Bunga Akan Bernyanyi

  • Bagikan
alexametrics


Bunga Akan Bernyanyi

jangan lupa simpan bekas percakapan

malam kemarin, lalu uraikan jika kita

jumpai pertemuan yang lain. ingat pula

kursi dan meja pernah kita pilih hingga

ke kaki-kaki kursi meja itu setiap suku kata

tak abai dicatat. lalu seseorang yang tiba

mengingatkan: ’’sebaiknya hapus

percakapan itu, sebelum orang lain

mendengar atau mengambil.’’

bukankah percakapan malam kemarin

itu di halaman ini, sebuah layar telepon

genggam, dan tak seorang mencuri

catatan. kecuali tamu lain berpura-pura

mengemis, sambil merekam setiap

kalimat dari meja ini. karena lalai kita

biarkan berserak. seperti guntingan bunga

ditabur di depan pintu. pendatang menginjak,

atau memungutnya untuk persembahan

pada kekasih

’’sebaiknya selalu waspada, dinding ini

lebih tajam dari telinga kita. tembok ruangan

ini lebih cekatan dari mata dengan tangan

ini. kita akan dikurung kata-kata, kota

akan penuh api karena percakapan kita.’’

hati-hati, tak perlu terlalu percaya

di halaman sepi pun. bunga akan bernyanyi

dinding akan cepat mengabarkan

17 Januari 2021; 02.30

Pelajaran Dari Kursi

–kekuasaan selalu akan mengajarkan padamu cara mempertahankan–

sebuah buku tak pernah kubuka

kini ingin sekali kubaca. sudah lama

kulupakan segala kursi yang buatku

jadi malas menengok taman dari jendela

(kadang kusibak pintu),

sebab di kursi

ini yang kuterima dari perajin

aku bisa berlama-lama; terlelap dan

sering lupa berdiri– hanya untuk

meludah, kencing, berak! di meja ini

segala makanan yang kau saji,

selahap-lahap kulantakkan. karena

kau ajarkan begitu cara menjaga

menjaga rambut, merawat tubuh,

merapikan meja, menahan kursi

dari orang-orang yang datang

’’ia bukan pemilik dan dilarang

memiliki kursi di sini!’’ selalu kukatakan

begitu setiap yang datang

sejak itu…

2021

Arah Matahari Yang Melangkah

aku berjalan, kini kuikuti arah

matahari yang melangkah

dari timur. setelah lesap aku

berhenti. di sebuah kota yang

tak pernah padam cahayanya

sebuah kota, kau namakan, seribu

cahaya [kataku sejuta cahaya] sebab

tak kulihat jadi kelam, dan aku

meraba bagaikan si buta di jalan

gelap. bahkan kuseret kakiku

tanpa sandal atau sepatu. tapi, tiada

memar. biarpun panas, namun tak

terasa bara. angin sepoi, debu tak

mampu menempel di bajuku

dan kerongkonganku selalu basah

karena zamzam yang sejuk

aku melangkah kini di bawah matahari

yang melangkah di atas kepalaku

menuju langit akhir. matahari lesap

dan aku justru berdekap

di dalam kelimunan orang yang

berputar pada porosnya. serupa

derap jam yang menghitungi angka-angka

di hatiku

ISBEDY STIAWAN ZS,

lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020) dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020).



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *