Starting XI Pemain Argentina Juara Liga Eropa Sejak Era Piala UEFA

  • Bagikan
Libero.id


“Banyak pemain Argentina yang mampu mempersembahkan trofi bergengsi untuk klub Eropa yang diperkuatnya.”

TOPNEWS.MY.ID – Argentina dikenal sebagai salah satu negara yang memproduksi banyak pesepakbola top internasional. Banyak pemain Negeri Tango yang sukses di klub-klub Eropa, termasuk mempersembahkan gelar juara Liga Eropa atau Piala UEFA.

Sejak lama Argentina selalu mengekspor pemain sepakbola di banyak negara. Beberapa tidak mampu menjawab tantangan. Tapi, sangat banyak yang meraih sukses, bergelimang trofi, hingga menjadi legenda. Lionel Messi menjadi salah satu contoh suksesnya.

Tapi, Argentina bukan hanya Messi. Sejak dulu hingga sekarang, negara itu tidak pernah berhenti menelurkan bakat-bakat pemain hebat. Banyak pemain Argentina yang mampu mempersembahkan trofi bergengsi untuk klub Eropa yang diperkuatnya. Salah satunya Liga Eropa (Piala UEFA).

Berikut ini starting line-up terbaik pemain-pemain Argentina yang pernah menjuarai Liga Eropa atau Piala UEFA:

GK: Sergio Romero (Manchester United)

Sergio Romero adalah kiper cadangan di Manchester United. Selama waktunya di Old Trafford, dia harus puas duduk manis di bench sambil melihat David de Gea bermain secara reguler. Dia baru main saat De Gea cedera atau mendapatkan hukuman kartu.

Tapi, bukan berarti Romero tidak pernah terlibat dalam pertandingan kompetitif MU. Salah satu yang tidak bisa dilupakan adalah keputusan Jose Mourinho memainkan Romero sebagai kiper utama di final Liga Eropa 2016/2017 melawan Ajax Amsterdam.

Romero tampil bagus. Dia melakukan tiga penyelamatan untuk membantu The Red Devils unggul 2-0. Dengan final, Romero bermain total di 12 di Benua Biru pada musim tersebut.

RB: Javier Zanetti (Inter Milan)

Hampir semua piala dipersembahkan Javier Zanetti kepada Inter Milan saat aktif menjadi pemain profesional. Pria yang kini menjadi wakil presiden I Nerazzurri tersebut menjadi bagian dari generasi emas Inter ketika meraih sejarah treble winners 2009/2010.

Tapi, sebelum menjuarai Liga Champions, Zanetti sempat menyumbangkan Piala UEFA 1997/1998. Saat itu, Inter mengalahkan Lazio 3-0 di final. Zanetti ikut menyumbang salah satu golnya.

CB: Roberto Ayala (Valencia)

Kredit: twitter.com/championsleague

Roberto Ayala melakukan debut untuk Valencia dalam kemenangan 3-0 atas Numancia di La Liga, 24 September 2000. Dia segera membuktikan dirinya sebagai bek tengah pilihan pertama dan mulai bersama rekan senegaranya, Mauricio Pellegrino, di final Liga Champions 2020/2001.

Musim berikutnya, Ayala menjadi bagian dari tim yang meraih gelar La Liga 2001/2002. Dia mencetak gol pembuka dari kekalahan 0-2 dari Malaga yang mengamankan piala juara pada 5 Mei 2002.

Pada tahun 2003/2004, Valencia kembali memenangkan gelar La Liga dan mengalahkan Marseille 2-0 di Gothenburg untuk memenangkan Piala UEFA. Saat itu, dia berduet dengan Carlos Marchena di jantung pertahanan dan membuat para pemain depan Marseille yang dimotori Didier Drogba kesulitan.

CB: Roberto Sensini (Parma)

Roberto Sensini bermain empat musim untuk Udinese sebelum pindah ke Parma pada 1993. Di sana, dia bertahan selama enam musim berikutnya. Selama periode ini Sensini kadang-kadang bermain di lini tengah. Dia membantu Parma memenangkan dua Piala UEFA, dua Coppa Italia, dan Piala Super Eropa, serta mencapai final Piala Winners.

Dia kemudian memenangkan scudetto 1999/2000 bersama Lazio, Coppa Italia, Piala Super Eropa, dan Supercoppa Italiana di musim pertamanya. Setelah dua tahun bersama klub, ia pindah kembali ke Parma untuk satu tahun berikutnya, memenangkan Coppa Italia lainnya, sebelum kembali ke klub Italia pertamanya, Udinese, pada 2002.

Sensini adalah salah satu pemain tertua di Serie A 2005/2006. Bahkan, memegang rekor sebagai pemain asing tertua yang mencetak gol di divisi pertama, pada usia 39 tahun 2 bulan 26 hari. Dengan Lebih dari 380 pertandingan di level atas, dia dianggap sebagai salah satu bek paling berpengalaman di Italia.

LB: Mariano Pernia (Atletico Madrid)

Mariano Pernia ikut menjadi bagian dari skuad Atletico Madrid yang menjuarai Liga Eropa 2009/2010. Meski tidak ikut bermain di final, full back kiri itu punya peran yang sangat signifikan dalam perjalanan luar biasa Los Colchoneros saat itu. Uniknya, meski lahir dan besar di Argentina, Pernia pada akhirnya memilih membela Spanyol.

RW: Diego Maradona (Napoli)

Libero.id

Kredit: instagram.com/maradona

Napoli memecahkan rekor transfer dunia setelah mengakuisisi Diego Maradona dalam kesepakatan 12 juta euro dari Barcelona pada 30 Juni 1984. Skuad ini secara bertahap dibangun kembali, dengan orang-orang seperti Ciro Ferrara, Salvatore Bagni, dan Fernando de Napoli mengisi barisan.

Musim 1986/1987 adalah tonggak sejarah Napoli. Mereka memenangkan gelar ganda dengan mengamankan gelar Serie A dan kemudian mengalahkan Atalanta 4-0 untuk mengangkat Coppa Italia.

Klub ini tidak berhasil di Liga Champions pada musim berikutnya dan menjadi runner-up di Serie A. Tapi, Napoli masuk ke Piala UEFA untuk 1988/1989 dan memenangkan gelar besar Eropa pertama mereka. Juventus, Bayern Muenchen dan PAOK dikalahkan dalam perjalanan ke final. Lalu, Napoli mengalahkan VfB Stuttgart 5-4 secara agregat, dengan dua gol dari Careca dan masing-masing satu dari Maradona, Ferrara, dan Alemao di final.

MF: Osvaldo Ardiles (Tottenham Hotspur)

Setelah Perang Malvinas TOPNEWS.MY.ID Inggris dan Argentina, karier Osvaldo Ardiles menjadi sulit. Dia harus meninggalkan Tottenham Hotspur untuk dipinjamkan ke Paris Saint-Germain.

Tapi, setelah satu musim di Paris, dia justru kembali ke Tottenham. Dia membantu klub memenangkan Piala UEFA 1983/1984. Saat itu, Ardiles masuk sebagai pemain pengganti di leg kedua final menghadapi Anderlecht. Tottenham menang adu penalti 4-3 setelh bermain imbang 1-1 di leg pertama dan kedua.

MF: Juan Sebastian Veron (Parma)

Juan Sebastian Veron diingat sebagai salah satu anggota generasi emas Parma yang menguasai Piala UEFA 1998/1999. Bersama Hernan Crespo dan Enrico Chiesa, Parma mengalahkan Marseille di final. Sebagai playmaker, peran pemain berkepala plontos itu sangat vital pada era tersebut.

LW: Pablo Aimar (Valencia)

Piala UEFA 2003/2004 menjadi puncak penampilan generasi emas Valencia yang dimotori Pablo Aimar. Meski sempat diganggu cedera, dia masih sanggup membuat lebih dari 30 penampilan. Aimar mengakhiri musim itu dengan membantu klubnya mengalahkan Marseille di final Piala UEFA.

FW: Hernan Crespo (Parma)

Libero.id

Kredit: twitter.com/1913parmacalcio

Hernan Crespo meninggalkan River Plate menuju Parma pada 14 Agustus 1996 setelah memenangkan medali perak bersama Argentina di Olimpiade Atlanta 1996 dan finish sebagai pencetak gol terbanyak dengan enam gol.

Dia gagal mencetak gol dalam enam bulan pertamanya di klub dan secara rutin dicemooh, dengan pelatih kepala Carlo Ancelotti datang karena banyak kritik karena menjaga kepercayaan dengan pemilihan Crespo. Tapi, Crespo kemudian mencetak 12 gol dalam 27 pertandingan di musim pertamanya di Serie A dan Parma menjadi runner-up di belakang Juventus.

Titik baliknya adalah tepuk tangan meriah yang diterima atas dua golnya melawan Cagliari pada Maret 1997. Parma memenangkan Coppa Italia 1998/1999. Dia juga mencetak gol pembuka dalam kemenangan 3-0 atas Marseille pada final Piala UEFA. Dia telah mencetak 80 gol dalam empat musim di Parma pada periode pertama.

FW: Sergio Aguero (Atletico Madrid)

Sebelum menjadi bintang di Manchester City, Sergio Aguero membawa Atletico Madrid sebagai salah satu klub yang cukup dihormati di Spanyol maupun Eropa. Gelar juara Liga Eropa 2009/2010 didapatkan setelah mengalahkan Fulham.

Pada pertandingan final di Hamburg, Aguero menyumbangkan dua assist yang berhasil dikonversi Diego Forlan menjadi gol kemenangan Los Colchoneros. Aguero melengkapi prestasinya dengan membawa Atletico memenangkan Piala Super Eropa beberapa bulan kemudian.
 

Pelatih: Diego Simeone (Atletico Madrid)

Tidak perlu diragukan lagi Diego Simeone adalah pelatih asal Argentina terbaik di era terkini. Selain baru saja membawa Atletico menjuarai La Liga, dia juga sempat mempersembahkan Liga Eropa. Kini, misi Simeone adalah menjuarai Liga Champions bersama Los Colchoneros.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *