Prof Haselman Meninggal di RS Stella Maris, Keluarga Protes Hasil PCR Lama Keluar

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID, Makassar – Satu hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Stella Maris, Prof Haselman, Dosen Sospol Universitas Hasanuddin meninggal dunia. Ia berpulang dengan hasil Swab antigen negatif.

Ia dibawa ke rumah sakit setelah magrib pada Sabtu, 17 Juli 2021. Satu pekan sebelumnya kondisinya memang semakin menurun. Dia mengalami gejala demam yang naik turun dan sesak nafas. Sebab itu, butuh bantuan oksigen.

“Tadi pagi meninggal sekitar pukul 08.00 Wita,” kata Shendy, anak pertama almarhum, Minggu, 18 Juli 2021.

Baca Juga: SBY Tampil Sebagai Wakil Pemimpin Dunia di Film Hollywood, Andi…

Sebelumnya, pada Sabtu sekitar pukul 21.00 Wita kondisi pasien semakin memburuk. Pihak RS Stella Maris pun merekomendasikan agar dirujuk ke RS lain. Sebab beberapa alat pernapasan oksigen yang dicolok ke hidung semua terpakai.

Shendy pun mencari rumah sakit lain. Namun hasilnya tak sesuai yang diharapkan. Pasalnya beberapa rumah sakit yang didatangi tak mampu lagi menampung pasien. Semua penuh. 

Lanjutkan membaca artikel di bawah

“Susah dibanding kita bawa langsung pasiennya. Sementara dokter tak menyarankan dibawa langsung dengan kondisi seperti ini,” kata dia.

“Bapak butuh oksigen jangan sampai kita lepas terjadi apa-apa di jalan. Situasi serba sulit,” sambungnya kemudian.

Baca Juga: Gunakan PCR Milik Istrinya yang Negatif, Pria Bercadar Penumpang Pesawat…

Shendy mengatakan saat ini keterisian tempat tidur di beberapa rumah sakit sudah penuh. Salah satu rumah sakit yang didatangi adalah RS Pelamonia.

Menunggu Hasil Swab PCR 

Saat mengetahui ayahnya sudah berpulang, Shendy hendak membawa pulang jenazah ke rumah. Namun, pihak rumah sakit tidak membolehkan dengan alasan almarhum mesti di tes Swab PCR terlebih dahulu.

Baca Juga: Hoax dr Lois Soal Obat Covid-19 Renggut Nyawa, Anak Korban:…

Berdasarkan foto rontgen, terdapat beberapa noda di bagian sebelah kanan. Shendy menyebut almarhum dikategorikan PDP. Kendati hasil antigen negatif.

Setelah itu perawat menyodorkan kertas surat kuasa agar pasien melakukan tes usap PCR. 

“Kita nda tau soal begitu, makanya tanda tangan saja,” ungkapnya. 

Pihak keluarga akhirnya pasrah dan mengikuti ketentuan dan aturan dari pihak rumah sakit. Namun setelah menunggu hingga pukul 12 siang, hasil Swab PCR tak kunjung keluar. Shendy mengatakan keluarga sudah gusar.

“Saya bilang sampai kapan ini hasil,” kata Shendy kepada dokter yang menangani almarhum bapaknya.

Menurut penjelasan dokter, tes Swab PCR pasien sudah dikirim ke Lab Labuang Baji. Setelah itu pihak keluarga melakukan pengecekan di lab RS Labuang Baji. 

“Yang bikin kesal, sepupu datang ke lab Labuang Baji, tanya petugas kapan sampel Almarhum Prof Haselman sampai? Dia bilang baru setengah jam lalu,” kata dia.

“Padahal almarhum di tes PCR sekitar pukul 8 tapi sampel baru sampai di lab Labuang Baji sekitar pukul 02.30 Wita. Bayangkan betapa lambannya. Kenapa tidak langsung dikirim sampelnya” kata Shendy dengan nada kesal.

Dia menilai pihak rumah sakit sangat lamban dalam mengirim sampel dan berbohong terhadap keluarga pasien. 

Sendi protes terhadap kebijakan RS Stella Maris yang cenderung mengulur-ulur waktu. Ia mengaku kecewa dengan pelayanan pihak rumah sakit.

“Kenapa mesti ada PCR pas meninggal, kenapa pas datang ke RS tidak di PCR memang’mi? Kenapa ada Swab susulan?” ungkapnya.

Pihak rumah sakit lantas menjelaskan bahwa hasil antigen tidak terlalu akurat. Untuk akurasi yang kuat butuh Swab PCR.

“Di aturan Antigen berlaku 24 jam, dan hingga saat ini masih berlaku,” jawab Shendy.

Hanya saja, pihak rumah sakit tetap bersikukuh dan menegaskan jenazah tak boleh dibawa pulang sebelum hasil PCR keluar.

Setelah itu, beberapa jam kemudian ia kembali mendatangi pihak rumah sakit bagian isolasi Covid-19 namun hasilnya sama saja, belum keluar.

“Padahal di awal dokter bilang hasilnya hanya 4 jam hasilnya sudah keluar,” paparnya.

Pihak Keluarga Khawatir Almarhum di-Covid-19-kan

Shendy mengaku pihak keluarga takut almarhum di-Covid-kan lantaran pihak RS Stella Maris mengulur-ulur waktu. 

“Kita di Islam, almarhum tidak boleh dikebumikan lewat dari 5 waktu,” kata Shendy.

Pihak keluarga pun berharap tak ada hasil rekayasa dari pihak RS yang positifkan pasien.

“Saya berharap almarhum bapak saya segera keluar hasil Swab PCR-nya,” ungkapnya.

Belakangan, hasil Swab PCR pun akhirnya keluar sekitar pukul 06.00 Wita. Hasilnya pun negatif.

Saat dimintai keterangan, pihak RS Stella Maris, Patricia, mengatakan terkait informasi pasien, sesuai etika perumahsakitan dan SPO tidak dapat diberikan ke pihak lain, selain wali atau keluarga pasien.

“Penjelasan sejak pagi dan siang sudah diberikan ke pihak keluarga karena memang dalam masa pandemi ini ada beberapa SPO yang wajib dilaksanakan dan itu sudah dijelaskan ke keluarga,” singkatnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan