Dengan Imingi-iming Rp 5.000, Kakek Asal Pupuan Hamili Bocah SMP

  • Bagikan


Seorang kakek asal Pupuan tega menyetubuhi tetangganya masih duduk di bangku SMP. Bahkan akibat perbuatannya tersebut, korban kini disebut hamil enam bulan. Pelaku berhasil menyetubuhi korban dengan pemaksaan dan iming-iming uang.

NLER, 15, masih shock atas peristiwa yang dialaminya. Bocah yang duduk di kelas III SMP, itu tak pernah menyangka jika ia harus menanggung derita akibat ulah bejat seorang kakek yang merupakan tetangganya. Kakek itu adalah I Kadek Darma, 60, asal Kecamatan Pupuan.

Kakek Darma tega menyetubuhi NLER hingga bocah tersebut berbadan dua. Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polsek Pupuan, Selasa (2/8) oleh ayah korban, I Kadek S, 43.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kejadian itu terungkap ketika pada Minggu , ayah korban mendapatkan telepon dari orang tuanya yang juga kakek korban, I Nyoman K. Sang kakek saat itu mengatakan bahwa korban sedang dalam kondisi hamil. Pelapor sendiri menetap di Denpasar, sedangkan korban tinggal di kampung halamannya bersama sang kakek.

Pelapor yang tidak percaya kemudian meminta kakek korban untuk mengantar korban ke Denpasar. Selanjutnya pada Senin , korban yang diantar ke Denpasar kemudian dibawa ke salah satu Bidan di bilangan Tohpati, Denpasar oleh sang ayah. Dan alangkah terkejutnya pelapor, ketika Bidan menyampaikan bahwa korban memang positif hamil.

Pelapor kemudian menanyakan kepada korban siapa yang telah menghamilinya. Dan ternyata dari korban menyebutkan seorang nama yang tidak lain adalah Kadek Darma, tetangga korban. Atas pengakuan korban, pelapor akhirnya melaporkan hal tersebut ke Polsek Pupuan.

Kapolsek Pupuan, AKP IB Mahendra, dikonfirmasi terpisah membenarkan perihal adanya laporan tersebut. Ia menyebutkan jika laporan polisi dengan nomor: LP/13/VIII/2017/Bali/Res Tbn/Sek Ppn, diterimanya tanggal 2 Agustus 2017. Dan atas laporan tersebut, pihaknya kemudian mendatangi terlapor.

“Dan mulai hari ini (kemarin, Red) pelaku kita tahan di Mapolsek Pupuan,” tegasnya Kamis kemarin (3/8).

Dirinya menjelaskan, menurut pengakuan terlapor, korban yang merupakan tetangga terlapor disetubuhi di rumah korban sepulang korban dari sekolah. Saat itu rumah korban sedang sepi karena sang kakek sedang tidak ada di rumah. “Terlapor mengaku berhubungan badan dengan korban sebanyak tiga kali, dan menurut dugaan awal Bidan, kehamilan korban sudah berusia sekitar 6 bulan, namun hasil yang lebih pasti hari ini (kemarin,Red) dilakukan pemeriksaan oleh dokter kandungan,” ujarnya.

AKP Mahendra menambahkan, terlapor juga mengiming-imingi korban dengan sejumlah uang untuk memenuhi nafsu bejatnya. Hanya saja awalnya korban mengaku sempat dipaksa oleh terlapor. “Untuk nominal uang yang diberikan beda versi. Korban mengatakan diberikan uang Rp 5.000 sedangkan pelaku mengatakan Rp 50.000,” imbuhnya.

Saat ini pihaknya masih akan terus melakukan pemeriksaan terhadap terlapor, atas kasus ini terlapor disangkakan Pasal 81 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 5 sampai 15 tahun penjara.

Sementara itu, Ketua P2TP2A Tabanan, Ni Nengah Budawati mengatakan jika rencananya Sabtu mendatan (5/8) pihaknya akan mengunjungi korban untuk memberikan pendampingan dan support. Terlebih saat ini korban dalam kondisi sedih dan shock. Ia mengatakan sering kali pelaku kekerasan seksual berasal dari orang terdekat yang seharusnya melindungi dan bertanggungjawab terhadap keamanan korban.

“Bukan malah menjadi predator. Dan karena merupakan orang terdekat, seringkali gerak-gerik pelaku tidak terdeteksi,” tegasnya.

Menurutnya, pelaku kekerasan seksual tidak bisa ditolerir karena itu termasuk kejahatan kemanusiaan, sehingga pihaknya mendorong aparat mengusut tuntas kasus tersebut agar tidak ada lagi korban berikutnya. “Jika dilihat dari ancaman hukuman 5 sampai 15 tahun penjara, hukuman itu relatif lebih ringan dibandingkan dengan hukuman di beberapa Negara lain seperti Australia yang menerapkan hukuman penjara minimal 10 sampai 15 tahun. Sehingga kami mendorong aparat mengusut tuntas kasus ini dan menindak tegas pelakunya,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *