Cara Suporter dan Jurnalis Menyaksikan Bali United Berlatih, Panjat Tembok! | Bolaindo

  • Bagikan



Pelatih Bali United, Stefano Teco Cugurra, sangat memproteksi skuad asuhannya. Dia memberlakukan sesi latihan tertutup. Bukan satu atau bulan saja Teco melakukannya, tetapi sudah sejak Agustus 2020.

Hal ini karena efek pandemi COVID-19. Wajar Teco menginginkan latihan tertutup sejak Liga 1 2020 diwacanakan bergulir kembali pada Oktober tahun lalu. Dia tidak ingin jajaran pelatih, pemain, hingga ofisial Bali United terjangkit SARS-CoV-2, nama lain dari virus corona.

“Mengenai latihan tertutup, kami hanya ingin menjaga kesehatan semua komponen tim. Dengan jumlah orang yang tidak terlalu ramai, maka kemungkinan untuk sakit juga semakin kecil,” kata Teco yang sempat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Ketika Bali United berdiri sejak 2015, suporter selalu ramai menyaksikan sesi latihan Tim Serdadu Tridatu. Entah mereka melakukan latihan di Lapangan Yoga Perkanthi, Lapangan Gelora Tri Sakti Legian, Lapangan Gelora Samudera Kuta, Lapangan Banteng Seminyak, hingga Stadion Ngurah Rai. Hampir setiap sesi latihan disaksikan oleh suporter.

Mereka datang bukan hanya sekadar untuk melihat tim kebanggaan dari dekat, tetapi mereka mencoba untuk berinteraksi dengan pemain. Sekadar menyapa atau berswafoto, sudah cukup untuk suporter.

Untuk sekarang, mau tidak mau suporter hanya bisa menyaksikan Stefano Lilipaly dkk. berlatih dari konten yang diunggah tim media Serdadu Tridatu channel YouTube atau akun media sosial resmi milik mereka. Tetapi, ada cara yang lebih yaitu memanjat tembok!

Cara inilah yang dilakukan suporter dan bahkan awak media saat melakukan peliputan di tengah Teco yang memberlakukan kebijakan ketat untuk memproteksi pemainnya.

Dari pantauan selama ini, saat sesi latihan di Lapangan Tri Sakti Legian saja yang tidak terlalu banyak suporter melihat dengan cara memanjat tembok.

Pasalnya, tembok lapangan yang saat ini sedang dalam proses revitalisasi untuk Piala Dunia U-20 itu terbilang cukup tinggi.

Selain itu, pada Agustus hingga Oktober tahun lalu masyarakat Pulau Dewata masih cukup takut dengan COVID-19. Apalagi, angka kenaikan kasus positif perhari di Bali cukup tinggi.

Baru setelah awal tahun 2021 latihan berpindah ke Lapangan Karya Manunggal, Sidakarya, sesi latihan cukup banyak disaksikan suporter. Hal tersebut karena tembok lapangan yang tidak terlalu tinggi.

Akan tetapi, skuad Bali United hanya sebentar berlatih di Karya Manunggal. Hanya sekitar satu bulan saja sebelum perhelatan Piala Menpora 2021.

Kembali dari Yogyakarta, Ilija Spasojevic dkk hijrah ke Lapangan Yoga Perkanthi Jimbaran. Di sana penjagaan lebih ketat karena pada pengamanan dari Desa Adat Jimbaran yang melakukan penjagaan di pintu gerbang lapangan.

Awak media dan suporter semakin sulit menyaksikan sesi latihan. Teco juga masih belum bisa diwawancarai langsung oleh awak media.

“Mereka (Manajemen Bali United) yang meminta akses ditutup untuk masyarakat. Hanya internal tim yang diperkenankan untuk masuk ke lapangan,” ujar salah satu petugas keamanan Desa Adat Jimbaran, Agus Suteja.

Pada akhirnya, Teco luluh dan memperbolehkan awak media untuk masuk ke lapangan. Tetapi tidak boleh dekat dengan pemain serta pelatih. Awak media hanya diperkenankan berada di luar pagar pembatas lapangan dengan area parkir.

Ketika Bali United melakukan latih tanding dengan klub penghuni Liga 2 Rans Cilegon FC pada 30 Mei lalu, masyarakat yang ingin menyaksikan pertandingan semakin membludak. Mereka tidak diperkenankan masuk lapangan.

Tapi mereka mengakalinya dengan menyaksikan pertandingan dari atas tembok setinggi kurang lebih 3 meter. Mereka rela memanjat tembok pembatas hanya untuk menyaksikan klub kebanggaannya bermain kembali di rumah sendiri.

“Saya tahu uji coba ini dari pemberitaan. Makanya saya nekad saja datang,” ungkap Made Sumada, salah seorang masyarakat. Dengan segala keterbatasan yang ada, inilah bumbu dalam sepak bola ditengah pandemi.

Awak media yang mencoba melakukan peliputan langsung akhirnya memiliki cerita tersendiri. Entah kesal, senang, hingga kecewa, semua campur aduk menjadi satu.

“Hanya untuk mendapat foto latihan, kami harus kucing-kucingan. Harus berdiri di sepeda motor sampai melihat latihan dari celah pintu gerbang. Kami lakukan semua ini untuk tahu perkembangan Bali United,” terang salah seorang wartawan lokal Ari Purboyo. (Maheswara Putra)

Berita Terkait



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *