Melihat Khitanan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Surabaya

  • Bagikan
alexametrics


Proses khitan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak bisa sembarangan. Butuh tenaga ekstra agar khitanan berjalan mulus. Sulitnya komunikasi dan reaksi histeris menjadi tantangan tersendiri.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya

MINGGU siang itu (13/6) menjadi hari yang bersejarah bagi Rafif Quincy: dia berhasil dikhitan. Berat nian proses potong alat kelamin itu dia lalui. Dia meronta-ronta, menangis. Dia merengek-rengek dengan nada naik-turun, seperti penyanyi yang pindah-pindah suara dari tenor menjadi bariton, lalu berubah lagi dari bariton ke tenor. Ketakutan benar rupanya.

Tibalah saatnya dia menerima suntikan bius dari dokter. Suaranya tak lagi naik-turun. ’’Aaarrgh!! Aarrghh!!” teriaknya kencang, kencang sekali.

Rafif hanya bisa berteriak dan menangis. Tujuh laki-laki memegangi tubuhnya agar tak semakin memberontak. Dokter kemudian menyayat alat kelaminnya.

Dua puluh menit kemudian, proses khitan selesai. Rafif mulai tenang. Dia lantas bangun dari tempat tidur. ’’Ayo pulang,” katanya datar kepada dokter dan para relawan yang memegangi tubuhnya selama proses khitan. Ajakan itu disambut tawa dan perasaan lega dari orang-orang.

Proses khitan yang terasa ’’berat” seperti itulah yang biasa terjadi pada anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Rafif mengidap autisme. Disabilitas semacam itu membuatnya berperilaku berbeda ketika merasa terancam. Dalam proses khitan tersebut, sebenarnya dokter menggunakan teknik khitan tanpa jahitan yang tidak bikin sakit (smartklamp).

Tapi, rasa takut membuat Rafif berteriak histeris. Rafif sebenarnya sudah diberi tahu bahwa dia bakal dikhitan. Sebelum mengikuti khitanan massal yang diselenggarakan Yayasan Ananda Mutiara Indonesia (AMI) di Sidoarjo, dia dijemput Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Bangun Bangsa Surabaya Oktalia Pramudyastuti.

Rafif memang terbiasa diantar-jemput setiap pergi dan pulang sekolah. Kala itu, Lia –sapaan akrab Oktalia– menjemput Rafif dari rumahnya di kawasan Kedungcowek ke kawasan Anggaswangi, Sidoarjo. ’’Waktu jemput ya bilangnya mau sekolah. Tapi pas di mobil, saya bilang, ’nanti dikhitan ya Rafif, dipotong burungnya biar sehat’,” kata Lia.

Rafif menjawab dengan reaksi yang biasa. Dia hanya mengoceh, tapi terlihat riang. ’’Ya dia makan es krim saja di mobil, hahaha,” ungkap Lia.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *