid-19 Indonesia Lebih Baik Dibanding Singapura

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID, Yogyakarta – Wali Kota Bogor yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Bima Arya menilai penanganan kasus Covid-19 di Indonesia lebih baik dibanding sejumlah negara, seperti Singapura, Thailand, juga Australia.

Bima pun merujuk sejumlah tren penurunan kasus yang cukup signifikan, utamanya di Pulau Jawa-Bali beberapa waktu terakhir dan di saat bersamaan kasus baru justru meledak di Singapura.

“Penurunan kasus Covid-19 yang cukup baik di Indonesia ini kuncinya dua, rantai birokrasi yang cukup efektif dan adanya kolaborasi antarbirokrasi,” kata Bima Arya dalam forum pertemuan wali kota se-Indonesia yang digelar di Yogyakarta, Rabu, 13 Oktober 2021.

Bima menjelaskan kolaborasi dan sinergi rantai birokrasi itu terbukti ampuh menangani dan menekan kasus penularan Covid-19.

Kolaborasi dan rantai birokrasi yang dimaksud, ujar Bima, contohnya ketika para kepala daerah hampir setiap minggu tak hanya sekedar berkoordinasi dengan pemerintah pusat, namun juga intens turun langsung ke masyarakat mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga perkampungan dan desa untuk memantau langsung penanganan Covid-19.

“Jadi semua elemen itu jalan, memantau penanganan di lapangan. Ini yang mungkin tidak dimiliki oleh Singapura, Thailand, dan bahkan Australia,” kata Bima.

Bima mengatakan dengan melandainya kasus Covid-19 dan semakin luasnya vaksinasi yang digencarkan, bisa menjadi antisipasi munculnya gelombang ketiga ataupun serangan-serangan dari varian baru berikutnya.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang juga hadir dalam pertemuan itu mengatakan perkembangan kasus Covid-19 di Kota Solo kini juga dalam tren cukup baik. “Yang jelas Solo kan sekarang sudah turun ke level 2 (PPKM-nya), ditambah capaian vaksin hingga kemarin malam saya cek 123 persen,” kata Gibran.

Gibran menuturkan, dengan kondisi penurunan itu, pihaknya berharap sejumlah kegiatan lebih diperlonggar lagi. Salah satunya kegiatan sepakbola yang bisa ditonton langsung suporter dengan jumlah terbatas dan protokol kesehatan ketat. “Intinya kami siap, jika penonton diizinkan masuk stadion,” ujarnya.

Gibran menuturkan, selama ini Solo pun sudah berpengalaman menjadi tuan rumah. Salah satunya Piala Menpora lalu. “Dari Piala Menpora itu benar-benar tidak ada kasus penularan kemarin, jadi tuan rumah Liga 2 masih berjalan tidak ada kasus juga,” kata Gibran.

Gibran menuturkan dengan agenda minggu depan di mana Solo kembali jadi tuan rumah Liga 1 pihaknya juga menyatakan siap menggelarnya. “Sekali lagi, ini bukan urusan bola saja tetapi urusan percepatan ekonomi, pemulihan ekonomi. Jadi ya saya sangat mendukung tapi tetap menunggu arahan dari pemerintah pusat,” kata Gibran.

Hanya saja, Gibran menuturkan, untuk mengantisipasi potensi penularan Covid-19 dengan masuknya penonton ke stadion, ia mengatakan butuh standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dan baku. “SOP untuk antisipasi penularan kasus itu sudah kami jalankan sekarang, bahwa yang menonton langsung itu salah satunya harus sudah divaksin dulu,” kata dia.

Selain itu saat masuk stadion wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi. “Yang penting standarnya jalan. Kan selama ini sekolah-sekolah sudah tatap muka juga tidak ada kasus-kasus baru juga, jadi kami pun siap (sepakbola dengan penonton),” kata dia.

Baca:
Guru Besar FKUI Bicara Potensi Gelombang Ketiga Covid-19 di Indonesia



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *