Mental dan Kesehatan Anak di Tengah Pandemi Covid-19 Harus Dijaga

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID – Ketua Bidang Koordinasi Relawan (BKR) Satgas Covid-19, Andre Rahadian menyampaikan, kondisi pandemi ini telah merubah tatanan sosial. Bukan hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga pada aspek sosial dan edukasi anak-anak dalam aktivitas keseharian. Dampaknya, kemampuan pertumbuhan anak menjadi terhambat.

“Hal ini menjadi satu tantangan ekstra bagi orang tua dalam membimbing anaknya,” kata Andre dalam keterangannya, Jumat (23/7).

Andre mengharapkan, bisa tercipta rumusan dan usulan action plan untuk menjaga kesehatan jiwa anak-anak terutama disabilitas. Dia pun meminta, kepada keluarga di Indonesia untuk terus taat menerapkan protokol kesehatan sebagai contoh positif untuk diadaptasi oleh seluruh anak-anak.

Sementara itu, Asisten Deputi Khusus Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Elvi Hendriani mengungkapkan, seyogyanya tanggung jawab dalam melindungi anak di era pandemi dapat dilakukan secara bersama. Dia menuturkan, orang tua bertanggung jawab dalam hidup dan tumbuh kembang.

“Negara berkepentingan untuk mendayagunakan sumber daya dalam melindungi anak dan haknya, masyarakat berpartisipasi dalam menerapkan tanggung jawab orang tua dan kewajiban negara, dan yang terakhir anak itu sendiri sebagai subjek yang harus sadar mengenai hak-hak yang diterimanya,” ucap Elvi.

Senada disampaikan psikolog anak, Seto Mulyadi. Dia mengungkapkan, dunia anak adalah dunia bermain. Namun, permasalahannya adalah di era pandemi ini akses pembelajaran dan bermain dibatasi, sehingga anak-anak kini terpaksa untuk berinteraksi secara daring.

“Akibatnya anak-anak menganggap interaksi ini membosankan dan sulit, hal ini menyebabkan hasil belajar menjadi tidak optimal dan rentan mengakibatkan konflik dalam keluarga yang mampu berujung pada kekerasan terhadap anak,” ujar Seto.

Pria yang karib disapa Kak Seto ini pun mengungkapkan, dampaknya anak-anak menjadi gelisah, susah tidur, bosan, malas belajar, bahkan suka marah. Untuk menjawab permasalahan ini, lanjut Seto, orang tua dan guru memegang peranan penting untuk mampu menciptakan suasana belajar yang lebih ramah anak serta membuat kurikulum pendidikan yang lebih berpihak pada hak anak.

“Lebih jauh lagi, diharapkan orang tua dapat menjadi sosok idola anak dengan mencontohkan sikap dan perbuatan yang bijak dan positif sesuai dengan zamannya. Saya yakin kita semua dapat belajar. Stop kekerasan dalam dunia pendidikan dan wujudkan impian kondisi rumah yang ramah anak,” ujar Seto menandaskan.

Editor : Edy Pramana

Reporter : ARM, Muhammad Ridwan



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *