Inspiratif! Kisah Karier Domenico Berardi, “Francesco Totti dari Sassuolo”

  • Bagikan
England


“Pernah tolak Juventus, pernah pula dilarang bela timnas. Kini, jadi rebutan banyak klub besar.”

TOPNEWS.MY.ID – Dalam skuad Italia di Euro 2020, terdapat sejumlah pemain dari klub papan tengah ke bawah yang justru tampil memukau menuju final. Salah satunya Domenico Berardi, yang dijuluki “Francesco Totti dari Sassuolo”.

Beroperasi di sayap, Berardi mencetak 17 gol di Serie A 2020/2021 bersama Sassuolo. Itu hanya berselisih tiga gol dari Ciro Immobile sebagai pemain lokal tersebur karena top skor menjadi milik Cristiano Ronaldo dengan 29 gol diikuti Romelu Lukaku (24 gol).

Berkat kontribusi di Sassuolo, Berardi mendapatkan panggilan Gli Azzurri untuk Euro 2020. Itu adalah hal yang tidak pernah dibayangkan karena Sassuolo bukan Juventus, AC Milan, atau Inter Milan, yang punya tradisi menyumbangkan pemain timnas.

Selain itu, perjalanan Berardi untuk menjadi bintang melewati jalan panjang dan berliku. Juventus menjadi tim yang pertama kali melihat bakatnya di turnamen remaja pada 2006. Ketika itu, Berardi masih berusia 12 tahun. Seorang pemandu bakat La Vecchia Signora menawarinya kesempatan pindah ke Turin. Tapi, Berardi menolak.

“Saya belum siap untuk meninggalkan keluarga dan rumah saya di Calabria. Saya ingat ketika itu saya menangis untuk memikirkan pergi,” ujar Berardi kepada La Gazzetta dello Sport.

Gagal ke Juventus, dia memutuskan bermain di klub lokal Cosenza. Beberapa tahun kemudian, dia dijemput  Sassuolo setelah terpantau pemandu bakat. Tapi, berbeda saat tawaran dari Juventus, Berardi tidak menolak ajakan Sassuolo, meski berkompetisi di Serie B.

“Pasquale di Lillo menyerahkan profil saya ke Luciano Carlino (asisten pelatih Sassuolo U-17). Tiga hari kemudian, dia memanggil saya untuk seleksi. Itu berjalan dengan baik dan sejak saat itu saya tidak pernah kembali ke rumah,” kata Berardi.

Sejak bergabung dengan tim junior Sassuolo, karier Berardi semakin menanjak. Hanya butuh waktu singkat, dia sudah masuk ke skuad utama di Serie B. Kariernya terus melejit saat membawa Sassuolo promosi ke Serie A sembilan tahun lalu.

Pada 2013, Juventus kembali datang kepada Berardi. Mereka menyodorkan kontrak kepemilikan bersama dengan Sassuolo. Tapi, dia tidak akan pernah pergi ke Turin. Akibatnya, perjanjian itu diakhiri dan Berardi hanya menjadi milik Sassuolo. Juventus hanya mempertahankan hak untuk menjadi yang pertama membeli Berardi dengan 18 juta euro (Rp310 miliar) jika Sassuolo berniat menjualnya.

Dihukum FIGC dan masuk daftar hitam

Selain merangkak dari bawah, Berardi juga sempar bermasalah dengan Asosiasi Sepakbola Italia (FIGC). Dia pernah dilarang mewakili timnas di segala level selama sembilan bulan. Penyebabnya, tidak menghadiri undangan FIGC untuk pelatnas Euro U-19 2013.

Masalah itu sempat membuat Berardi masuk daftar hitam FIGC. Dia kembali dilarang membela Italia U-21 hanya karena mendapatkan kartu merah di pertandingan bersama Sassuolo. Tentu saja itu alasan yang kurang masuk akal mengingat kartu merah juga didapatkan banyak pemain Italia lainnya.

Tapi, Berardi tidak pernah menjadikan hukuman FIGC sebagai beban berat. Dia mengakui melakukan kesalahan besar dan berjanji mengubahnya jika diberi kesempatan kedua.

“Harus diakui saya memang membuat beberapa kesalahan. Tapi, itu justru membantu saya berkembang. Saya mencoba untuk terus meningkatkan kontrol diri saya. Tapi, itu memang tidak selalu mudah. Saya akan terus berusaha untuk lebih baik lagi,” kata Berardi.

Perubahan positif akhirnya didapatkan Berardi. Berkat dukungan dan kepercayaan Roberto de Zerbi saat melatih Sassuolo, Berardi semakin dewasa. Dia tampil bagus. Dia juga loyak kepada klub dengan mengabaikan sejumlah rumor transfer window. Akibat loyalitasnya, tifosi menyebut Berardi sebagai “Francesco Totti dari Sassuolo”.

“Anda hanya dapat memahami kasus Berardi jika anda mengenal orang itu dengan baik. Dia adalah anak laki-laki sejati. Dia sadar akan kualitasnya. Tapi, ada juga fakta bahwa lingkungan  yang memberinya kekuatan. Teman-temannya, orang-orang yang dicintainya,” kata De Zerbi kepada La Repubblica.

“Domenico meresahkan (bagi sebagian orang) karena kami terbiasa dengan dunia dengan semua orang ingin mendaki lebih, lebih bersinar, mendapatkan lebih banyak. Masa tinggalnya yang bahagia di Sassuolo bertentangan dengan aturan itu,” tambah De Zerbi.

Dihargai Rp687 miliar di transfer window

Ketika masih muda, Berardi dibandingkan dengan Roberto Baggio yang ikonik sebagai pemain No.10 oleh mantan gelandang Italia, Giancarlo Antognoni. Uniknya, Berardi sendiri merasa permainannya lebih mirip dengan pemain sayap Belanda, Arjen Robben.

Namun, pada kenyataannya, dia sangat berbeda dengan keduanya. Dia tidak memiliki kemampuan menggiring bola yang baik seperti kedua pemain itu. Meski memiliki kaki kiri yang fantastis seperti Robben, dia tidak diberkati dengan kecepatan sebanyak mantan pemain Bayern Muenchen itu.

Kelebihan Berardi adalah kekuatan, kepintaran, dan rajin. Dia telah berkembang menjadi apa yang diharapkan oleh mantan pelatih Italia, Arrigo Sacchi. “Seorang pesepakbola yang sangat modern yang bermain dengan dan untuk timnya sepanjang waktu dan di seluruh lapangan,” ucap Sacchi.

Apakah Italia akan juara Euro 2020 atau tidak, bisa dipastikan harga Berardi akan naik 2-3 kali lipat. Rumornya, ada banyak klub besar di Inggris yang berminat. Bahkan, Shakhtar Donetsk, yang baru saja mempekerjakan De Zerbi sebagai pelatih, sudah mengajukan proposal secara resmi. Nominalnya, 30 juta euro (Rp515 miliar). Tapi, Sassuolo meminta 40 juta euro (Rp687 miliar).

“Saya berharap Domenico menjalani Euro 2020 yang hebat dan tetap bersama kami musim depan. Dia adalah simbol kami, Francesco Totti dari Sassuolo,” kata CEO Sasuolo, Giovanni Carnevali, kepada Tuttosport. 

Tampaknya, harapan Carnevali kali ini tidak akan terwujud. Berardi benar-benar menjadi Euro 2020 sebagai ajang promosi untuk klub-klub besar Benua Biru. Dia mengaku sedang mempertimbangkan sejumlah tawaran yang datang. Tapi, Berardi belum bersedia menyebut klub mana yang dituju.

“Saya pernah menolak tim-tim penting di masa lalu karena saat itu saya merasa tidak dewasa. Tapi, selama bertahun-tahun, saya telah tumbuh dewasa. Jika kesempatan klub besar terjadi, saya akan mengevaluasinya,” pungkas pemuda kelahiran Cariati, 1 Agustus 1994.

(muhammad alkautsar/anda)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *