Categories
Tjokroaminoto Institute

Wakil Walikota Bogor, Drs. H. Dedie. A. Rachim, M.A menerima kunjungan Tjokroaminoto Institute

“Bogor memang kota HUJAN”..
Terima kasih jamuannya kanda Wakil Walikota, Drs. H. Dedie. A. Rachim, M.A..
Nama kita cuma beda satu huruf aja kanda..

sumber: facebook.com/dede.p.putra.12?

Categories
Tjokroaminoto Institute

Materi untuk Pekan Ke-4 pada Sabtu, 29 Februari 2020 Tjokroaminoto Institute

Materi untuk Pekan Ke-4 pada Sabtu, 29 Februari 2020..

Sesi I jam 13.30 Wib – 15.30 Wib..
Dr. Syafrizal Rambe (Penulis buku ‘Sejarah Syarikat Islam’) dengan materi “Sejarah Pergerakan Nasional”..

Sesi 2 jam 16.00 Wib – 18.00 Wib
drg. Arief Rosyid Hasan (Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015, Founder Millenial Fest, Aktivis Milenial) dengan materi “Milenial dan Politik Indonesia”.

sumber: facebook.com/dede.p.putra.12

Categories
Tjokroaminoto Institute

Direktur Eksekutif Rumi Institute : Politisi Harus Tetap Menjaga Etika Agar Menjadi Negarawan

Jakarta, suarasi.com – Seharusnya politik dapat mengubah seseorang dari buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik lagi jika seorang politisi mampu tetap menjaga etika nya.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Rumi Institute, Dr. Nur Jabir, saat menjadi pemateri dalam Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto Institute di Rumah Kebangsaan, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/2).

“Dulu, di Indonesia politik dijadikan sebagai ajang pengabdian seseorang. Saat mereka menjadi seorang politisi, etika tetap dijunjung tinggi, sehingga banyak kita lihat para negarawan,” tambah salah seorang Dewan Pakar Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam ini.

Namun, lanjut salah seorang Pembina Pimpinan Pusat Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PP PERISAI) tersebut, sekarang orang berpolitik hanya untuk mencari kekuasaan, seperti teori kekuasaan dari Machiavelli. Alhasil, banyak kita lihat para politisi sekarang hanya berupaya melanggengkan kekuasaan tanpa mementingkan kepentingan rakyat. Tambah diperparah dengan banyaknya kasus korupsi yang menjerat politisi.

“Nah, semoga dengan kehadiran Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto dapat menjadikan pemikiran kenegarawan HOS Tjokroaminoto menjadi pegangan hidup bagi kalian generasi milenial agar nanti dalam berpolitik tetap mengutamakan etika,” tutup Ustadz Nur Jabir yang memberikan materi dengan tema ‘Etika Politik’ ini.

sumber: suarasi.com

Categories
Tjokroaminoto Institute

Ketum SBSI 1992 : UU Omnibus Diberlakukan, Kesejahteraan Buruh Kembali Menemukan Jalan Terjal

Jakarta, suarasi.com – “Buruh dan politik merupakan dua hal yang saling berdekatan. Buruh perlu keputusan politik agar menjadi sejahtera. Keputusan politik itu adalah keputusan penguasa agar pro terhadap buruh,” ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992, Sunarti, saat menjadi pembicara dalam Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto Institute di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (22/2).

Namun, lanjut Sunarti, hingga saat ini kesejahteraan buruk yang diidam-idamkan masih belum menjadi kenyataan. Bahkan, dibeberapa kasus, antara buruh dan perusahaan tempat bekerja tidak terjadi harmonisasi.

“Memang sangat susah untuk meminta kesejahteraan buruh melalui peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Toh, akhirnya peraturan pun banyak yang menguntungkan pihak perusahaan,” tambah Sunarti yang menyajikan materi dengan tema ‘Buruh dan Politik’.

Menurutnya, pemerintah bisa saja membuat peraturan untuk kesejahteraan politik. Akan tetapi, nampaknya itu merupakan hal yang sulit.

“Tidak ada tanda-tanda pemerintah akan membuat peraturan untuk berupaya mensejahterakan buruh. Apalagi UU Omnibus Law yang banyak diprotes kalangan buruh karena banyak pasal-pasal didalamnya yang tidak pro buruh. Alhasil, kesejahteraan buruh kembali menemukan jalan yang terjal,” tutupnya.

sumber: suarasi.com

Categories
Tjokroaminoto Institute

Tjokroaminoto Institute: Nanti Kita Cerita Tjokroaminoto Pada Muslim Gen Z Hari Ini!

Hola sobat muda. Kali ini kami berdiskusi bareng sobat muda dari lembaga Tjokroaminoto Institute. Tjokroaminoto Institute merupakan lembaga yang berfokus dalam dunia keislaman, pendidikan, pengabdian dan pemuda.

Kita ngobrol tentang seberapa pentingnya Tjokroaminoto Institute bagi generasi Z dan fenomena hijrah yang saat ini yang sedang menjadi fenomena sosial dikalangan pemuda Indonesia bersama  Alfrian Eldo Yura sang Direktur Tjokroaminoto Institute. Berikut obrolan kami dengan sobat Eldo.

WM : Sobat eldo, Bagaimana sejarah awal berdirinya Tjokroaminoto Institute? Bisakah sobat ceritakan.

Eldo : Tjokroaminoto Institute berdiri 10 November 2019, berawal dari diskusi santai dengan beberapa tokoh pemuda dari kaum Syarikat Islam yang tergabung pada Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI) dan Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (PERISAI) yang menganggap adanya pertanggungjawaban sejarah permasalahan kebangsaan saat ini.

Dengan mayoritas diisi oleh anak-anak muda dan tiga hal yang menjadi fokus kami yaitu dengan menkombinasikan persoalan kebangsaan, keindonesiaan dan semangat dagang dengan wajah anak muda. Keresahan ini yang sebenernya menginisiasi berdirinya Tjokroaminoto Institute.

WM : Kemudian bagaimana pandangan Tjokroaminoto Institute tentang fenomena hijrah di kalangan anak muda saat ini?

Eldo : Fenomena hijrah bukanlah sebuah konteks permasalahan, karena proses paling mahal dalam kemanuasiaan adalah proses dialektika yang merupakan proses jalan menuju kebenaran. Dari sesuatu yang buruk menjadi baik dan sesuatu yang sudah baik menjadi lebih baik.

Namun di dalam fenomena ini haruslah dalam koridor-koridor yang tepat, misalnya belajarlah secara langsung dengan tokoh ataupun pemuka agama dan tidak melalui konten-konten media sosial yang menyimpang dan tidak jelas pertanggungjawabannya dan pada akhirnya mengajak untuk Keluar dari norma-norma kepancasilaan dan keindonesiaan yang sudah ada.

WM : Lalu Program-program apa saja yang ada di Tjokroaminoto Institute?

Eldo : Tjokroaminoto Institute saat ini mempunyai dua program unggulan diantaranya Sekolah Politik Kebangsaan yang sedang berlangsung dari awal bulan februari hingga akhir maret 2020 dan Sekolah Dagang Samanhudi yang akan diselenggarakan pada tahun ini.

WM : Apakah Tjokroaminoto Institute saat ini masih membawa nilai-nilai sosialisme dan Islam ala Tjokroaminoto?

Eldo : Sebenarnya jika melihat kembali sosok pak Tjokroaminoto maka pemikiran sosialisme Islam tak akan pernah lepas dari beliau begitupun Tjokroaminoto Institute karena itulah identitasnya.

Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa kami tidak menutup ruang dan tetap melihat cara pandang dan gagasan-gagasan lainnya karena hal itulah yang membuat syarikat Islam besar dengan fikiran-fikiran yang ada.

Kombinasi gagasan-gagasan inilah yang kami fikir relevan untuk membangun semangat keindonesiaan.

WM : Saat ini generasi millenial sudah tergeser oleh generasi z (1997-Sekarang), lalu sejauh apa pentingnya menurut Sobat Eldo selaku direktur Tjokroaminoto Institute bagi generasi z kedepannya?

Eldo : Tjokroaminoto Institute sangat penting bagi generasi Z kedepannya karena fokus kami adalah anak-anak muda, dari generasi millenial hingga generasi Z sebagai generasi penerus bangsa meskipun kami menyadari bahwa tantangan hari ini sangat berat namun itulah yang harus kami jawab..

Kita semua mengetahui bahwa tantangan dan kekhawatirannya itu dimana para generasi Z yang saat ini lebih mengenal artis-artis hingga budaya K-Pop tapi mungkin lupa dengan siapa itu Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tjokroaminoto hingga Kartosuwiryo.

Kemudian itulah yang menjadi PR kami dan kita semua saat ini, bagaimana semangat nasionalisme para pejuang bisa melahirkan dan menjaga semangat keutuhan bangsa kala itu dan saat ini. Strateginya dengan mengemas gerakan ideologis agar lebih menarik sehingga para generasi Z tertarik dan menjadikan ideologi menjadi sebuah hal penting.

WM : Bagaimana cara Sobat, agar Tjokroaminoto Institutejl.  dan gagasan Tjokroaminoto dapat diterima dikalangan generasi Z?

Eldo : Kami sedang berupaya dan mencoba mengkampanyekannya dengan Sekolah Politik Kebangsaan dan Sekolah Dagang Samanhudi dengan semangatnya anak-anak muda untuk membangun atau mengenali bahwa di Tjokroaminoto Institute selain belajar tentang nilai kebangsaan dan keindonesiaan juga ada semangat ekonominya. Jadi kita menyambut hadirnya generasi Z dengan semangat optimisme juga pastinya!

 

Nofa Ksatria adalah Deputy Youth Dialogue dari perkumpulan warga muda, sehari-hari mengamati serta melakukan dialog atau wawancara langsung kepada Pemuda-Pemudi inspiratif. Ia adalah lulusan Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta. saat ini ia sedang menempuh Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia dengan konsentrasi tata kelola pemilu.

sumber: wargamuda.com

Categories
Tjokroaminoto Institute

Berikan Materi Memahami Pemikiran HOS Tjokroaminoto, Aulia Tahkim Tjokroaminoto : Beliau Melawan Semua Isme-Isme yang Tidak Berdasarkan Tauhid

Jakarta, suarasi.com – “Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau biasa dipanggil HOS Tjokroaminoto selalu memagang nilai-nilai islam secara universal,” ujar cicit HOS Tjokroaminoto, Aulia Tahkim Tjokroaminoto atau biasa dipanggil Willy Tjokroaminoto, saat menjadi pemateri dalam Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto yang diselenggarakan oleh Tjokroaminoto Institute di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/2).

Menurut Willy, pada awalnya, Syarikat Islam tidak hanya untuk orang islam, banyak yang beragama lain, namun setuju dengan maksud dan tujuan Syarikat Islam, menjadi Anggota. Tapi dalam perjalanannya, Syarikat Islam itu anggotanya hanya orang islam saja.

“Semua terjadi karena banyak yang kurang memahami pemikiran HOS Tjokroaminoto, terutama pemikiran politik beliau. Alhasil yang terjadi adalah main sikat-sikatan dan sikut-sikutan dalam internal Syarikat Islam, yang akhirnya membuat Syarikat Islam terpecah dan tidak lagi mempraktekkan tafsir program Azas dan Program Tandhim yang dibuat oleh HOS Tjokroaminoto,” tegas Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam ini.

Padahal, kenang Willy, tafsir program Azas dan program Tandhim yang menjadi roh bagi pergerakan Syarikat Islam dibuat saat HOS Tjokroaminoto mengalami koma selama 2 hari, saat itu beliau mimpi bertemu dengan Rasulullah, lalu ditulislah tafsir program Azas dan program Tandhim.

“Dari tafsir program Azas dan program Tandhim terdapat tujuan Syarikat Islam yakni akan menjalankan islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya kita mendapatkan satu dunia islam yang sejati, yakni suatu peradaban Islam. Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin atau islam adalah rahmat bagi semesta alam,” jelas Willy dihadapan peserta yang terdiri dari perwakilan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan ini.

Sedangkan, lanjut Willy, kecelaan dan kebusukan yang menjadi lawan bagi pemikiran politik HOS Tjokroaminoto adalah kapitalisme, imperalisme, pluralisme, sekulerisme, takfiri, dan isme-isme lainnya yang tidak berdasarkan tauhid.

“Islam mengakui perbedaan dan HOS sepakat dengan itu, namun dalam konteks pluralisme HOS Tjokroaminoto tidak bersepakat. Beliau sepakat bahwasanya manusia itu plural alias berbeda antara satu dengan lainnya, tapi menganggap bahwasanya semua agama itu sama atau berpikiran pluralisme itu yang beliau tidak sepakat. Bagi beliau, islam merupakan agama yang paling baik, dan umat islam perlu bekerjasama dengan agama lain untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik,” jelasnya dalam materi ‘Memahami Pemikiran HOS Tjokroaminoto’ tersebut.

Oleh karena itu, jelasnya, untuk melawan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketauhidan dan untuk mewujudkan suatu peradaban Islam, maka disusulah Program Tandhim dengan bersandar kepada Sebersih-bersihnya tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah yang berkenaan dengan bangsa dan negeri tumpah darah, serta untuk menuju maksud tercapainya persatuan ummat Islam sedunia.

Tak hanya itu, lanjut Willy, untuk menerjemahkan pemikiran HOS Tjokroaminoto, sekarang ini sekolah-sekolah Syarikat Islam menerapkan kurikulum ke Syarikat Islam an yang bersumber dari nilai nilai Moeslem National Onderwijs serta tafsir program Azas dan program Tandhim dan terintegrasi dengan kurikulum pendidikan yang berlaku sekarang ini.

“Sekolah Syarikat Islam ada sekitar 500 buah yang tersebar diseluruh Indonesia, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP dan SMA/sederajat dengan tujuan untuk terus melestarikan pemikiran-pemikiran HOS Tjokroaminoto bagi generasi muda. Termasuk keinginan dari Tjokroaminoto Institute untuk terus menggemakan pemikiran HOS Tjokroaminoto harus kita apresiasi dan dukung bersama,” tutupnya.

 sumber: suarasi.com

Categories
Tjokroaminoto Institute

Jadi Pembicara di Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Ketua KPI Pusat : Politik dan Media Merupakan Hubungan yang Saling Membutuhkan

Jakarta, suarasi.com – “Dalam konteks politik, pembentukan citra oleh media massa terbentuk melalui sosialisasi yang berkelanjutan, bisa dinamakan dengan komunikasi politik, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujar Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis, saat menjadi pemateri dalam Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/2) sore.

Namun, lanjut Andre (sapaan akrab Yuliandre Darwis), hadirnya media massa sebagai alat komunikasi politik tidak jarang hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan politik tertentu, misalnya mendapatkan kekuasaan di pemerintahan.

“Hubungan antara media dan politik adalah hubungan yang saling membutuhkan. Para pelaku politik membutuhkan media untuk mempublikasikan kebaikan partai politiknya atau bahkan menggunakannya sebagai tempat mengkampanyekan partai politiknya,” tambah Andre saat menyampaikan materi berjudul ‘Media dan Politik’.   

Menurut Andre, memang tidak banyak media yang mampu menjaga keseimbangan antara idealisme, bisnis dan politik. Tapi juga menaruh keyakinan, realitasnya masih banyak wartawan-wartawan yang mengedepankan hati nurani. Batinnya meronta saat melakukan hal yang bertentangan dengan prinsip jurnalistik.

“Media massa, baik cetak maupun elektronik, merupakan media informasi bagi masyarakat yang berguna sebagai sarana pemberi informasi kepada masyarakat Saat ini bukan hanya dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan informasi terkini tentang kejadian yang terjadi di masyarakat, namun juga digunakan sebagai sarana komunikasi politik,” tuturnya.

Dalam kegiatan yang di hadiri oleh perwakilan mahasiswa se-Indonesia itu, Andre mengatakan para pelaku politik menggunakan media sebagai sarana untuk menyampaikan visi misi dari suatu partai politik atau para calon pemimpin yang sedang berkampanye.

“Banjir di daerah, misalnya, tentu tidak disebabkan oleh situasi politik, karena banjir adalah peristiwa alam,” ucap doktor ilmu komunikasi publik itu.

Andre menilai suatu gejala sosial terkait dengan kepentingan politik, maka isu tersebut akan segera dikait-kaitkan sedemikian rupa sebagai isu politik. Namun, peristiwa alam itu bisa dijadikan momen politik melalui berbagai kegiatan untuk menjaring simpati publik.

“Secara struktural, dalam kehidupan bernegara, gejala sosial didominasi oleh politik. Namun tidak semua gejala sosial sejak awal dapat dianggap sebagai bagian dari politik,” tutupnya.

sumber: suarasi.com

Categories
Tjokroaminoto Institute

Agama Musuh Terbesar Pancasila, Kepala BPIP Diminta Mundur Tjokroaminoto Institute

Tomi Erizal : Direktur Informatika Dan Komunikasi Tjokroaminoto Institute

Blak – blakan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi dalam salah satu wawancara mengungkapkan bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama, ungkapannya ini adalah hal yang sangat berbahaya dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Pernyataan seorang kepala BPIP mestinya menyatukan dan bukan membenturkan agama dengan Pancasila, tugas PBIP untuk membumikan Pancasila di negeri ini goyah secara sendirinya.

Dilihat dari amanat Presiden Jokowi kepada kepala BPIP untuk supaya dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila di kalangan milenial dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ungkapannya (kepala BPIP) justru menanamkan nilai – nilai keambiguan dan multitafsir terhadap Pancasila.

Pancasila lahir berdasarkan perumusan tim 9 tokoh yang berasal dari berbagai kalangan ormas, dan tiga diantaranya merupakan keluarga besar Syarikat Islam.

Adapun sembilan tokoh tersebut terdiri dari Soekarno, Muh. Hatta, A.A. Maramis, KH A. Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Ahmad Subardjo dan Muh. Yamin, merumuskan salah satu bunyi Piagam Jakarta yaitu: “Ketuhanan, dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Namun sebelum Pembukaan/Muqaddimah (Preambule) disahkan, pada tanggal 17 Agustus 1945 Mohammad Hatta mengutarakan aspirasi dari rakyat Indonesia bagian Timur yang mengancam memisahkan diri dari Indonesia jika poin “Ketuhanan” tidak diubah esensinya. Akhirnya setelah berdiskusi dengan para tokoh agama di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wahid Hasyim, dan Teuku Muh. Hasan, ditetapkanlah bunyi poin pertama Piagam Jakarta yang selanjutnya disebut Pancasila dengan bunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Ungkapan kepala BPIP tersebut sangat disesalkan dan tidak layak seorang kepala BPIP berpikiran seperti itu, bukannya memberikan pernyataan yang menyatukan malah bikin kontrofersi.

Hubungan Pancasila dan agama secara objektif selalu hadir dalam lapisan sejarah perjalanan negeri ini. Namun, mengatakan agama sebagai musuh Pancasila sudah jelas adalah pernyataan yang keliru.

Posisi agama adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam Pancasila sebagaimana di cantumkan dalam sila pertama. Tiga ormas besar (Syarikat Islam, dan Muhammadiyah) yang menyatakan menerima Pancasila. Barang tentu sudah jelas menunjukan relasi diantara agama dan pancasila tidak bermasalah sama sekali. Bahkan saling menguatkan.

Hemat saya kepala BPIP seharusnya melakukan komunikasi dengan pihak dan lembaga – lembaga di bangsa ini yang dari dahulu mengawal dan memperjuangkan tegaknya Pancasila. Kepala BPIP harus berpikir sebelum bicara sehingga tidak menimbulkan kemarahan publik yang bisa menjadi bola salju mundurnya pemahaman nilai – nilai Pancasila. Jika tidak sanggup menjadi kepala BPIP, lebih baik mengundurkan diri.

sumber: beritatujuh.com

Categories
Tjokroaminoto Institute

Sekolah Politik Kebangsaan HOS Tjokroaminoto

Pekan pertama dari 8 pekan yang direncanakan Alhamdulillah berjalan lancar..
Saya saksi bagaimana antusiasme 32 orang siswa dari PERWAKILAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN DAN KEPEMUDAAN SERTA KOMUNITAS begitu semangat mengikuti SEKOLAH, kelak kita semua akan melihat mereka menjadi PEMIMPIN di NEGERI ini..

Dan Sabtu, 15 Februari 2020, pekan kedua dimulai..
Kami berupaya menghadirkan pemateri yang ahli dibidangnya..

Insya allah untuk materi di pekan kedua :
1. Media dan Politik (YULIANDRE DARWIS/Ketua Komisi Penyiaran Indonesia) pukul 13.00 – 15.00 Wib..
2. Memahami Pemikiran HOS Tjokroaminoto (AULIA TAHKIM TJOKROAMINITO/cicit HOS Tjokroaminoto) pukul 16.00 – 18.00 Wib..

Lokasi : Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 2, Pengangsaan, Menteng, Jakarta Pusat..

#Sekolah_Politik_Kebangsaan_HOS_Tjokroaminoto..
#Berkehidupan_Berbangsa_Bernegara..

sumber: facebook.com/dede.p.putra.12

Categories
Tjokroaminoto Institute

Sekolah Politik “Pemikiran HOS. Tjokro Aminoto”

Fee Pendaaftaran
Di Serahkan Saat Registrasi Di Tempat Pendaftaran. Klo Ada Minta Transfer Fee Pendaftaran Segera Hubungi Nomor Panitia.

Teruntuk
Kepada YTH

Pandu Siap
Syarikat Islam Wanadadi
#SigapIndonesia
Perisai Perisai Timur
Perisai Jakarta Utara
Perisai Jakartaselatan
Dan Ormas Se Indonesia
Ayoo Kita Belajar Bersama Di Sekolah Politik
yakni Tema paper :
“Pemikiran HOS. Tjokro Aminoto”

sumber: facebook.com/galangirfai.indramayu