Para Petinggi Israel Kompak Ucapkan Selamat Idul Adha pada Palestina, Ada Apa?

  • Bagikan
Para Petinggi Israel Kompak Ucapkan Selamat Idul Adha pada Palestina, Ada Apa?


TOPNEWS.MY.ID, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menelepon Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas pada Senin (19/7) malam. Panggilan telepon ini pun menjadi kontak tingkat tinggi pertama TOPNEWS.MY.ID pejabat Israel dan Palestina sejak pemerintah sayap kanan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dilantik pada bulan Juni.

Dilansir dari Middle East Eye, Gantz menulis di Twitter kalau ia mengucapkan selamat Idul Adha kepada Abbas pada kesempatan tersebut. Mereka juga membahas perlunya membangun kepercayaan TOPNEWS.MY.ID kedua pemerintahan.

“Kami membahas perlunya memajukan aksi membangun kepercayaan TOPNEWS.MY.ID Israel dan PA yang akan menguntungkan ekonomi dan keamanan seluruh kawasan,” twit Gantz.

Tak hanya Gantz, kantor berita resmi PA Wafa melaporkan bahwa Abbas juga ditelepon Presiden Israel Isaac Herzog di Hari Idul Adha. Sebelumnya, pada 11 Juli, Abbas dilaporkan menelepon Herzog untuk mengucapkan selamat kepadanya atas sumpahnya sebagai presiden.

Pada pemerintahan sebelumnya, komunikasi mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan pihak Palestina diketahui dingin, meski mantan Presiden Israel Reuven Rivlin rutin berbicara dengan Abbas sebulan sekali selama 7 tahun masa jabatannya.

Mencairnya komunikasi TOPNEWS.MY.ID Israel dan PA terjadi tak lama setelah kunjungan Hady Amr, utusan Amerika Serikat (AS) untuk urusan Israel-Palestina. Amr dilaporkan memperingatkan otoritas Israel bahwa PA sedang menghadapi krisis politik dan ekonomi. Ia pun meminta Tel Aviv untuk memperkuat pemerintahan Ramallah.

Dalam kunjungannya ke Israel dan Palestina, Amr mengaku belum pernah melihat PA mengalami situasi yang lebih buruk. Pasalnya, pemerintahan yang berbasis di Tepi Barat itu menghadapi gelombang amarah rakyat setelah kematian kritikus terkenal Nizar Banat dalam tahanan polisi PA.

Amr pun menyebut PA bagaikan hutan kering yang menunggu untuk terbakar. Ia menambahkan bahwa PA tidak memiliki legitimasi, sehingga dapat menyebabkan situasi berbahaya dan tidak stabil.

“Jika otoritas tidak punya uang untuk membayar gaji, bisa terjadi kerusakan lebih lanjut dan akhirnya runtuh,” ucapnya.

PA didirikan setelah Kesepakatan Oslo 1993 dan awalnya dimaksudkan untuk menjadi badan pemerintahan sementara sampai pembentukan negara Palestina sepenuhnya. Namun, solusi 2 negara tidak pernah terwujud.

PA sendiri hanya memegang kontrol terbatas atas sekitar 40 persen Tepi Barat, yang dikenal sebagai Area A dan B. Situasi ini menyebabkannya dituduh oleh banyak orang Palestina sebagai perpanjangan pendudukan Israel, khususnya atas kebijakan kerja sama keamanannya dengan Israel.

Abbas sendiri berkuasa sejak 2005. Meski masa jabatannya sebagai presiden resmi berakhir pada 2009, PA belum pernah mengadakan pemilihan presiden selama 16 tahun terakhir.

Pemilihan legislatif dan pemilihan presiden awalnya dijadwalkan masing-masing pada 22 Mei dan 31 Juli. Namun, keduanya diputuskan ditunda pada bulan April. []



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan