Menhub Inggris: Tiba di London, Tifosi Italia Harus Karantina 10 Hari!

  • Bagikan
England


“Fans lawan dipersulit datang, suporter sendiri ditambah jumlahnya. Alasannya, Covid-19. Apakah itu adil?”

TOPNEWS.MY.ID – Kekhawatiran Italia digembosi Inggris dengan faktor nonteknis tampaknya mulai menjadi kenyataan. Akhir pekan ini, Menteri Perhubungan Inggris, Grant Shapps, meminta suporter Gli Azzurri tidak datang ke London demi menghindari penyebaran Covid-19.

Keberhasilan Inggris mencapai final turnamen besar benar-benar memunculkan euforia. Demi menjadi juara Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka menggunakan segala cara, teknis maupun non teknis.

Dari kacamata teknis, FA mempersiapkan skuad yang benar-benar kompetitif dengan Gareth Southgate sebagai nakhoda dan sejumlah pemain muda berkualitas. The Three Lions tampil cuklup stabil di fase grup, babak 16 besar, perempat final, hingga semifinal. 

Sementara hal nonteknis sudah dimulai sejak jauh hari ketika berhasil melobi UEFA untuk menjadikan Wembley salah satu penyelenggara pertandingan Euro 2020. Bukan hanya satu atau dua kali, melainkan juga semua laga semifinal dan final. 

Dengan bermain di kandang, Inggris merasa peluang untuk juara sangat besar. Tentu saja mereka berkaca pada kesuksesan menjuarai Piala Dunia 1966. Apalagi, hingga sekarang, itu menjadi gelar internasional pertama dan satu-satunya yang sanggup dikoleksi The Three Lions. 

Setelah sukses dengan status tuan rumah, hal nonteknis lain segera menyusul. Sebut saja menaikkan jumlah orang yang diizinkan mengunjungi Wembley. Awalnya, stadion keramat itu hanya boleh diisi 20.000 ribu orang. Alasannya, protokol kesehatan Covid-19.

Kemudian, saat memasuki fase knock-out kapasitas ditingkatkan. Di babak 16 besar, 40.000 orang diizinkan datang ke Wembley. Lalu, naik menjadi 60.000 saat semifinal. Rencananya, pada pertandingan final melawan Italia, Senin (12/7/2021) dini hari WIB, stadion berkapasitas 90.000 kursi itu diizinkan diisi penuh dan tanpa perlu melakukan pembatasan sosial.

Sayang, kebijakan Pemerintah Inggris terkesan diskriminatif, terutama kepada pendukung Italia yang berencana menyaksikan langsung di London. Mereka belum mencabut aturan lama terkait karantina bagi orang-orang asing yang datang ke daratan Inggris.

Menteri Perhubungan Inggris, Grant Shapps, menyarankan penggemar sepakbola Italia tidak mencoba melakukan perjalanan ke Inggris untuk menyaksikan final Euro 2020. Alasannya, aturan perjalanan Inggris mengharuskan kedatangan dari luar negeri dengan dikarantina 10 hari.

Ditanya apa yang akan dia katakan kepada penggemar Italia yang mencoba untuk mendapatkan tiket pertandingan, Shapps mengatakan dengan tegas bawah aturan itu (karantina) tidak termasuk yang dicabut (Perdana Menteri Boris Johnson). 

“Jangan (datang ke Inggris)! Itu adalah jawaban untuk pertanyaan sederhana itu,” ucap Shapps, dilansir Reuters.

“Jika kami mendeteksi orang datang hanya untuk menonton sepakbola, mereka tidak akan diizinkan masuk. Dan, pada kenyataannya, banyak penerbangan charter serta penerbangan langsung telah dibatalkan atas dasar itu,” tambah politisi Partai Konservatif tersebut.

Bagaimana dengan orang-orang Italia yang datang menyaksikan pertandingan semifinal melawan Spanyol? Shapps tidak mau menjelaskan lebih detail. Tapi, kemungkinan besar mereka adalah warga Italia yang sudah tinggal dan menetap di Inggris sejak lama. 

Begitu pula dengan para pendukung Spanyol dan Denmark. Pasalnya, aturan Pemerintah Inggris untuk karantina sangat ketat. Apalagi, untuk mencapai Inggris, orang-orang asing harus naik pesawat, menyeberangi terowongan Selat Inggris dengan kendaraan atau kereta api, serta naik kapal laut. 

Dengan geografis Inggris yang berupa pulau besar, orang-orang asing yang datang akan terkontrol dan tidak ada satupun yang bisa lolos dari pemeriksaan. Hanya pemain, pejabat UEFA, atau tamu negara yang diziinkan tidak menjalani karantina.

(andri ananto/anda)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan