Akun Medsos Seorang Profesor Diblokir Twitter Usai Menghina Xi Jinping

  • Bagikan
alexametrics


TOPNEWS.MY.ID – Twitter menangguhkan sementara akun media sosial seorang profesor Selandia Baru setelah mengejek peringatan 100 tahun Partai Komunis Tiongkok dan Presiden Xi Jinping. Profesor Anne-Marie Brady, pengajar di Universitas Canterbury, menulis dua tweet yang mengolok-olok Tiongkok dan Xi Jinping yang merayakan seratus tahun Partai Komunis.

Dia memposting cerita di Sydney Morning Herald berjudul ‘Perayaan ulang tahun ke-100 Xi Partai Komunis Tiongkok’. Dia dengan menambahkan ‘judul alternatif’ yakni ‘Xi: Ini Partai Saya dan Saya akan Menangis jika Saya Mau’ mengacu pada lagu hit Lesley Gore dari 1963.

Di foto lain, dia memposting foto Xi yang tampak masam diapit oleh dua pejabat Tiongkok. Dia menulis ‘Sebuah gambar bernilai seribu kata’.

Brady mengatakan, pihak Twitter untuk sementara menangguhkan akunnya. Dia pun merasa kecewa. “Sepertinya seseorang tidak boleh mengolok-olok pemimpin yang terhormat,” katanya.

Twitter tidak menjelaskan penangguhan akun Brady, selain memposting pemberitahuan ‘Akun ini sementara dibatasi’ di tweet. Tindakan Twitter menarik perhatian kolumnis untuk surat kabar Sunday Times London, Edward Lucas yang membela Brady.

“Twitter belum menjelaskan apa yang mendorong ini dilakukan,” tulis Lucas di kolom yang dia tulis. “Brady hanya menerima peringatan otomatis bahwa dia mungkin telah melanggar aturan platform media sosial,” jelasnya.

Brady berterima kasih kepada Lucas karena campur tangan dan menautkan ke kolom Lucas. “Sepertinya @Twitter mungkin lupa bahwa mereka tidak bekerja untuk Xi Jinping,” tulis Brady.

Dalam sebuah pernyataan, Twitter mengatakan akan ada pemberitahuan sementara ketika mendeteksi aktivitas yang tidak biasa dari sebuah akun hingga mendapat konfirmasi dari pemilik akun. Raksasa media sosial itu juga membantah telah menangguhkan akun tersebut karena tekanan dari pemerintah Tiongkok.

“Untuk meluruskan, pernyataan bahwa Twitter berkoordinasi dengan pemerintah mana pun untuk menekan pidato tidak memiliki dasar fakta apa pun,” kata Twitter.

“Kami mengadvokasi internet yang bebas, global, dan terbuka serta tetap menjadi pembela setia kebebasan berekspresi,” imbuh Twitter.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan