Normalkah Kalau Bayi Jarang Menangis?

  • Bagikan
Normalkah Kalau Bayi Jarang Menangis?


Menangis adalah bentuk komunikasi verbal pertama yang bayi lakukan sejak kelahirannya. Ia akan menangis pada berbagai kesempatan, mulai dari ketika lapar hingga ketika ingin diperhatikan dan digendong. Namun, ternyata ada beberapa bayi yang jarang menangis. Normalkah kalau bayi jarang menangis?

 

Segera setelah dilahirkan, Mums akan langsung disambut oleh tangisan si Kecil, terutama ketika Mums menempuh persalinan normal. Mengapa? Karena ia mengalami stres dan trauma selama proses persalinan. Tentunya harus keluar dari “rumah” alias rahim Mums yang nyaman lalu berada di lingkungan yang asing dan harus beradaptasi dengan berbagai hal akan terasa berat bagi si Kecil ya, Mums.

 

Seiring berjalannya waktu, si Kecil akan terus menangis untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ia akan menangis jika lapar, popoknya kotor, ingin digendong, merasa lelah, dan lain sebagainya, sampai kemampuan bahasanya berkembang.

 

Dalam studi tahun 2017 terhadap 9.000 bayi di dunia, rata-rata bayi baru lahir akan menangis sekitar 2 jam setiap harinya. Selain karena hanya itu komunikasi yang bisa dilakukan di awal-awal kehidupan, bayi juga belum memiliki keterampilan untuk menenangkan dirinya sendiri.

 

Menariknya, ternyata tidak semua bayi suka menangis lho, Mums. Jika si Kecil termasuk tipe bayi yang jarang menangis, jangan langsung ketakutan ada yang salah dengannya, ya. Pasalnya, ada bayi-bayi yang memang lebih anteng, tukang tidur alias senang sekali tidur, hingga tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan dirinya ketika membutuhkan sesuatu! Ada-ada saja ya, Mums.

 

Tidak Semua Bayi Menangis Sesaat Setelah Dilahirkan

Ketika dilahirkan, bayi akan mengalami perubahan hormon dan mengalami trauma. Ketika ia menarik napas untuk pertama kalinya, paru-parunya akan mengembang. Cairan ketuban yang berada di dalam paru-paru pun akan dipaksa keluar melalui darah dan sistem getah bening.

 

Napas pertama bayi di dunia akan cenderung tidak teratur dan pendek-pendek. Setelah beberapa saat, akan lebih dalam dan teratur. Berikutnya, darah pun akan bersirkulasi di paru-paru. Seiring dengan proses tersebut, bayi akan secara otomatis menangis.

 

Namun, belajar bernapas tidaklah mudah bagi bayi. Itulah mengapa terkadang bayi kesulitan dan ia tidak menangis. Selain karena kesulitan untuk bernapas sendiri, persalinan secara caesar atau mendapatkan obat-obatan tertentu juga bisa membuat bayi tidak menangis kencang, bahkan tidak menangis sama sekali.

 

Misalnya bila memilih metode persalinan caesar, alih-alih menangis, bayi cenderung akan menguap atau batuk ketika dilahirkan. Begitupun jika Mums mendapatkan obat bius atau obat antinyeri sebelum bersalin, maka bayi bisa merasa sangat mengantuk, sehingga tidak menangis.

 

Walau begitu, tangisan pertama sangat krusial dan menjadi penanda kondisi kesehatan bayi. Jika bayi tidak kunjung menangis, bayi akan diberikan stimulasi oleh dokter agar ia bisa bernapas dan menangis. Dokter juga akan mengecek secara saksama untuk mendeteksi apakah ada ketidaknormalan pada bayi.

 

Tes Apgar akan dilakukan untuk menentukan seberapa baik bayi menoleransi proses persalinan dan bagaimana ia beradaptasi dengan dunia di luar kandungan. Dokter akan melihat 5 kriteria, meliputi kemampuan bernapas, detak jantung, kondisi otot, refleks, dan warna kulit. Tes berikutnya dilakukan 5 menit setelah waktu kelahiran. Jika si Kecil dinyatakan sehat dan hanya menangis sebentar, maka bisa jadi ia memang termasuk tipe bayi jarang menangis dan anteng.

 

Normalkah Kalau Bayi Jarang Menangis?

Bayi jarang menangis di 2 minggu pertama kelahiran karena ia masih suka tidur. Lambat laun, ia akan semakin sering bangun, sehingga akan menangis lebih banyak. Kendati demikian, ternyata ada pula bayi yang tenang, pendiam, dan jarang menangis. Hal ini tergantung pada temperamen sang Bayi.

 

Temperamen akan menunjukkan bagaimana bayi bereaksi terhadap sekitarnya, serta bagaimana ia mengekspresikan emosi maupun kebutuhannya.Temperamen ditentukan secara biologis dan berpengaruh besar terhadap perkembangan bayi.

 

Selama menurut dokter tidak ada masalah kesehatan berarti, maka bisa jadi bayi jarang menangis karena ia termasuk ke dalam temperamen yang mudah atau easy. Akan tetapi, Mums harus berhati-hati nih dalam merawat bayi dengan tipe temperamen seperti ini.

 

Pasalnya, jika si Kecil suka menangis, Mums jadi tahu kapan ia membutuhkan Mums. Sementara pada bayi dengan temperamen easy, Mums bisa saja menganggap si Kecil anteng, padahal ia sebenarnya membutuhkan sesuatu atau merasa tidak nyaman!

 

Maka dari itu, Mums perlu memperhatikan tanda-tanda bayi yang jarang menangis ketika membutuhkan sesuatu, sehingga tidak terlewatkan oleh Mums. Yuk, cek di bawah ini.

 

“Aku lapar”

Untuk bayi jarang menangis dan anteng, ia bisa menunjukkan keinginannya untuk menyusu dengan cara:

  • Membuka mulutnya dan memajukan kepalanya ke arah dada orang yang ada di dekatnya.
  • Berdecak-decak, mengisap lidah, atau menjilati bibirnya. Ia pun akan mengeluarkan suara mengisap mirip seperti sedang menyusu.
  • Memasukkan tangannya ke dalam mulut.

 

“Aku ngantuk”

Mendeteksi apakah bayi mengantuk memang gampang-gampang susah. Pada bayi-bayi yang sudah lebih besar, mereka biasanya menunjukkannya dengan menggosok-gosok mata, menguap, atau menjadi rewel. Namun pada bayi baru lahir, agak lebih susah untuk diketahui.

 

Mums bisa mengobservasi tangan si Kecil. Jika mengepal dan didekatkan ke wajah, itu bisa jadi tanda ia mengantuk. Umumnya, tubuhnya juga akan kelihatan tegang atau kaku, menguap, dan kesulitan membuka mata.

 

“Popok aku penuh”

Yang satu ini mungkin akan tricky bagi bayi baru lahir. Pasalnya, feses bayi baru lahir belum terlalu bau, sehingga mungkin tidak akan tercium oleh Mums. Mums bisa mengecek apakah si Kecil terlihat tidak nyaman, gelisah, atau rewel. Popok yang kotor atau penuh akan membuat bayi kesal. Jika si Kecil sedang tidur dan terbangun tiba-tiba, maka bisa jadi ia buang air. Sebaiknya, Mums juga mengecek popok si Kecil secara berkala walaupun ia tidak menangis atau rewel, supaya ia tidak terpapar kotoran dan urine terlalu lama.

Nah, itu dia jawaban apakah normal jika bayi jarang menangis. Yang utama, jangan mengabaikan insting Mums. Jika memang merasa ada yang salah atau khawatir, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi kepada dokter anak terkait perilaku si Kecil ya, Mums. (AS)

 

Referensi

Sutter Health: What’s a Normal Amount of Crying?

Mom Loves Best: Why Your Baby Doesn’t Cry

You Are Mom: Is It Normal That My Baby Doesn’t Cry? Reasons and Advice

Mom Loves Best: What Is Baby Temperament?

NCT: How much crying is normal for a baby?



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan