Candra Wijaya: Saya di Pinggir Lapangan Melihat Kido Terjatuh

  • Bagikan
Poland


“”Juara dunia 2007 di Kuala Lumpur, medali emas Olimpiade Beijing 2008, dan emas Asian Games 2010 Guangzhou bersama Hendra Setiawan, nama Kido begitu harum di pentas dunia.””

TOPNEWS.MY.ID – Kabar duka datang dari dunia bulutangkis Indonesia, karena salah satu atlet terbaik tanah air, Markis Kido meninggal dunia pada hari Senin (14/6) malam.

Seperti dikutip dari badmintonindonesia.org, Kido atau yang akrab disapa Uda, berpulang saat sedang bermain bulutangkis di GOR Petrolin, Alam Sutera, Tangerang. Menurut Candra Wijaya, mantan pemain bulutangkis yang hadir di arena, Kido tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri saat baru bermain setengah jam, saat itu pukul menunjukan jam 18.30 WIB.

“Saya duduk di pinggir lapangan melihat Kido terjatuh. Dan saya lari menolong. Dia tidak sadarkan diri dan mengorok ,” ujar mantan pemain bulutangkis berusia 45 tahun tersebut, yang langsung membawa Kido ke RS Omni di Alam Sutra, Tangerang.

Memang, pemenang pasangan ganda bulutangkis Olimpiade 2008 itu terhitung rutin bermain bututangkis setiap hari Senin dengan sebuah tim di sana. Ibunda Kido, Zul Asteria yang tampak tegar menjelaskan kondisi putra pertamanya tersebut.

“Dia sepertinya memang maunya (hidup dan matinya) di lapangan kali ya. Tadi saya berdoa semoga masih bisa selamat,” ujar ibunda Kido,  Zul Asteria.

“Saya kira tadi hanya stroke, karna dia kan punya darah tinggi terus mungkin jatuh dan pembuluh darahnya pecah. Saya berdoanya begitu tapi ternyata mas Kido diambil,” lanjutnya.

Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menyampaikan duka yang mendalam dan rasa kehilangan yang besar atas musibah ini.

“Hari ini keluarga besar bulutangkis Indonesia sangat berduka dengan berpulangnya Markis Kido, pahlawan bulutangkis yang telah berulang kali mengharumkan nama Merah Putih di panggung bulutangkis dunia,” ucap Agung Firman Sampurna, Ketua Umum PP PBSI.

“Meninggalnya Kido merupakan sebuah kehilangan besar bagi dunia bulutangkis Indonesia yang tengah menghadapi Olimpiade Tokyo. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan,” sambung Agung.

Markis Kido layak disebut legenda bulutangkis dengan segala prestasi yang ia sudah torehkan untuk Indonesia. Oleh karenanya, PBSI berharap suri tauladan pria kelahiran Jakarta 1984 itu menjadi inspirasi untuk para pemain muda bulutangkis Indonesia.

“Dengan prestasi besar seperti juara dunia 2007 di Kuala Lumpur, medali emas Olimpiade Beijing 2008, dan emas Asian Games 2010 Guangzhou bersama Hendra Setiawan, nama Kido begitu harum di pentas dunia. Kami keluarga besar bulutangkis Indonesia dan PBSI ikut berduka cita dan merasa kehilangan besar dengan berpulangnya Markis Kido,” tutur Agung.

“Semoga suri teladan, semangat juang, prestasi besar, dan etos kerja yang telah ditunjukkan Markis Kido selama ini, bisa menginspirasi para pemain-pemain bulutangkis Indonesia untuk mengikuti jejak almarhum,” pesannya.

Kido wafat di usia 36 tahun dengan meninggalkan seorang istri, Richasari Pawestri dan dua orang putri. Jenazah langsung dimakamkan di rumah duka di Jalan Gemak B149, RT.003/RW.009, Jaka Setia, Kec. Bekasi Selatan, Kota Bekasi, malam kemarin usai kedatangan sang istri dari Solo.

Selamat jalan Kido, salah satu pebulutangkis terhebat milik Indoensia, doa terbaik untuk mu.

(muflih miftahul kamal/anda)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *