Saling Gandeng Alumni Aktivis UGM, Galang Donasi Peti Mati Atasi Krisis

  • Bagikan
Saling Gandeng Alumni Aktivis UGM, Galang Donasi Peti Mati Atasi Krisis - Foto 1


TOPNEWS.MY.ID, Sekelompok relawan yang digawangi mayoritas alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggalang donasi peti mati untuk rumah sakit di DIY. Pemakaiannya yang terus meningkat hingga berujung krisis ketersediaan melatarbelakangi gerakan belarasa ini.

Herlambang Yudho Dharmo selaku juru bicara relawan alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM menyebut gerakan ini bekerja dengan mengumpulkan donasi secara sukarela untuk kemudian dibuatkan peti mati. Para relawan ini turun tangan merakit langsung peti tersebut.

“Gerakan ini dimulai 4 hari lalu. Ini total sampai hari ini mungkin 30 peti lebih. Tapi itu juga tidak dibagi rata setiap hari. Hari pertama cuma 5 atau 6 itu, hari kedua tiba-tiba 15,” kata Herlambang saat dihubungi, Jumat (9/7/2021).

Padahal, dari belasan hingga puluhan relawan yang terhimpun melalui gerakan ini tak seorang pun fasih dunia kerajinan kayu. Profesi asli mereka TOPNEWS.MY.ID lain seniman, sutradara, dosen, fotografer, yang akhirnya kebagian peran masing-masing.

“Saya juga fotografer, saya foto, udah bercerita saja (di media sosial). Tidak ngomong minta donasi tapi kemudian ada yang memberikan donasi. Bukan apa-apa, bukan kami tidak butuh donasi. Open donasi itu saya takutnya kalau tidak terkendali kami tidak mampu memenuhi kami juga berat,” bebernya.

Dokumentasi alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM

Adalah Capung Hendrawan, salah seorang dari alumni yang mencetus gerakan ini. Mendapati informasi dari salah seorang rekannya bahwa RSUP Dr Sardjito kekurangan peti mati, sekejap ia mengontak rekan-rekan sesama alumnus untuk memotori penggalangan donasi ini. Kebetulan, kata Herlambang, temannya yang satu ini memang punya kenalan pengrajin kayu yang bisa diajak rembugan.

“Kalau krisis (peti mati) itu ya pemakaman tertunda. Jadi jenazah yang sudah ditahan lebih dari dua jam di rumah sakit dan itu akan terus bertambah dan menumpuk,” jelas Herlambang.

Kata Herlambang, Capung prihatin dengan para nakes di fasiltas kesehatan itu. Ketika peti sedang tidak ada, mereka harus menunggu jenazah sementara tugas lain tetap menanti.

“Mulai dari memandikan, kemudian di kamar jenazah, sampai petugas ambulans pemakaman itu kalau tidak segera diadakan peti itu kami mengkhawatirkan secara psikologis mereka akan terganggu,” lanjutnya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *