Awas Klaster Baru PTM Terbatas, Disiplin Protokol Kesehatan Harus yang Utama

  • Bagikan


CANTIKA.COM, Jakarta – Pihak sekolah, murid dan orang tua perlu disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka alias PTM terbatas agar tidak tercipta klaster baru di sekolah, kata Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Sri Wahyuningsih. “Ketika protokol kesehatan tidak diterapkan dengan baik, kekhawatirannya akan terjadi klaster-klaster baru,” kata Sri dalam acara Indonesia Hygiene Forum ke-8 “Sekolah dan Anak Taat Protokol Kesehatan: Kunci Keamanan Pembelajaran Tatap Muka” oleh Unilever, Rabu 13 Oktober 2021.

Dia menegaskan, pengawasan penerapan protokol kesehatan dari berbagai pihak penting untuk memastikan kelancaran pembelajaran tatap muka terbatas di tengah pandemi COVID-19. Berdasarkan hasil kunjungannya ke beberapa lokasi, ia melihat bahwa ada beberapa tempat yang masih belum disiplin menerapkan protokol kesehatan. Sri menilai ada euforia di mana anak-anak kembali bersekolah dan berinteraksi seperti sebelum ada COVID-19. “Padahal kita belum betul-betul merdeka dari COVID-19. Ada anak-anak yang tidak pakai masker, ada yang berdekatan dengan temannya, harus ditekankan ke seluruh pihak untuk pengawasan bersama,” katanya.

Pembelajaran tatap muka saat ini, kata Sri, adalah solusi untuk mencegah penurunan capaian belajar para siswa. Sebab, dari temuan-temuan badan internasional hingga lembaga pemerintah ditemukan fakta bahwa ada kesenjangan capaian belajar akibat perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh, terutama untuk anak dari sosial-ekonomi berbeda.

Studi juga menemukan bahwa pembelajaran di kelas menghasilkan capaian akademik lebih baik dibandingkan sekolah dari rumah secara jarak jauh. Selain itu, ada temuan penurunan 0,44-0,47 standard deviasi yang sama dengan ketertinggalan lima hingga enam bulan pembelajaran per tahun. “Bayangkan jika capaian pembelajaran tidak dicapai atau ada kemunduran satu semester, akan sangat memprihatinkan,” kata Sri.

Fakta-fakta tersebut mendorong lagi pembelajaran tatap muka, sebab kegiatan belajar saat pandemi dampaknya minimal atau bahkan tidak ada karena tidak semua anak didukung fasilitas mumpuni, pun kemampuan orangtua dalam membimbing anak belajar di rumah juga bervariasi.

Dia mengatakan, ketersediaan fasilitas kesehatan di sekolah-sekolah sudah cukup baik, seperti adanya UKS (Unit Kesehatan Sekolah) hingga sanitasi yang baik. Sri menekankan, yang terpenting bukan soal fasilitas yang bagus, melainkan fungsi yang maksimal. “Mari kita fungsikan semua fasilitas kesehatan di satuan pendidikan dengan lebih baik agar PTM terbatas di sekolah menjadi kondusif,” katanya.

Chief of Water, Sanitation and Hygiene (WASH) Unicef Indonesia Kannan Nadar mengatakan ada banyak dampak negatif pada anak-anak dari penutupan sekolah yang berkepanjangan dan konsekuensinya semakin parah. Beberapa kelompok yang paling rentan mengalami dampak negatif itu adalah anak yang tinggal di pedesaan, daerah terpencil, serta mereka yang memiliki disabilitas. Kondisi ini termasuk meningkatnya angka putus sekolah, penurunan prestasi belajar anak-anak dengan banyaknya peserta didik yang diperkirakan akan mengalami kehilangan belajar, serta dampak pada kesejahteraan psikososial dan kesehatan mental mereka yang disebabkan oleh isolasi sosial yang berkepanjangan – dikombinasikan dengan ketidakpastian ekonomi. “Di masa PTM terbatas ini, ketersediaan fasilitas air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH) sangat penting untuk kelancaran sekolah. Cuci tangan pakai sabun perlu diprioritaskan di semua sekolah, permukaan yang bersentuhan harus secara rutin didesinfeksi, dan dana Bantuan Operasional Sekolah perlu secara kreatif digunakan untuk meningkatkan akses WASH dengan tetap menjaga fasilitas yang ada,” katanya.

Keamanan siswa juga menjadi poin utama dari PTM terbatas. Hal ini terutama perlu diperhatikan oleh anak-anak di tingkat sekolah dasar. Mengingat vaksin saat ini baru diberikan kepada anak yang berusia di atas 12 tahun. Selain itu ancaman terkait Long COVID-19 pada anak-anak juga perlu menjadi perhatian khusus. Penelitian dari Stephenson, et al. (2021) menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak yang terkena COVID-19 masih memiliki gejala sampai dengan 15 minggu kemudian .

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Reski Damayanti mengatakan Unilever Indonesia berkomitmen untuk turut mengambil peran, membantu Indonesia menangani pandemi melalui berbagai jenis dukungan. “Sebagai perusahaan yang memproduksi produk-produk yang dekat keseharian masyarakat, kami memiliki peran untuk menyediakan produk kebersihan dan higienitas yang berkualitas serta mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat serta penerapan protokol kesehatan,” katanya.

Baca: Lihat Dua Anaknya Ikuti PTM, Nadiem Makarim : Saya Hampir Nangis

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *