Kehilangan Orang Terkasih di Masa Pandemi: Belajar Melepaskan Sosok yang Tak Tergantikan

  • Bagikan


Disclaimer: Kabar kematian yang semakin sering terdengar dan munculnya orang-orang tanpa empati. Fenomena ini mendorong Hipwee untuk mewawancari mereka yang kehilangan orang terkasih di masa pandemi. Cerita meraka adalah nyata. Beberapa nama sengaja disamarkan demi menjaga privasi.

Suara sirene ambulans tak pernah absen setiap hari. Kabar-kabar kematian pun semakin sering terdengar. Berita soal rumah sakit penuh, tabung oksigen langka, dan tangis kehilangan tak ubahnya ‘santapan’ sehari-hari. Di masa pandemi Covid-19 yang kian memburuk, nyatanya suara-suara tanpa empati masih saja bermunculan. Entah apa yang dipikirkan sampai mereka membandingkan angka kematian di Indonesia yang lebih rendah dengan angka kematian negara lain seperti Inggris. Seolah angka kematian yang “lebih kecil” ini patut dimaklumi dan dibanggakan. Padahal, mereka bukan sekadar angka. Angka itu adalah nyawa manusia — suami, istri, anak, kakak, adik, orangtua, teman dekat, dan saudara — yang tak akan pernah bisa tergantikan posisinya dalam hidup.

Dua cerita ini mungkin hanya secuil dari ratusan ribu cerita kematian akibat Covid-19. Namun, sepenggal kisah mereka dapat menjadi bukti kalau kematian selalu meninggalkan duka yang perih. Apalagi di situasi serba sulit dan terbatas seperti sekarang.

Astari Arumdhani nggak pernah menduga, ia akan kehilangan papa dan mama sekaligus tahun ini

Ilustrasi pemakaman di masa pandemi | Instagram @dkijakarta

Setelah menarik napas dan menghentikan tangisnya yang pecah, Astari (25 tahun) kembali berbagi kisahnya. Mengingat lagi momen kehilangan kedua orangtuanya tentu tak mudah. Ingatan itu masih cukup nyata di benaknya. Di tengah-tengah wawancara, beberapa kali ia meminta waktu untuk menenangkan diri. Air matanya luruh saat menceritakan kronologi papa dan mamanya berpulang akhir bulan Maret 2021 karena terpapar Covid-19.

Waktu itu, papa dan mama vaksin di GBK. Mungkin karena ramai banget, ya, pulang vaksin papa malah kena Covid-19. Ironisnya, papaku positif. Aku benar-benar menyaksikan gejala papaku yang berat banget. Batuk dan demamnya sampai 40 derajat. Saking parahnya, aku sampai dengar suara batuk papa di kamar belakang, di kamar depan,” tutur Astari memulai cerita pada Hipwee, Sabtu (17/7).

Lantaran kurang edukasi soal penanganan Covid-19, Astari dan kedua kakaknya kebingungan saat papanya dinyatakan positif. Semula papa menjalani isolasi mandiri di rumah dengan bantuan mama. Sampai akhirnya papa dirujuk ke rumah sakit agar tak menularkan virus ke anggota keluarga lain. Namun, saat itu mama Astari mulai merasakan gejala yang sama. Sebelum hasil tes Covid-19 keluar, mamanya ditemukan pingsan di rumah dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Waktu kejadian ini, kondisi papa fit banget. Aku video call sama papa. Kondisi papa okay banget. Aku full telponan sama papa sampai tidur. Abis itu, drama kakakku cari RS. Varian Delta belum ada, tapi ICU udah susah untuk mama. Akhirnya esok paginya baru dapat RS. Hasil swabnya keluar, mama positif,” terang Astari. 

Sejak hari itu, Astari yang tinggal di Bekasi, mempersiapkan mental setiap harinya. Ia dan kakak-kakaknya berusaha tegar menerima setiap perkembangan papa dan mama yang terus naik-turun. Apalagi mamanya tak cuma positif Covid-19, ia juga mengalami pecah pembuluh darah. Saat fokus pada mamanya, Astari baru sadar jika kesehatan papanya menurun drastis. Dari hari ke hari, saturasi oksigen papanya turun. Saat dirujuk ke rumah sakit lain, saturasi papanya malah nge-drop sampai ke angka 30. Saat itulah, papanya yang kritis meninggal dunia.

Sempat menerima kabar baik soal kondisi mamanya, Astari harus kembali menelan pil pahit. Tak lama berselang, mamanya pun tutup usia

Ilustrasi pemakaman mama Astari | Instagram @dkijakarta

Usai mengurus pemakaman papa, Astari menerima kabar baik. Mamanya berangsur pulih dan bisa dipindahkan ke rawat inap biasa. Meski mama tak sadar, Astari bisa menjenguk dan menemaninya. Di luar dugaan, kondisi itu justru membuat Astari dan kedua kakaknya mengalami tekanan batin. Pasalnya, mereka harus melihat mamanya kesakitan setiap saat.

“Ujian batin banget. Kita pengen nemenin mama, tapi at the same time harus menyaksikan mama kesakitan tanpa kita bisa melakukan apa pun. Nggak bisa bantu, cuma bisa berdoa. Tapi at the same time, itu membuat kita lebih kuat karena kiat diuji cukup berat,” ungkap Astari. Ia kembali terisak.

Menyaksikan mamanya terus kesakitan, Astari berusaha merelakan bila mamanya pergi untuk selamanya. Ia dan kakaknya cuma bisa menangis. Siapa menyangka, tahun ini mereka akan kehilangan orangtua. Untuk kedua kalinya dalam jarak waktu yang dekat, mereka memakamkan mama. Setelah itu, baik Astari dan kakak-kakaknya berusaha melanjutkam hidup dengan normal.

Melihat banyaknya orang yang kehilangan seperti dirinya, ia berharap pemerintah bersikap tegas dan tahu harus berbuat apa. Pemerintah mungkin bisa ngomong soal herd immunity dengan mudah, tapi coba pemerintah merasakan kehilangan seperti kebanyakan orang. Ia berharap pemerintah memberi edukasi yang jelas dan bantuan bila memang memilih lockdown. Tetapi, jangan sampai bantuan dikorupsi.

Sebulan setelah kehilangan ayah, Bunga tak bisa mengantarkan sang suami ke peristirahatan terakhir

Ilustrasi orang menangis saat suami meninggal | Juan Pablo Serrano Arenas on Pexels

Kisah tak kalah menyayat hati datang dari Bunga (nama samaran). Perempuan yang tinggal di Lamongan ini dinyatakan positif Covid-19 bulan Juni lalu. Selama isolasi mandiri di Puskesmas, kebutuhannya dipenuhi oleh sang suami yang selalu datang hampir setiap hari. Di saat ia berjuang untuk sembuh, suaminya harus dirawat karena ikut terpapar virus. Dalam hitungan hari, suami Bunga mengembuskan napas terakhir karena menderita gejala yang berat.

“Karena tim medis Lamongan kewalahan, mendiang suaminya dimandikan di rumahnya sendiri, bukan di RS. Dimandikan oleh tenaga medis, jadi full pakai APD. Ketika pemakaman, Bunga nggak bisa datang karena dia masih positif,” ungkap teman Bunga, Winda Noviati.

Sebagai teman, Winda tak membayangkan berada di posisi Bunga. Bunga kehilangan sang ayah sebulan silam. Kini, ia harus merelakan sang suami untuk pergi selamanya. Karena masih belum sembuh Covid-19, ia tak bisa mengantarkan suami ke pemakaman.

“Di tempatku sendiri, di desa, hampir setiap hari ada pengumuman kematian. Aku nggak ngebayangin gimana temanku itu. Dia lagi isoman, dengar sayup-sayup berita kematian tiap hari, dan dia sendiri habis kehilangan suami. Aku nebaknya dia lagi nge-down banget, kehilangan orang tercinta dari bapak hingga suami,” ujar Winda.

Situasi sulit ini memang harus dihadapi. Namun, Winda pun bingung harus bagaimana bila di tengah pandemi yang seperti ini. Sementara itu, Bunga yang sedang berduka masih isolasi mandiri. Ia belajar merelakan suami yang dicintai, meski rasanya pasti berat.

Seperti kata Astari, “Every living is matters”. Rasanya nggak etis kalau angka kematian akibat pandemi ini dilihat sebagai angka semata. Meskipun cuma satu nyawa yang berpulang. Siapa pun yang meninggal adalah sosok yang berharga dan tak tergantikan bagi orang-orang mengasihinya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan