Katib Aam PBNU Yahya Staquf Bicarakan Perdamaian Global Saat Melawat ke Amerika

  • Bagikan


TOPNEWS.MY.ID, Jakarta – Katib Aam PBNU  Yahya Staquf akan membicarakan soal perdamaian global di tengah pandemi Covid-19 saat melawat ke Amerika Serikat. Walaupun dibayang-bayangi pandemi, kata Yahya, masyarakat internasional tidak dapat menunda upaya mencari jalan keluar dari berbagai masalah yang tidak kalah mendesaknya, terutama terkait dengan ancaman konflik yang makin membahayakan di tingkat lokal, regional, dan global.

Dalam keterangannya Senin, 12 Juli 2021, Yahya mengatakan dia diminta terlibat dalam pembicaraan menyangkut agenda IF20 (Inter Faith 20), yaitu agenda sandingan dalam KTT G-20 yang akan digelar pada September mendatang di Bologna, Italia.

Sebagai wakil dari Gerakan Global Islam untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam), Yahya akan menggelar KTT bersama Komunitas Masjid Muhammad atau dikenal juga sebagai The Nation’s Mosque, yaitu komunitas Muslim Afro-Amerika yang nenek moyang mereka diperbudak di Amerika sekian abad yang lalu.

KTT itu bertajuk Building a Global Alliance Founded Upon Shared Civilizational Values (membangun aliansi global berdasarkan nilai-nilai keadaban bersama). "Selain itu, (kami) juga mengikuti WEA (World Evangelical Alliance), organisasi Evangelis Internasional dengan pengikut lebih dari 600 juta orang di 140 negara," kata Yahya.

Agenda berikutnya yang diikuti Yahya ialah KTT IRF (International Religious Freedom Summit) selama 3 hari dan menyampaikan pidato pada salah satu plenonya dengan topik The Rising Tide of Religious Nationalism (pasang naik nasionalisme religius).

Di sela kegiatannya tersebut, ulama yang akrab disapa Gus Yahya itu juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah senator Amerika, yaitu Mitt Romney, Benjamin Sasse, dan Thomas Cotton. Yahya juga akan berbagi panel dengan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo yang pernah berkunjung ke Jakarta atas undangan Gerakan Pemuda Ansor pada bulan Oktober tahun lalu.

Kunjungan itu dilaksanakan saat kegiatan konferensi oleh Hudson Institute, salah satu think tank terbesar di Amerika untuk mendiskusikan masalah-masalah terkait dengan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. “Saya akan mengusung gagasan-gagasan yang bersumber dari idealisme Nahdlatul Ulama, nilai-nilai Pancasila, serta pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD Tahun 1945,” kata Yahya.

Yahya Staquf  menuturkan visi kemanusiaan dalam idealisme NU dan fondasi NKRI mengandung inspirasi yang sangat dibutuhkan untuk mencari jalan keluar dari ancaman destabilisasi global yang paling berbahaya dewasa ini, yaitu konflik antar-identitas, baik etnik, agama, maupun ideologi sekuler.

Baca Juga: Yahya Staquf: Pidato Saya Ditolak American Jewish Committee



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan