Miris! Militer Myanmar Diduga Penjarakan Sejumlah Dokter saat COVID-19 Merajalela

  • Bagikan
Miris Militer Myanmar Diduga Penjarakan Sejumlah Dokter saat COVID-19 Merajalela - Foto 1


TOPNEWS.MY.ID, Militer Myanmar telah menangkap sejumlah dokter yang merawat pasien COVID-19 secara mandiri. Pasalnya, para dokter tersebut mendukung protes antijunta. Padahal, sistem kesehatan negara tersebut sedang berjibaku mengatasi gelombang rekor infeksi.

Dilansir dari Reuters, sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi, gejolak aksi protes telah menyebabkan penanganan COVID-19 di Myanmar menjadi kacau. Menurut para aktivis, sejumlah dokter ditangkap karena berperan penting dalam gerakan pembangkangan sipil.

Myanmar mencatat lebih dari 6 ribu infeksi baru virus corona pada Kamis (22/7) setelah melaporkan 286 kematian sehari sebelumnya. Keduanya merupakan rekor tertinggi. Menurut petugas medis dan layanan pemakaman, jumlah kematian sebenarnya jauh lebih tinggi, sampai-sampai krematorium tak mampu mengimbangi.

Untuk membantu warga yang menolak pergi ke rumah sakit pemerintah atau tidak kebagian tempat tidur di rumah sakit, sejumlah dokter yang berpartisipasi dalam kampanye antijunta menawarkan konsultasi medis gratis melalui telepon. Mereka juga mengunjungi orang sakit di rumah untuk kasus tertentu.

REUTERS

Namun, menurut laporan para dokter dan media dalam beberapa  pekan terakhir, 9 dokter relawan yang menawarkan pengobatan jarak jauh dan layanan lainnya telah ditahan oleh militer di 2 kota terbesar Myanmar, Yangon dan Mandalay. Di sisi lain, tim informasi Dewan Administrasi Negara yang dipimpin militer menyangkal laporan 5 dokter telah ditangkap di Yangon. Mereka juga mengabaikan dugaan penangkapan di Mandalay, termasuk para dokter yang aktif dalam gerakan pembangkangan sipil.

Seorang dokter yang tak mau disebutkan namanya mengungkapkan bahwa 4 rekannya dari ‘Keluarga Medis-kelompok Mandalay’ telah ditangkap. Mereka termasuk Kyaw Kyaw Thet, yang mengajar mahasiswa kedokteran, dan ahli bedah senior Thet Htay, yang dilihat saksi mata diborgol dan memar sebelum dibawa pergi pada 16 Juli. Kelompok mereka dibentuk untuk memberi tahu penderita virus corona melalui telepon tentang cara mengatur napas, cara menggunakan konsentrator oksigen, obat-obatan apa yang harus dibeli, dan anjuran pemakaiannya.

“Kami telah memberikan perawatan medis kepada ratusan pasien per hari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa banyak pasien yang terancam meninggal jika tidak ditangani.

Sementara itu, menurut laporan media dari Yangon, 3 dokter dari kelompok tanggap COVID-19 ditangkap setelah dibujuk ke sebuah rumah oleh tentara yang berpura-pura membutuhkan perawatan. Laporan ini telah dibantah oleh junta. Mereka juga membantah laporan portal Myanmar News bahwa pasukan keamanan telah menangkap 2 dokter dalam penggerebekan lanjutan di kantor mereka di distrik Dagon Utara, Yangon.

Pemerintah Persatuan Nasional, yang dibentuk sebagai pemerintahan bayangan oleh lawan militer, dan laporan media juga menuduh pasukan keamanan mengambil tabung oksigen, pakaian pelindung, dan obat-obatan dalam penggerebekan itu untuk mereka gunakan sendiri.

Miris Militer Myanmar Diduga Penjarakan Sejumlah Dokter saat COVID-19 Merajalela - Foto 2
REUTERS

Tidak jelas mengapa ada dokter yang ditahan. Namun, sebelumnya, militer juga menangkap tenaga kesehatan atas dukungan mencolok mereka terhadap gerakan pembangkangan sipil.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, ratusan dokter yang bergabung dengan kampanye antijunta telah didakwa menyebarkan berita palsu, sedangkan 73 lainnya ditahan. Kekurangan tenaga kesehatan di rumah sakit dan klinik pun menambah ketidakpercayaan publik terhadap junta.

Seorang juru bicara junta mendesak masyarakat pekan lalu agar bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi pandemi. Menurut sejumlah dokter, penangkapan terakhir itu bisa menjadi upaya untuk memaksa warga agar lebih mengandalkan pemerintah militer.

Menyangkal penangkapan yang dilaporkan di Yangon, pemerintahan militer merujuk pada informasi tentang pasien COVID-19 yang dirawat diam-diam, lalu dikenakan harga tinggi atau diarahkan ke pengobatan daring. Menurut mereka, itu menambahkan jumlah nyawa yang melayang sia-sia.

Di sisi lain, menurut Yanghee Lee, mantan pelapor khusus PBB untuk HAM di Myanmar, junta memanfaatkan COVID-19 sebagai senjata demi keuntungan politiknya sendiri. []



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *