Trik Menghadapi Suami Pemarah

  • Bagikan
Trik Menghadapi Suami Pemarah


Dalam pernikahan jelas tak selalu diisi dengan pelangi dan cerita bahagia. Di beberapa hari tertentu, kita juga harus menghadapi “hari yang buruk” karena pasangan marah terhadap suatu hal dan suasana di rumah menjadi tak nyaman.

 

Ada satu pertanyaan awal sebelum kita membahasnya lebih lanjut: Apakah suami mudah marah karena hal-hal kecil dan membuat Mums merasa tidak dapat melakukan apa pun dengan benar di hari itu? Jika ya, artikel ini untuk Mums.

 

Mengapa Suami Marah karena Hal-Hal Kecil?

Untuk beberapa orang, hal kecil atau sepele adalah sesuatu yang tak perlu dipikirkan lebih dari 10 menit. Namun, berbeda untuk seseorang yang justru semakin mudah kesal dan jengkel karena hal-hal kecil. Dampaknya, sebagai seseorang di dekatnya, kita seperti berjalan di atas kulit telur yang dengan mudah retak lalu pecah jika salah melangkah. 

 

Gambaran ini yang mungkin Mums hadapi jika memiliki pasangan yang mudah marah atau kesal terhadap hal-hal kecil. Maka, wajar jika kondisi ini membuat Mums bertanya-tanya, “Mengapa suami selalu kesal dengan saya? Apakah itu salah saya? Bagaimana saya menghadapinya?”

 

Catatan pertama, jangan kehilangan harapan dulu ya, Mums. Tetap ada solusi untuk masalah ini dan itu dimulai dari diri sendiri. Ingin tahu apa yang harus dilakukan? Sebelumnya, ada satu hal penting hal yang perlu Mums ketahui: Kemarahan suami tidak ada hubungannya dengan Mums. Ya, yang Mums harus pahami adalah bahwa meskipun kejengkelan dan ketidakpuasannya ditujukan kepada Mums, itu tidak ada hubungannya dengan Mums.

 

Ini rahasianya, ia sebenarnya marah dengan dirinya sendiri. Ia sendiri yang membuat dirinya kesal. Ini adalah caranya untuk mengungkapkan ketidakbahagiaan di dalam dirinya yang dipendam. 

 

Seperti kebanyakan orang, saat marah ketika merasa “tidak berguna” atau “tidak berdaya”, kita akan melampiaskannya kepada orang lain untuk disalahkan. Dalam kondisi rumah tangga, suami menemukan orang yang paling mudah dan terdekat untuk disalahkan adalah sang Istri.

 

Ada ratusan kemungkinan mengapa seseorang bisa merasa tidak bahagia. Mungkin ini ada kaitannya dengan pola asuh orang tua terdahulu yang membesarkannya terlampau kritis dan menghakimi, sehingga membuatnya merasa tidak cukup baik apa pun yang ia sudah lakukan. Hal ini lalu bisa saja membuatnya memiliki harapan yang tidak realistis dari dirinya sendiri, pernikahannya, dan semua orang di sekitarnya.

 

Kemungkinan lainnya adalah mungkin ia frustrasi karena menginginkan banyak hal, namun merasa atau tidak yakin ia pernah bisa mendapatkannya. Intinya, kemarahannya pada hal-hal kecil tidak ada hubungannya dengan Mums. Tidak peduli seberapa besar Mums mencintai atau melayaninya, tidak ada yang dapat Mums lakukan untuk itu. Pasalnya, ia adalah satu-satunya yang menciptakan realitasnya sendiri.

 

Pada akhirnya, ketika ia merasa lebih baik tentang dirinya sendiri, seluruh sikapnya terhadap Mums akan berubah. Kemarahannya akan mereda lalu hilang. Ia akan kembali dapat melihat Mums sebagai istri, ibu dari anak-anaknya, dan sahabatnya yang luar biasa. Hal-hal yang tidak dapat ia lihat saat marah,

 

Baca juga: Masalah yang Paling Sering Bikin Orang Tua Bertengkar di Tahun Pertama Kelahiran Bayi

 

Bagaimana Cara Terbaik Menghadapi  Suami yang Pemarah?

Tentu enggak nyaman ya Mums, berada di dalam satu rumah atau ruangan dengan seseorang yang marah pada kita. Apalagi, kemarahan bagaikan radiasi yang memancar dan menular ke orang di sekitarnya. Bisa-bisa, Mums pun terpancing dengan sikapnya yang menjengkelkan lalu perselisihan semakin meruncing. Rugi tentu, hanya karena kecil lalu mengacaukan banyak hal. Inginnya masalah ini bisa diselesaikan dengan cepat. Atau jika tidak bisa selesai dengan cepat, bisa Mums hadapi dengan baik.

 

Hanya ada satu hal yang dapat Mums lakukan ketika berada di dalam situasi tak mengenakkan ini dan itu tidak memerlukan tindakan apa-apa. Mums cukup mengubah cara berpikir, yaitu dengan tidak memfokuskan pikiran Mums pada sikap suami. Karena seperti hukum alam, apa yang menjadi fokus pikiran kita, maka hal tersebut menjadi lebih besar. Jika Mums fokus pada sifat lekas marah dan kemarahan suami, hal tersebut pun akan menjadi lebih besar.

 

Di sisi lain, yang bisa Mums fokuskan untuk lakukan sekuat tenaga adalah mengingat hal positif tentang suami. Inilah yang harus Mums lakukan:

1. Duduklah selama 3 menit setiap hari dan tulis hal-hal yang Mums syukuri dari suami. 

Contohnya seperti:

  • Ia adalah suami yang membolehkan Mums untuk memiliki karier.
  • Ia adalah cinta pertama Mums.
  • Ia bisa membuat Mums tertawa dengan hal paling sederhana sekalipun.
  • Ia adalah laki-laki yang Mums inginkan untuk membangun keluarga bersama.
  • Ia adalah menantu yang hormat dan sopan pada orang tua Mums.

 

Dan banyak hal positif lain yang bisa terus ditemukan jika Mums melakukan ini dengan sungguh-sungguh.

 

Baca juga:  Mengecek Ponsel Suami Merusak Pernikahan?

 

 

2. Pikirkan kembali dan ingat saat-saat menyenangkan atau momen-momen berharga yang Mums alami bersama. 

Ingatlah bagaimana kehadiran suami di setiap fase kehidupan Mums selama bertahun-tahun. Dengan cara berpikir seperti ini, Mums pun memahami bahwa laki-laki di hadapan Mums yang sayangnya sedang marah ini, adalah pilihan Mums untuk Mums nikahi. Laki-laki yang Mums sayang, hormati, dan rindukan itu ada di sana, bersembunyi di suatu tempat di bawah depresi dan kemarahannya. Dan ia masih mencintai Mums dengan sepenuh hatinya walau saat ini ia marah. Terapkan pemikiran ini setidaknya selama 10 menit setiap hari. Dan ketika Mums selesai, lepaskan. 

 

Cobalah lakukan kedua cara di atas secara rutin selama 30 hari dan Mums mungkin memiliki sudut pandang baru terhadap suami. Mums akan menemukan bahwa diri Mums mampu melihat hal-hal nyata yang mengganggunya.

 

Walau ia menjadi menjengkelkan karena pemarah, Mums dapat mendorongnya untuk mengikuti mimpinya, melakukan apa pun yang dia butuhkan untuk bahagia lagi, serta untuk mencintai dirinya sendiri lagi. Mums dapat memberi tahunya bahwa Mums percaya ia adalah pria yang kuat, mampu mencapai apa pun yang dia inginkan, dan bahwa ia berdaya.

 

Lalu, bagaimana jika suami mengulangi kemarahannya? Tentu saja, emosi akan datang dan pergi. Maka, ketika ia kesal lagi, abaikan saja. Anggap saja sebagai ilusi. Mimpi. Acara TV yang tidak nyata. Terima saja sikap menjengkelkannya, tapi jangan dimasukkan ke dalam hati. Dan ingat, penyebab kemarahannya tak ada kaitannya dengan Mums.

 

Satu-satunya kenyataan yang Mums terima mulai sekarang adalah yang ada di daftar Mums. Dengan cara ini pun, Mums sebenarnya sudah melakukan banyak hal untuk diri Mums sendiri. Mums merasa lebih berdaya, tenang, dan paham dengan situasi yang ada. Selanjutnya jika Mums seperti ini, dampak positifnya pun akan “merambat” ke si Kecil. Ia akan merasa lebih tenang dan tumbuh bahagia karena melihat bahwa ibunya kuat dan berdaya.

 

Bagaimana? Tertarik untuk mencoba cara ini?

 

Baca juga: Jangan Lewatkan Afterplay Setelah Berhubungan Seks!

 

Referensi:

Good Therapy. Dealing with Angry Partner

How to Save A Marriage. Irritated Partner



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *