Bertengkar, Ayah dan Bunda Harus Beri Penjelasan pada Anak

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID, Bertengkar dan berdebat adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan pernikahan. Hal ini seringkali dianggap sebagai “bumbu” dalam pernikahan. Namun, dari sisi parenting, pertengkaran bisa membawa dampak negatif untuk kesehatan fisik dan mental anak. Terutama jika itu terjadi di hadapan anak secara langsung. 

Moms dan Dads mungkin mengira Si Kecil tak akan mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi mereka ternyata menyadari bahwa orang tuanya sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

“Banyak orangtua percaya bahwa isi diskusi mereka terlalu rumit untuk dipahami oleh anak-anak, jadi tidak apa-apa untuk saling berargumen ini di depan balita,” kata Samantha Rodman, seorang psikolog berlisensi, dikutip TOPNEWS.MY.ID pada Rabu, (13/10/2021). 

“Namun, bahkan bayi pun dapat menangkap ketegangan, nada marah atau kesal, dan bahasa tubuh, yang menyebabkan mereka merasa ditinggalkan, frustrasi, takut, dan sedih,” tegasnya. 

Lebih lanjut, Sherrie Campbell, terapis dan psikolog yang berbasis di Los Angeles, mengatakan bahwa balita mungkin lebih sadar ketika orangtua mereka bertengkar daripada anak yang lebih besar.

“Balita belum membangun pertahanan apa pun untuk konflik. Mereka dapat merasakan energi emosional TOPNEWS.MY.ID orangtua dan sangat sensitif terhadapnya,” kata Campbell. 

Ketika Si Kecil menyaksikan Moms dan Dads bertengkar, mereka akan bingung, khawatir dan takut. Tak jarang pula dia mengambil kesimpulan yang tidak sehat dan memengaruhi masa depannya.

Jadi, sangat penting untuk berbicara dengan Si Kecil tentang pertengkaran tersebut. Jangan sampai Si Kecil mempunyai pemikiran sendiri yang pada akhirnya berdampak negatif untuk masa depannya.

Tapi sebelum itu, pastikan kamu sudah siap secara emosional, begitu juga dengan Si Kecil. Setelah bertengkar mungkin bukan waktu terbaik untuk berdiskusi. 

“Ini seperti aturan keselamatan. Kamu tidak dapat membantu anak ketika masih marah atau dalam proses menenangkan diri,” kata Shanna Donhauser, terapis keluarga dan spesialis kesehatan mental.

“Jangan lakukan ini sampai kamu tenang. Itu kemungkinan akan mengaktifkan kembali emosimu,” imbuhnya.

Setelah tenang, hampiri Si Kecil dan ceritakan yang Moms dan Dads rasakan. Sebagai orang tua, kamu juga berkewajiban menjelaskan bahwa perselisihan adalah bagian dari menjalin hubungan. Ini akan mengajar dan memberi contoh kepada anak terkait konflik yang sehat. Ingat, penjelasan tentang apa itu bertengkar perlu disesuaikan dengan usia anak.

Jelaskan pula tentang emosi yang mungkin Si Kecil rasakan saat ini. Pasalnya, Si Kecil mungkin tidak memahami apa yang sedang dia rasakan, jadi bantu dia. Lebih lanjut, anak mungkin merasa bersalah atau bertanggung jawab atas pertengkaran tersebut. Yakinkan anak bahwa kamu mencintainya, dan pertengkaran itu bukan salahnya.

Tentu, penjelasan saja tidak cukup. Tunjukkan pula bahwa semua baik-baik saja. Hubungan Moms dan Dads tetap baik-baik saja. Cobalah untuk mengajaknya pergi jalan-jalan ke taman, naik sepeda, atau hanya bermain bersama. Ini akan memperlihatkan bahwa tidak ada  yang perlu dikhawatirkan dan ditakutkan setelah pertengkaran Moms dan Dads.[]



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *