5 Fakta Menarik Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Tak Segan Bunuh Anak-anak Palestina

  • Bagikan
5 Fakta Menarik Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Tak Segan Bunuh Anak-anak Palestina - Foto 1


TOPNEWS.MY.ID, Kepemimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang berada di ujung tanduk setelah koalisi partainya, Likud, kembali gagal membentuk kabinet pemerintahan. Padahal, mereka telah meraup mayoritas suara dalam Pemilu pada Maret lalu. Di sisi lain, pesaing utama Netanyahu, Yair Lapid dari partai Yesh Atid telah diberi mandat oleh Presiden Reuven Rivlin untuk membentuk pemerintahan baru.

Lapid lantas membujuk Naftali Bennet dan partainya, Yamina, bersama politisi Arab-Israel lainnya untuk membentuk koalisi tandingan Netanyahu. Partai tersebut juga menawarkan pembagian kekuasaan dan mengizinkan Bennett berkuasa sebagai perdana menteri selama 1 periode dan nantinya akan digilir.

Lantas seperti apa sosok Naftali Bennett?

Dihimpun TOPNEWS.MY.ID dari berbagai sumber, ini 5 fakta menarik Naftali Bennett.

1. Kariernya di militer penuh kontroversi

Haaretz

Bennet lahir dari orang tua Amerika Serikat (AS) yang berimigrasi dari San Fransisco ke Israel pada tahun 1967. Pada 1990, ia direkrut menjadi anggota Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Ultranasionalis sayap kanan ini pun pernah bertugas selama konflik Lebanon Selatan pada 1982-2000. Ia juga terlibat banyak agresi, termasuk Operasi ‘Grapes of Wrath’.

Sebagai komando pasukan khusus, tindakan Bennett beberapa kali menuai kontroversi, terutama saat terlibat Operasi Grapes of Wrath. Saat itu, ia menyerukan tembakan artileri setelah unitnya ditembaki mortir. Namun, tembakan tersebut menghantam kompleks PBB yang menjadi tempat perlindungan warga sipil. Insiden ini lantas dikenal sebagai pembantaian Qana.

Ia juga terkadang mengabaikan perintah dan mengubah rencana operasionalnya, tanpa mengoordinasikan manuver tersebut dengan atasannya. Saat di dekat Desa Kfar Kana, pasukan Bennett terjebak dalam penyergapan. Akibatnya, 102 warga sipil tewas, 10 terluka, 4 di antaranya merupakan penjaga perdamaian PBB. Meski kontroversial, ia dibela mantan anggota unitnya yang memuji Bennett bahwa kesuksesan operasinya telah mengantarkan pelenyapan teroris Hizbullah jauh di wilayah musuh.

2. Banting setir sebagai pengusaha

5 Fakta Menarik Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Tak Segan Bunuh Anak-anak Palestina - Foto 2
BBC

Selepas dari militer, Bennett memilih terjun sebagai pengusaha perangkat lunak. Pada 1999, ia mendirikan Cyota, sebuah perusahaan perangkat lunak anti-penipuan. Perusahaan ini lantas dijual pada 2005 dengan harga fantastis dan menjadikannya sebagai seorang konglomerat.

Bennett juga menjabat sebagai CEO Soluto, sebuah perusahaan teknologi yang menyediakan layanan berbasis cloud yang memungkinkan dukungan jarak jauh untuk komputer pribadi dan perangkat seluler pada 2009. Bersama mitranya, Lior Golan, ia aktif terlibat penggalangan dana untuk berbagai startup teknologi Israel. Pada Oktober 2013, Solute dijual ke perusahaan AS Asurion.

3. Terjun ke politik

5 Fakta Menarik Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Tak Segan Bunuh Anak-anak Palestina - Foto 3
The Times of Israel

Setelah berwirausaha di AS, Bennett kembali ke Israel dan terjun ke kancah politik. Awalnya, ia bergabung dengan partai Likud dan menjadi kepala staf Netanyahu dari 2006-2008. Pria 49 tahun ini lantas ‘pindah kapal’ ke partai Jewish Home dan menjadi pemimpinnya pada 2012-2018. Ia pun menjadi mitra kunci dalam pemerintahan koalisi Netanyahu.

Kariernya semakin menanjak dengan menjabat sebagai menteri pendidikan dan menteri urusan diaspora. Ia juga pernah dipercaya sebagai menteri ekonomi dan menteri layanan agama. Pria kelahiran Haifa ini juga didapuk sebagai menteri pertahanan pada 2019-2020 di bawah pemerintahan Netanyahu. Pada 2018, Bennett meninggalkan Jewish Home dan membentuk partai Yamina (Kanan Baru).

4. Blak-blakan menentang Palestina

5 Fakta Menarik Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Tak Segan Bunuh Anak-anak Palestina - Foto 4
CNN

Bennett berulang kali menyatakan penentangannya terhadap negara Palestina di wilayah-wilayah pendudukan. Ia pun mengusulkan Israel agar secara sepihak mencaplok sekitar 60 persen dari Tepi Barat Palestina yang berada di bawah kendali penuh Israel di bawah Kesepakatan Oslo yang dianggap sementara. Pada 2014, ayah 4 anak ini mengatakan akan secara bertahap mencoba mencaplok wilayah Yudea dan Samaria di Tepi Barat yang diduduki. Pada 2013, ia menyatakan dukungannya terhadap penerapan kedaulatan Israel di zona yang dihuni 400 ribu pemukim Israel dan hanya 70 ribu orang Arab. Pria ini juga mengolok-olok negosiasi yang dipimpin AS yang saat itu di bawah pemerintahan Obama.

Penentangannya terhadap Palestina juga diungkapkannya lewat kolom opini The New York Times pada 2014. Menurutnya, dua negara bukanlah solusi bagi Israel. Ia kembali menyerukan rencana pencaplokan 60 persen Tepi Barat. Pada 2013, ia mengatakan kepada majalah New Yorker kalau ia rela melakukan segalanya untuk melawan negara Palestina yang didirikan di Tanah Israel.

“Hal terpenting di Tanah Israel adalah membangun, membangun, membangun (pemukiman). Penting bahwa Israel akan hadir di mana-mana. Masalah utama kita adalah pemimpin Israel masih enggan untuk menyatakan bahwa Tanah Israel adalah milik Rakyat Israel,” ungkapnya pada Juni 2013.

5. Tak segan menghabisi anak-anak Palestina sekalipun

5 Fakta Menarik Naftali Bennett, Calon PM Israel yang Tak Segan Bunuh Anak-anak Palestina - Foto 5
BBC

Pada Oktober 2018, Bennet mengatakan jika ia menjadi menteri pertahanan, ia akan memerintahkan kebijakan tembak di tempat bagi warga Palestina yang mencoba berjalan melintasi perbatasan TOPNEWS.MY.ID Israel dan Gaza. Ketika ditanya apakah ia akan memerintahkan tentara untuk membunuh anak-anak Palestina, Bennett pun mengiyakannya.

“Mereka bukan anak-anak. Mereka adalah teroris. Kita membodohi diri sendiri. Saya melihat foto-fotonya,” dalihnya.

Dalam Protes Gaza 2018 (Great March of Return), setidaknya 140 demonstran telah dibunuh oleh tentara Israel, termasuk setidaknya 29 anak-anak menurut PBB, serta pekerja medis dan jurnalis. Sementara itu, 29 ribu lainnya terluka.

Pada 2013, Bennett memicu kontroversi selama rapat kabinet terkait pembebasan tahanan Palestina. Pasalnya, ia menyerukan membunuh para tahanan Palestina.

“Jika kita menangkap teroris. kita hanya perlu membunuh mereka. Saya telah membunuh banyak orang Arab dalam hidup saya dan tak ada masalah tentang itu,” ucapnya.

Saat diminta klarifikasi oleh wartawan, seorang juru bicara mengatakan bahwa menurut Bennett, tentara Israel seharusnya diperintahkan untuk membunuh warga Palestina, alih-alih menangkap dan memenjarakan mereka.

Pada Rabu (2/6), Bennett menandatangani perjanjian koalisi dengan Yair Lapid, di mana ia akan menjabat sebagai perdana menteri Israel hingga 2023. Kemudian, Lapid akan mengambil alih jabatan itu hingga 2025.[]



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *