Inspiratif! Kisah Louis Saha Bikin Startup yang Bantu Eks Pemain Punya Karier Kedua

  • Bagikan
Lincoln Red Imps


“Ide ini muncul dari pengalaman pribadi dan rekan-rekannya. Ini yang dia kerjakan sekarang.”

TOPNEWS.MY.ID – Louis Saha sempat dikenal sebagai penyerang haus gol saat berseragam Fulham, Manchester United, hingga Everton. Setelah pensiun, pria asal Prancis itu mendirikan startup yang bertujuan mencegah mantan pemain seperti dirinya stres, bangkrut, dan terjerembab dalam masalah mental akut.

Lahir di Paris, 8 Agustus 1978, Louis Laurent Saha (lahir 8 Agustus 1978) adalah mantan pemain sepakbola profesional Prancis yang bermain sebagai striker. Saha bermain 20 kali untuk Les Bleus dan mencetak empat gol.

Saat muda, Saha merupakan lulusan akademi sepakbola terkenal di Prancis, INF Clairefontaine. Dia memulai karier di Metz sebelum bermain dengan status pinjaman di Newcastle United.

Kemudian, pada awal musim 2000/2001, Saha pindah ke Fulham. Dia membantu The Cottagers mendapatkan promosi ke Liga Premier. Akibatnya, pada pertengahan musim 2003/2004, MU datang dengan proposal 12,4 juta pounds (Rp245 miliar).

Cedera sempat menghalangi Saha di Old Trafford. Tapi, dia menikmati kesuksesan dengan dua kali memenangkan Liga Premier, Liga Champions, dan juga mencetak enam gol dalam perjalanan menuju kemenangan di Piala Liga, termasuk satu gol di final.

Setelah 4,5 tahun di MU, Sha pindah ke Everton. Di sana, dia membuka skor di final Piala FA 2008/2009 dalam waktu 25 detik. Itu rekor gol tercepat yang dicetak dalam sejarah final. Dari Everton, Saha pindah ke Tottenham dengan status bebas transfer pada jendela transfer Januari 2012 sebelum pindah ke India pada 2014.

Membuat perusahaan pemasaran digital

Setelah pensiun, Saha membuat perusahaan rintisan bertajuk Axis Stars. Itu adalah perusahan pemasaran digital yang punya misi sosial. Saha menyebutnya sebagai persilangan TOPNEWS.MY.ID Linkedln dan Tinder untuk atlet yang ingin terhubung dengan peluang bisnis.

“Ada banyak penasihat, pendukung, asosiasi, bahkan serikat pemain di sekitar atlet yang semuanya memiliki agenda sendiri. AxisStars lebih fokus pada bagaimana kami menggunakan teknologi untuk menciptakan perjalanan karier yang ideal berdasarkan minat mereka dan di mana mereka berada dalam karier mereka, untuk bakat memastikan mereka mendapatkan yang terbaik,” ujar mitra bisnis Saha dan konsultan pemasaran, Kate Hamer, dilansir Digiday.

Saat diluncurkan, Axis Stars hanya terbuka untuk mantan atlet. Tapi, seiring waktu, mereka juga membuka kesempatan kepada para seniman, artis, hingga pensiunan pegawai biasa untuk terlibat.

Dengan Axis Stars, pengguna dapat berbicara satu sama lain tentang masalah yang terkait dengan karier. Dari gaya hidup hingga keuangan. Asuransi hingga kebugaran fisik. Bahkan, ada tempat mereka bisa pergi dan mengelola kesepakatan komersial bersama.

“Kami ingin para atlet dan seniman melihat platform ini sebagai tempat aman yang dapat mereka percayai. Di sini, semua informasi ada untuk mereka atau mereka bisa mendapatkan akses ke kontak yang tidak mereka miliki,” kata Saha.

“Ini adalah tempat yang dibangun untuk mereka dan diatur oleh logika internal yang akan tumbuh dengan regulasi teknologi, bukan keserakahan komersial. Pengalamannya bersifat pribadi sehingga orang tidak perlu merasa malu bertanya tentang sesuatu yang mereka pikir orang lain harapkan untuk mereka ketahui,” tambah pemain Prancis di Euro 2004 dan Piala Dunia 2006 itu.

Dari mana ide mendirikan Axis Stars?

Keinginan Saha untuk mendirikan perusahaan rintisan ini sudah dipikirkan sejak masih aktif bermain sepakbola. Tekadnya semakin besar setelah membaca sebuah laporan yang menyatakan 40% pemain sepakbola profesional menghadapi masalah keuangan selama karier dan setelah pensiun.

Pengalaman Saha sendiri membuktikan hal itu. Sebagai pemain, Saha mengetahui bahwa agennya telah menyetujui komisi enam digit (jutaan euro) yang akan dibayarkan kepada seseorang yang terkait dengan klub yang akan dia tanda tangani. 

Dia berjuang untuk memahami mengapa dia harus membayar sejumlah uang kepada seseorang yang bahkan belum pernah dia temui. Karena itu, dia menciptakan platform Axis Stars pada 2014 saat memasuki masa pensiun.

“Era media sosial telah mengintensifkan hubungan dengan atlet dan penggemar, baik atau buruk. Tapi atlet tidak selalu siap untuk memahami pengaruh ini. Tentu, ada situs dan PDF yang dapat diakses orang, tetapi itu tidak selalu dapat dicerna oleh atlet dan artis. Sulit bagi mereka untuk menguasai urusan mereka,” ungkap Saha.

Selama bertahun-tahun, Saha dan Hamer telah memperkenalkan sekelompok kecil atlet dan seniman dari berbagai bidang ke dalam aplikasi secara bertahap untuk mendapatkan umpan balik dan wawasan tentang apa yang mereka butuhkan. Itu sebabnya platform sekarang berada di 65% sepakbola.

Selain sepakbola, rugby juga menjadi fokus lain. Sekarang, menyumbang sekitar 15% dari basis pengguna Axis Stars. Kriket adalah area pertumbuhan lain untuk masa depan di sekitar 4% dari platform seperti halnya atlet wanita di 22%. Lima dari 10 (52%) anggotanya berada di Inggris, sepertiga (33%) di antaranya berada di Prancis, 10% Eropa lain, dan 3% di AS.

“Atlet tidak selalu mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan karena begitu banyak industri yang berfokus pada jangka pendek. Pelatihan media sosial yang didapat pesepakbola, misalnya, akan difokuskan untuk tidak membuat klub dalam masalah. Pesepakbola jarang mendapatkan pelatihan tentang cara mengembangkan diri mereka sendiri,” ungkap Hamer. 

Atlet dan seniman berbagi minat mereka dengan aplikasi saat membuat profil. Minat tersebut kemudian digunakan untuk menginformasikan penawaran komersial yang mereka terima melalui aplikasi. Semua penawaran tersebut berasal dari perusahaan yang telah membayar biaya untuk bergabung dengan Axis Stars. Konsultan, agen, dan pengacara di aplikasi juga membayar biaya dan melalui proses pemeriksaan yang sama.

Anggota memberikan peringkat kepada perusahaan dan individu tersebut. Ini seperti yang akan mereka lakukan pada pengemudi Uber atau pemilik rumah di Airbnb, sehingga orang lain memiliki gambaran tentang kualitas layanan. 

Idenya adalah bahwa Axis Stars bukan hanya sebuah platform untuk talenta paling populer dari dunia olahraga dan hiburan. Seseorang yang tidak memiliki perusahaan yang mengantri untuk mensponsori dapat menggunakannya untuk tampil di depan lebih banyak sponsor.

“Kami lebih fokus pada pendidikan. Tapi, kami menganggap platform ini sebagai pusat orang dapat menemukan banyak hal tentang bagaimana mereka dapat mengembangkan minat mereka sendiri,” pungkas Saha.

(andri ananto/anda)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *