Kisah Pilu 3 Bocah di Malang Jalani Isolasi Mandiri Tanpa Orang Tua

  • Bagikan


3 bocah di Malang terpaksa menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah tanpa kehadiran orang tuanya. Diketahui, ibu mereka wafat akibat terpapar virus corona. Sedangkan sang ayah sedang dalam perawatan di rumah sakit, juga akibat paparan virus asal Wuhan, China ini.

Tidak diketahui pasti kisaran umur mereka. Namun, Ketua RT setempat, Pudjo Leksono (58), mengatakan bahwa anak pertama merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang sedang duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan anak kedua berusia kisaran 12 tahun dan duduk di kelas 2 SMP. Sementara anak ketiga merupakan siswa kelas 5 SD.

Sebelumnya, satu keluarga di Perumahan Puskopad RT 05 RW 03, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, ini terkonfirmasi positif COVID-19 setelah menjalani tes swab pada 3 Juli 2021.

Dia menceritakan, awal paparan ini diketahui dari sang ayah, SB (52) hingga dilakukan pelacakan kontak erat. Hasilnya, satu keluarga yang terdiri dari 5 orang ini positif. ”Akhirnya, dianjurkan mereka semua isoman di rumah hari itu juga,” kisah Pudjo, di kediamannya, pada Senin (19/7/2021).

Selang 2 hari, tepatnya pada 5 Juli 2021, kondisi sang ayah terus memburuk karena memiliki penyakit komorbid jantung. Dilarikanlah SB ke RSUD Kota Malang untuk dirawat. Kondisi serupa dialami sang ibu, IKW (50), yang ikut memburuk dan menyusul masuk rumah sakit pada 11 Juli 2021.

Beruntung, 3 bocah ini tidak memiliki gejala signifikan. Kondisinya terus membaik hingga saat ini. Namun kabar pilu datang 7 hari kemudian. Pada Minggu 17 Juli 2021 kemarin, sang ibu diketahui menghembuskan nafas terakhir.

”Sementara sang ayah dikatakan kondisinya mulai membaik. Tapi masih dalam perawatan medis. Selebihnya, hanya petugas Puskesmas yang tahu update kondisinya,” terangnya.

Gerak Cepat Tetangga Pantau Kondisi 3 Bocah Ini

Wujud ketangguhan kampung setempat dalam penanganan COVID-19 ini sangat terasa kehadirannya. Usai mendengar kabar ini, warga langsung bergerak cepat melakukan sterilisasi rutin di kampung.
ADVERTISEMENT

Selain itu, jaminan kelangsungan hidup ketiga bocah ini disokong bersama oleh para tetangga. Apalagi, melihat kondisi anak pertama yang ABK, praktis saat di rumah anak kedua yang menjadi anak ‘sulungnya’.

”Setiap hari kita suplai makanan rutin, pagi sore malam. Kami juga ikut pantau kondisi mereka lewat ponsel dan terus koordinasi dengan Puskesmas. Saudara-saudara mereka juga ikut mantau tiap hari. Alhamdulillah mereka sehat-sehat,” jelasnya.

Sejauh ini, kondisi ketiga bocah itu baik-baik saja. Kata Pudjo, ketiga bocah ini rupanya sudah terbiasa hidup mandiri. Bahkan, mereka bisa menanak nasi sendiri.

Kini, Pudjo dan warga sekitar fokus menjaga kondisi psikis sang anak agar tidak mengalami trauma akan kondisi ini. ”Jadi kami tinggal kontrol lewat ponsel. Kita pantau terus. Mau makan apa biar mereka gak sedih kita turuti. Kita masakin. Kita terus pantau sampai masa isomannya selesai,” jelasnya.

Sesuai keterangan dari Puskesmas setempat, masa isolasi mandiri ketiga anak ini akan berakhir dalam 1-2 hari mendatang.

sumber : kumparan.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *