Kisah Nick Powell, Pemain Bagus di Waktu yang Salah

  • Bagikan
Spain


“Gara-gara ditinggal Fergie malah melempem tak dimainkan lagi.”

TOPNEWS.MY.ID – Kita kembali pada musim 2015/2016 ketika Manchester United asuhan Louis van Gaal tengah mengejar gol penyeimbang yang mereka butuhkan saat melawan Wolfsburg untuk lolos dari grup Liga Champions, pria Belanda itu mengganti Juan Mata dan memasukkan Powell. Hanya demi itu saja Powell harus menunggu 3 tahun.

Menjelang akhir kariernya di MU, Powell menjadi bahan tertawaan, sering diolok-olok dan dijadikan meme. Tapi, mungkin saja segalanya bisa sangat berbeda jika pada saat itu orang yang merekrutnya masih di Old Trafford.

Tapi, membatasi karier Powell di MU ke titik terendah itu berarti memandangnya tidak adil. Mari tarik sedikit waktu ke belakang.

Awal Mula Karier Nick Powell
 
Ketika seorang anak berusia 18 tahun memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Tahun Ini bahkan sekalipun di League Two, itu akan tetap membuat orang duduk dan memperhatikan. Kita tahu itulah potensi besar.

Dan itulah Powell, pada usia yang amat muda, sudah masuk dalam radar klub-klub besar. Ketika dia memimpin Crewe Alexandra ke final play-off League Two 2012, melawan Cheltenham Town.

Laga itu digelar di Wembley Stadium, dan tentu saja kehadiran begitu banyak penonton. Dan hanya butuh 15 menit baginya untuk mencuri perhatian, mencetak jenis gol yang membuat Anda menggosok mata karena kaget.  

Kecepatan berpikir dan bergeraknya luar biasa. Powell membalik badan dan lewat kaki kirinya gol tercipta.  

Bermula dari situlah Sir Alex Ferguson menaruh hati. Powell adalah tipe pemain yang akan diproyeksikan menjadi bintang di Old Trafford. Powell di mata Fergie adalah talenta mentah yang kurang taktikal. Tapi, dia pembaca permainan yang baik, seorang remaja yang menonjol di TOPNEWS.MY.ID generasi sebelumnya.

Mereka yang sebelumnya rutin menyaksikan Powell di Crewe, tidak akan terkejut melihat dia langsung beraksi dengan gol debutnya untuk United saat melawan Wigan. Meski sedikit yang kami tahu itu akan menjadi satu-satunya gol seniornya untuk klub.

Tapi di sisi lain, seandainya Powell tiba bahkan beberapa tahun sebelumnya, ini mungkin merupakan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Bahkan jika dia dipaksa untuk menunggu serangkaian pertandingan. Sebab, Ferguson adalah tipe pelatih dengan sejarah yang menjelaskan kepada anak-anak muda bahwa waktu mereka akan tiba, dan di tangan Ferguson emas akan bertambah jadi emas.

Tapi nasib tak memihak, Fergie pensiun melatih pada Mei 2013, setelah 2 dekade lebih melatih MU. Dan, otomatis Powell dilatih oleh tangan yang berbeda. Mulai dari David Moyes dan kemudian Van Gaal. Powell tak banyak berbuat dan dipakai. Dia sempat dipinjamkan ke  Leicester City, tapi itu juga tak mengubah jalan kariernya.

Pada musim 2016/2017, Powell resmi hengkang ke Hull City. Setelah meninggalkan Old Trafford secara permanen, dia bermain di Championship dan League One. Dan saat ini memperkuat Stoke City.

Gelandang yang pernah diharapkan untuk tangguh seperti Paul Scholes itu harus menerima kenyataan bahwa menikmati sepak bola di level yang lebih rendah seringkali bisa jauh lebih sehat daripada harus sengsara dan frustrasi di puncak piramida.

Namun, masih ada bagian dari kita yang bertanya-tanya apakah dia bisa terbang ke  langit-langit yang tinggi, seperti halnya semua cerita ini bermula ketika usia Nick Powell 18 tahun.

(gigih imanadi darma/gie)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *