Sesak Nafas dan Tak Dapat Oksigen, Pasien di Jogja Meninggal saat Cari RS yang Belum Penuh

  • Bagikan
Pasien meninggal


TOPNEWS.MY.ID, Yogyakarta – Kesulitan cari oksigen dan pelayanan akibat Rumah Sakit yang penuh, membuat pasien dengan sakit sesak nafas dan butuh oksigen meninggal dunia.

Guru Besar Fisip Unair, Henry Subiakto, mengabarkan, kakaknya telah meninggal dunia setelah sesak nafas dan kesulitan dapat oksigen.

“Kakak sy Haji. Ferry Astono, td pagi sesak nafas & kesulitan dpt oxygen. Krn memburuk mau dibawa ke RS. Tapi semua RS di Jogja penuh. 


Baca Juga: Hingga 31 Desember Sudah 22.138 Pasien di Indonesia Meninggal Akibat…

Baru dpt saat keadaan sdh terlambat. Jam 15.15. dipanggil Allah SWT.  Innalillahi wainna ilaihirojiun. Allahuma Firlahu Warhamhu, Wa’fuanhu,” tulis Henry Subiakto lewat akun Twitternya.

Selain itu, seorang pasien covid-19 di Gunung Kidul, Yogyakarta juga dikabarkan meninggal dunia karena tak mendapat pelayanan medis.


Baca Juga: Tambah 243 Orang, Pasien Meninggal Akibat Covid-19 Capai 21.237

Pasien Covid-19 berinisial H (48) asal Patuk, Gunungkidul, DIY tersebut meninggal dunia usai tak kunjung mendapatkan penanganan medis akibat penuhnya kapasitas rumah sakit rujukan.

Berdasarkan informasi yang diberikan Komandan TRC BPBD DIY Wahyu Pristiawan, pasien meninggal pada Kamis 8 Juli 2021 sekitar pukul 22.30 WIB. Ia dan jawatannya kemudian memakamkan H pada Jumat 9 Juli 2021 pagi.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan sosok yang karib disapa Pris itu, kondisi pasien mengalami pemburukan Kamis malam sehingga suami dan saudaranya berupaya membawa yang bersangkutan ke rumah sakit di Yogyakarta.


Baca Juga: Tambah 156 Orang, Pasien Meninggal Akibat Covid-19 Capai 17.355

Dari keterangan yang diterima disinyalir kondisi fasilitas kesehatan di Gunungkidul sudah penuh kala itu.

Kemudian, setidaknya ada 4 rumah sakit yang kerabat H sambangi dan semuanya ternyata sudah penuh, dua di antarnaya adalah RS PKU Muhammadiyah Bantul dan RSUD Kota Yogyakarta.

“Dia turun (dari Gunungkidul) mencari beberapa rumah sakit mulai dari PKU Bantul, ada beberapa rumah sakit, kan penuh tuh. Lalu kan dia belum di tes [risiko Covid-19]. Nah, dia nemu ada klinik di Krapyak. Satu mobil itu keluarga itu berhenti untuk swab antigen karena dari beberapa rumah sakit yang didatengin syaratnya harus swab dulu,” kata Pris dikutip dari CNNIndonesia, Jumat.

“Hasilnya antigennya positif,” sambung Pris.

Pada saat bersamaan kondisi H terus memburuk. Selain itu diketahui, mendiang memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid berupa diabetes.

Akhirnya, lanjut Pris, keluarga memutuskan untuk singgah di Shelter RS Patmasuri, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

“Rencana dibawa ke PKU Bantul, tapi masih antre sampai pagi. Ditahan dulu akhirnya di Patmasuri,” jelasnya.

Hanya saja kondisi pasien terus memburuk, dan akhirnya meninggal saat masih berada di dalam mobil yang terparkir di area parkir RS Patmasuri.

“Ternyata kan sampai parkiran lalu dibantu salah satu perawat. Ternyata di situ sudah meninggal,” beber Pris.

Jenazah selanjutnya dibawa ke posko induk BPBD DIY di Semaki, Umbulharjo, Kota Yogyakarta menggunakan ambulans PMI. Setelah dilakukan pemulasaraan, jenazah dimakamkan Jumat pagi di Patuk, Gunungkidul.

Sementara untuk pihak pengantar pasien yang kemudian meninggal dan diketahui positif berdasarkan antigen tersebut, Pris mengaku belum mendapatkan informasi lebih lanjut apakah mereka pun terpapar Covid atau tidak.

Sepuluh Kematian Setengah Hari

Sementara Koordinator Relawan Gunungkidul, Agus Kenyung menyebut untuk hari ini saja, Jumat, pihaknya telah menerima laporan adanya sepuluh pasien yang meninggal dunia sebelum mendapatkan penanganan medis dari rumah sakit.

Data ia peroleh mulai dari pukul 00.00-13.00 WIB.

“Tanggal 9 Juli ini saja Gunungkidul ada 10 (pasien meninggal dunia). Mereka meninggal di rumah, salah satunya ya yang di jalan itu (H),” kata Agus saat dihubungi.

Agus menerangkan dari sepuluh pasien ini kebanyakan memang berstatus terkonfirmasi Covid-19. Sementara satu pasien berstatus suspek, di mana “Cuma anak sama istrinya positif. Dia (pasien) belum sempat di-swab.”

Berdasarkan pengalaman para relawan Gunungkidul sejauh ini pihaknya seringkali mendapati situasi fasilitas kesehatan yang penuh.

“Ya masih sampai sekarang penuh, masih susah (cari rumah sakit). Yang meninggal dalam perjalanan ada, yang meninggal depan rumah sakit juga ada selain yang hari ini. Itu ya karena kondisinya (RS) penuh,” beber dia.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati tak menampik akan kondisi rumah sakit rujukan di Gunungkidul yang mulai sesak. Per hari ini tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) untuk ranjang isolasi maupun ICU telah mencapai 90 persen.

Demi mengantipasi kejadian serupa, pihaknya tengah mempersiapkan RSUD Saptosari di Jetis, Gunungkidul menjadi fasilitas kesehatan khusus penanganan Covid-19.

“Kami sedang mempersiapkan RS Saptosari untuk full pelayanan Covid. Kapasitas dari 50 ke 100 tapi sebagian kita siapkan tenda,” kata Dewi melalui pesan WhatsApp.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan