Categories
Berita Umum

Organisasi Mahasiswa Didorong Ikut Berdayakan Ekonomi

JAKARTA, KOMPAS.com – Organisasi kemahasiswaan dipandang perlu lebih meningkatkan peran serta mereka dalam bidang pemberdayaan masyarakat, terutama di bidang sosial dan ekonomi.

Lewat bidang ini, kontribusi mereka di tengah masyarakat akan semakin terasa. Ini terutama dalam mewujudkan keadilan sosial dan ekonomi yang lebih baik lagi.

“Gerakan perubahan yang dilakukan mahasiswa tidak hanya di jalur politik, tapi juga di bidang sosial dan ekonomi, agar kontribusi generasi muda terhadap pembangunan Indonesia semakin nyata dan kian besar,” kata Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel dalam keterangannya, Selasa (3/3/2020).

Rachmat menuturkan, masih banyak potensi ekonomi Indonesia yang belum tergarap secara optimal, seperti kegiatan ekonomi berbasis budaya. Dengan keragaman budaya dan tradisi Indonesia, potensi ekonomi di sektor ini sangat besar.

“Budaya dan produk budaya ini sangat membutuhkan ide-ide kreatif, sehingga mempunyai nilai ekonomi, dan potensinya sangat besar. Banyak negara, seperti Jepang dan Korea Selatan telah berhasil mengembangkan tradisi dan budaya mereka menjadi bernilai ekonomi yang tinggi, dan potensi ini juga ada di Indonesia,” terang Rachmat.

Menurut dia, pengembangan ekonomi berbasis budaya ini juga bisa menjadi jalur yang efektif untuk pemerataan ekonomi.

Pun untuk bisa lebih meningkatkan kontribusi nyata dalam pembangunan, organisasi kemahasiswaan perlu mendorong dan membantu peningkatan semangat kewirausahaan para anggotanya.

Merancang berbagai program kerja sama dan pelatihan dengan pelaku industri yang sudah mapan adalah salah satu pilihan dalam upaya meningkatkan semangat kewirausahaan.

“Kalangan mahasiswa perlu melakukan reposisi, untuk tidak lagi bercita-cita hanya mencari pekerjaan, tapi bagaimana menciptakan lapangan kerja. Ini membutuhkan semangat kewirausahaan yang tinggi,” ungkap Rachmat.

Rachmat juga menyinggung potensi industri halal yang berpeluang untuk digarap oleh generasi muda. Baik di Indonesia maupun global, industri halal saat ini mengalami perkembangan pesat dan menjadi salah satu sektor yang banyak dikembangkan negara lain, termasuk negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim.

“Pengembangan industri halal ini juga adalah peluang besar yang perlu mendapat perhatian dari organisasi kemahasiswaan,” kata Rachmat.

sumber: kompas.com

Categories
Berita Umum

Hukum Islam tidak Bertentangan dengan Nilai Pancasila

REPUBLIKA.CO.ID,PANGKAL PINANG — Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, Hamdan Zoelva dalam paparannya di Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII mengatakan sekarang pada faktanya hukum Indonesia tumbuh dinamis yang bersumber dari hukum Islam, hukum adat, hukum Eropa dan asas-asas hukum umum yang universal.

“Hukum Indonesia adalah hukum hybrida,” kata Hamdan pada KUII ke-VII di Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada Jumat (28/2).

Hamdan mengatakan, perlu mengembangkan hukum Indonesia yang bersumber dari nilai-nilai hukum Islam. Sekarang ini terjadi pertarungan dari serangan masuk dan bertahannya nilai-nilai hukum barat dalam hukum Indonesia. Kondisi ini adalah tantangan besar bagi umat Islam.

Menurutnya, umat harus memiliki keyakinan bahwa nilai-nilai hukum Islam tidak akan pernah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Yakni mengarus utamakan pengembangan hukum pada aspek hukum ekonomi yang berkeadilan, yaitu ekonomi kerakyatan.

“Ekonomi yang timpang sekarang ini disebabkan oleh kesalahan dalam kebijakan hukum ekonomi. Telah meninggalkan ekonomi konstitusi dan menerima ekonomi kapitalis,” ujarnya.

Hamdan menjelaskan, paradigma hukum Indonesia yang diperjuangkan adalah hukum yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila dan UUD yang tidak sama dengan nilai-nilai hukum Barat. Kapitalis maupun sosialis, keduanya bersumber dari filsafat materialis dan humanisme semata.

Ia mengatakan, hukum Pancasila adalah hukum yang bersumber dari ajaran dan nilai-nilai agama yaitu hukum yang berKetuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab dan berkeadilan sosial. “Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan nilai-nilai hukum Islam,” kata Hamdan.

sumber: khazanah.republika.co.id

Categories
Berita Umum

Kontingen Pramuka Siaga Kecamatan Madukara berhasil menjadi yang terbaik dalam Pesta Siaga Kwarcab Banjarnegara

Selamat kepada Kontingen Pramuka Siaga Kecamatan Madukara berhasil menjadi yang terbaik dalam Pesta Siaga Kwarcab Banjarnegara di Pagentan

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara

Categories
Berita Umum

Sarekat Islam (SI) Palembang, Semangat Perjuangan Melawan Penjajahan (Bagian Terakhir)

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

“RESIDEN Palembang O.M. Goedhart melukiskan pergerakan partai politik pada awal tahun 1920-an dengan istilah sluimerend, “tidur-tidur ayam,” mati tidak hidup pun tidak. Dia secara sadar menggunakan kata itu dengan merujuk SI yang seolah-olah menghilang sejak pemberontakan Sarikat Abang (SA)”

SI Palembang Dibubarkan Belanda

BERKEMBANGNYA Sarekat Islam (SI) di daerah Palembang Sumatera Selatan, yang selalu menentang kebijaksanaan pemerintah kolonial mendapat sambutan yang cukup hangat dari masyarakat.

Hal itu terjadi terutama karena sifat gerakan yang berbaur Islam dan bersifat demokratis, sehingga dianggap sesuai dengan watak dan jiwa masyarakat yang tidak mengenal status atau tingkatan dalam penggolongan masyarakat.

Gerakan rakyat di daerah Uluan (di marga-marga) untuk menentang pemerintah kolonial Belanda waktu itu merupakan gerakan “nasionalisme” yang timbul dari rasa kebangsaan (kedaerahan) yang murni, membela hak hidup mereka menurut adat dan ajaran Islam.

Pemimpin-pemimpin Sarekat Islam waktu itu pada umumnya hanya berpendidikan madrasah-madrasah atau VOORVOLKS SCHOOL.

Mereka yang memiliki pendidikan lebih tinggi banyak yang berjuang di Jawa, dan dari Jawa mereka membawa faham nasionalisme ke daerah Palembang, terutama setelah timbulnya Partai Nasional Indonesia sekitar tahun 1927-1929.

Pada tanggal 20 sampai 27 Oktober 1917 Sarekat Islam mengadakan kongres Sarekat Islam II di Jakarta.

Setelah kongres tersebut perjuangan Sarekat Islam kelihatan mulai bergeser ke kiri, yaitu dengan menyusupnya aliran Sneevielt ke dalam tubuh Sarekat Islam melalui perantaraan Semaun dan Darsono.

Kedua tokoh ini selain aktivis Sarekat Islam Cabang Semarang mereka adalah anggota Indische Sociale Demokratisch Vereniging (ISDV).

Pada kongres Sarekat Islam yang III tahun 1918, yang diselenggarakan di Surabaya, semakin jelas bahwa perjuangan organisasi ini telah bergeser ke kiri.

Kongres antara lain memutuskan untuk meningkatkan kepentingan kaum buruh, serta menggerakkan semua organisasi bangsa Indonesia agar menentang kapitalisme dan kolonialisme Belanda.

Pada tahun 1919 anggota Sarekat Islam mencapai 2juta orang. Di daerah Palembang, selain jumlah anggotanya semakin banyak, gerakan-gerakannya untuk menentang kolonialisme dan kapitalisme juga semakin meningkat.

Gerakan-gerakan tersebut terutama ditujukan bagi penghapusan pajak-pajak yang memberatkan rakyat, penghapusan tanah erfah dan membuat peraturan -peraturan sosial bagi kaum buruh untuk mencegah perlakuan yang sewenang-wenang.

Walaupun belum begitu berhasil, tetapi aksi-aksi perlawanan tersebut telah membuat Belanda mengalami kesibukan tersendiri dan cukup merepotkan.

Dari berbagai aksi tersebut pemerintah kolonial Belanda selalu berusaha dan bertindak cepat. Misalnya seperti menindas pemberontakan di Musi Rawas (Perang Kelambit) dan pemimpin-pemimpinnya dijatuhi hukuman gantung.

Dengan tumbuhnya Sarekat Islam di daerah ini, pemerintah pun tidak segan-segan melakukan tindakan keras terhadap anggota-anggotanya yang menentang kebijaksanaan pemerintah.

Banyak pemimpin-pemimpin organisasi tersebut yang ditangkap atau diasingkan, seperti didaerah Komering Ulu (Dusun Kertanegara) antara lain Naga Beriang, HA Hamid Ronik, Singo Putro dan lain-lain.

Sebagai akibat logis dari aksi-aksi yang telah dilancarkan oleh Sarekat Islam itu, maka pemerintah kolonial Belanda telah mengambil suatu tindakan drastis yaitu menangkap para pemimpin organisasi tersebut kemudian memenjarakan atau mengasingkan ke tempat-tempat di luar Keresidenan Palembang.

Selanjutnya pada tahun 1920 secara keseluruhan Sarekat Islam didaerah ini dilarang dan dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dengan pembubaran Sarekat Islam daerah Palembang ini tidak berarti Sarekat Islam telah lenyap dari bumi Sriwijaya, karena cita-cita dan semangat anti kafir tetap berurat dan berakar di kalangan masyarakat.

Dengan kata lain ide-ide atau semangat Sarekat Islam telah tersebar luas sampai ke pelosok-pelosok daerah Sumatera Selatan.

Dengan penuh semangat dan harapan dari belenggu penjajahan, pemuka-pemuka Sarekat Islam didaerah ini bekerjasama dengan pemuka-pemuka agama lain terus mengadakan gerakan secara diam-diam.

Selain membubarkan Sarekat Islam, pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1919 mengadakan tindakan drastis terhadap para pemimpin organisasi Sarekat Islam.

Mereka ada yang ditangkap dan kemudian dipenjarakan. Bahkan ada juga yang diasingkan ke berbagai tempat di luar wilayah Keresidenan Palembang. Mereka itu antara lain, Anang Abdurrachman (Presiden Lokal Sarekat Islam Onderafdeeling Lematang Ulu), yang ditangkap pada tahun 1919 lalu diasingkan ke Surabaya, kemudian dari Surabaya dibuang lagi ke Kalimantan sampai akhirnya ia meninggal disana, Nang Buyung (Presiden lokal SI Cabang Lahat), H. Moh. Apil (Presiden lokal Marga Gumau Lebak), Rangkep Keling Midar (seorang kurir dari Dusun Jati) ketiganya ditangkap pada tahun 1919 lalu dijatuhi hukuman penjara Lahat masing-masing 3 tahun, dan 2 tahun.

Pada tahun 1920 pemerintah kolonial Belanda juga menangkap seorang pemimpin Sarekat Islam di daerah Pagar Alam yaitu Presiden Lokal Pagar Alam yang dituduh menghasut masyarakat. Ia adalah Aburohim bin Alis yang diasingkan ke Pulau Kalimantan (daerah Balongan) selama 2 tahun 9 bulan.

Berita tentang penangkapan pemimpin-pemimpin Sarekat Islam ini sampai juga ke berbagai pelosok desa. Penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin Sarekat Islam tersebut, mengakibatkan menurunnya keinginan masyarakat untuk mengadakan, perlawanan secara fisik.

Setelah banyak pemimpin mereka yang ditangkap, dipenjarakan atau diasingkan, aksi-aksi secara fisik menjadi berkurang. Mereka kemudian lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat rohaniah, seperti memberikan ceramah-ceramah kepada rakyat yang bersifat keagamaan, membangkitkan semangat rakyat serta memberi petunjuk agar rakyat dapat lepas dari penderitaan, serta menanamkan semangat anti penjajahan.

Setelah gerakan Sarekat Islam dilarang oleh pemerintah Belanda tahun 1920, di Musi Rawas orang-orang Sarekat Islam secara sembunyi-sembunyi tetap memberikan ceramah-ceramah kepada rakyat yang isinya berkisar kepada ajaran-ajaran agama Islam dan cita-cita untuk membebaskan diri dari penjajah Belanda.

Sementara itu di Muara Rupit, dibawah pimpinan Dauh Wijaya, orang-orang Sarekat Islam selalu berhubungan dengan Sarekat Abang melalui perantaraan yang bernama Akip.

Seperti diketahui Sarekat Abang (SA) telah ada di daerah ini sejak meletusnya Perang Kelambit di perbatasan Jambi dengan daerah Surolangun Rawas.

Surutnya Sarekat Islam di daerah Sumsel pada sekitar tahun 1920 mengakibatkan masuknya pengaruh organisasi-organisasi politik lain.

Secara berturut-turut organisasi-organisasi politik masuk ke Sumatra Selatan yaitu PKI tahun 1926, PNI tahun 1927, Partindo tahun 1931 dan PNI Baru 1932.

Namun, ternyata partai-partai tersebut kurang mendapat simpati masyarakat Pelembang, yang masih setia pada Sarekat Islam.

Partai-partai politik tersebut secara terang-terangan melancarkan sikap non kooperasi, sehingga mendapat reaksi keras dari pemerintah kolonial Belanda.

Belanda kemudian membatasi kegiatan partai-partai politik tersebut. Oleh sebab itu sebagian tokohnya mengalihkan kegiatan dan melanjutkan perjuangan melalui jalur agama.

Partai politik yang berlandaskan agama dan mendapat pengaruh besar didaerah ini adalah Partai Sarekat Islam (PSl). Bahkan, H.0.S Cokroaminoto pernah datang sendiri menghadiri pembentukan cabang PSI di Mendayun (Onderafdeling Komering Ulu).

Kegiatan SI setelah berganti nama menjadi Partai Sarekat

Islam (PSI) pada 1923 tampaknya tidak banyak yang diketahui. Partai-partai politik lain tidak ada yang muncul ke permukaan.

Barangkali hanya Insulinde yang “berani” memunculkan diri. Organisasi politik yang semula memakai nama Indische Partij ini membuka cabang di Kota Palembang pada 1917. Ketua Presidium Insulinde dijabat oleh Raden Akil, seorang pensiunan Schrijver kantor Asisten Residen Kota Palembang.

LA. Leidelmijer, seorang Indo pegawai bea-cukai pelabuhan, duduk sebagai penasihat. Pemerintah menuduh Leidelmijer pernah terlibat dalam kasus penyalahgunaan uang kas pelabuhan dan barangkali ini salah satu faktor yang membuat Insulinde agak sulit berkembang di daerah Palembang.

Insulinde mencoba merambah Lahat. Pagar Alam, dan Muara Lakitan yang berada di pedalaman. Tetapi usaha mencari anggota baru tidak mendapat sambut penduduk daerah pedalaman. Karena lebih mengutamakan kelompok pegawai, kaum Indo, dan anggota beragama Kristen, membuat Insulinde sulit diterima di daerah pedalaman.

Hal hampir serupa juga dialami cabang Boedi Oetomo yang dibentuk di Kota Palembang pada 1924.

Jumlah anggota perkumpulan ini sangat sedikit dan kebanyakan orang-orang Jawa dan Sunda. Kegiatan mereka juga tidak banyak diketahui.

Sluimerend SI sebetulnya hanyalah khayalan penguasa kolonial belaka yang tidak menyadari bahwa begitu banyak perkumpulan sosial dan ekonomi yang tumbuh sebelumnya, dan masih terus bertambah telah dirajut oleh semangat baru sedemikian rupa dalam cakrawala pergerakan nasionalisme awal.

Propaganda Sarekat Islam sedikit banyak telah membentuk opini massa pengikut dalam membangkitkan rasa ketidakpuasan terhadap segala tekanan penjajah.

Perkumpulan yang tidak menggunakan “label” politik itu pada gilirannya menjadi penyalur kegiatan kaum pergerakan saat pemerintah kolonial dirasakan tidak lagi akomodatif.

Bagi SI khususnya, tekanan pemerintah selepas pemberontakan SA merupakan malapetaka. Goncangan dalam tubuh organisasi SI sekali lagi terjadi pada 1919.

Sarekat Islam Pusat terpecah antara “garis lunak” (SI Putih) di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, dengan “garis keras” (SI Merah) yang dipimpin Semaun dan Darsono.

Terlepas dari apakah SI mengubah strategi dari garis keras ke garis lunak atau sebaliknya, kekuatan pergerakan ini sesungguhnya sudah diperlemah sejak pemberontakan Sarekat Abang.

Meskipun SI dicela penguasa kolonial sebagai gerakan radikal yang mengganggu rust en orde, pemberontakan SA sendirl meninggalkan kesan yang sulit dilupakan dan menyebabkan pemerintah kolonial terpaksa meninjau kembali kebijaksanaan administratif tahun 1912.

Sekalipun penguasa berusaha membasmi SI dengan menangkap dan memenjarakan beberapa pimpinannya, tidak berarti SI kehilangan kegiatan sama sekali.

Sebagian pemimpin SI yang tidak tertangkap atau yang baru keluar dari penjara segera bergabung dengan partai politik lain atau memulai aktivitas baru dalam berbagai pranata non-politik.

Salah seorang di antaranya adalah Bratanata. Bekas Presiden SI Lokal Muara Enim dan Sekayu itu, pulang ke Cirebon setelah dibebaskan dari penjara.

Di tanah kelahirannya itu dia mengelola media mingguan bernama Pribumi. Awal tahun 1920-an dia kembali ke Kota Palembang dan ikut mengelola surat kabar Pertja Selatan. Di samping itu Bratanata juga mengajar di sekolah agama Aliyyah Diniah yang berdiri sekitar 1927.

Pertja Selatan pernah terkena delict pers pada bulan Desember 1922 disebabkan oleh tulisan kritis Bratanata. Bersama Karim, pembantu redaksi Pertja Selatan, dia dituduh “menghasut” dan mengganggu rust en orde.

Sekali lagi Bratanata harus berurusan dengan kekuasaan.

Sekolah Aliyyah Diniah sendiri adalah wujud konkret dari semangat baru yang dibangkitkan oleh Tjokroaminoto.

Pengikut SI Palembang masih ingat ketika tokoh SI pusat itu berkunjung ke Kota Palembang pada 1919 dan menganjurkan “kepinteran yang lahir” dan “kepinteran yang bathin” (agama) bagi anggota SI.

“Kepinteran yang lahir” bagi Bratanata bukan hanya sekadar pendidikan, tetapi juga menyangkut usaha kesejahteraan ekonomi umat .

Sarekat Islam berganti nama menjadi Partai Syarikat Islam (PSI) pada 1923. Tidak lama setelah itu pengurus PSI daerah Palembang membentuk badan koperasi dan membeli sebuah motor-boot seharga f.4.000 yang dipakai sebagai modal awal koperasi.

Koperasi yang menekankan tujuan kepentingan ekonomi dan memajukan pendidikan agama itu dalam waktu singkat dapat berkembang pesat di tengah penduduk Palembang yang kebetulan sedang menikmati hasil keuntungan komoditas karet. Setahun kemudian (1924), pengurus PSI daerah Palembang mendirikan perusahaan Perkoempoelan Dagang Islam Palembang dengan tujuan sama seperti badan koperasi yang dibentuk sebelumnya.

Perusahaan tersebut kemudian berganti nama menjadi Perkoempoelan Dagang Bangsa Melajoe. Selain menekankan identitas “Melayu,” di samping warna pergerakan yang amat kental, perusahaan itu juga mengesankan adanya persaingan ekonomi dengan pedagang-pedagang lain, terutama Cina dan Arab, yang tak dapat dipungkiri memang jauh lebih maju dan telah bercokol kuat di Palembang.

SI yang tersebar di daerah pedalaman tampil sebagai gerakan keagamaan pada akhir tahun 1920-an.

0rganisasi ini menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah terutama dalam hal pendidikan sekolah dan bidang sosial lainnya. Muhammadiyah semula berada di Kampung Talang Jawa, Kota Palembang sekitar tahun 1928

SI yang tersebar di daerah pedalaman tampil sebagai gerakan keagamaan pada akhir tahun 1920an.

Organisasi ini menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah terutama dalam hal pendidikan sekolah dan bidang sosial lainnya Muhammadiyah semula berada di Kampung Talang Jawa, Kota Palembang sekitar tahun 1928 yang didirikan atas prakarsa K.A. Kaharoeddin, seorang ulama Palembang terpandang yang pernah mengenyam pendidikan agama di Mekkah.

Tokoh lain yang banyak membantunya adalah Haji Ridwan (pedagang batik dan perak asal Kauman, Kota Gede, Yogyakarta), R. Soebono Poerwawiyoto (pemuda pegawai kantor pos Palembang), dan Mohammad Roesli yang berasal dari Minangkabau.

Muhammadiyah memilih 4 Ulu Kota Palembang sebagai pusat kegiatan, dan salah seorang tokoh yang cukup berpengaruh di sini adalah H. Akil.

Pedagang besar dari Palembang dan pendukung gerakan Kaum Muda (reformis) ini menggunakan sekolah agama Aliyyah Diniyah sebagai markas kegiatan Firma H. Akil yang dimiliki keluarga H. Akil, memang banyak menyokong dana bagi kepentingan SI dan Muhammadiyah pada akhir tahun 1920 an.

Beberapa di antara tokoh PSI yang muncul tahun 1930-an dan memiliki pengaruh sampai dengan periode Proklamasi Kemerdekaan AS. Matcik, Hamzah Koentjit, R. Fanani, dan KH. Azhari adalah menantu- menantu H. Akil.

Muhammadiyah dan PSII tampil sebagai juru bicara kaum modernis Islam sejak tahun 1926. Mereka kerap berhadapan dengan “Kaum Tua” yang banyak disokong pemerintah kolonial.

Sementara itu perusahaan Perkoempoelan Dagang Bangsa Melajoe yang berhasil dalam kegiatan dagang mencoba membuka beberapa cabang di daerah pedalaman. Di Ranau, misalnya, mereka membuka Madrasah Al-Irsyad dan mendirikan Koperasi Kemadjoean Kaoem Moeslimin.

Koperasi yang sama didirikan satu tahun Kemudian di Tubuhan, Ogan Ulu.

Kegiatan Muhammadiyah Tanah Pasemah yang berpusat di Pagar Alam umumnya digerakkan oleh pendatang dari Padang, Sumatera Barat.

Sekolah yang didirikan di tempat itu dikepalai oleh Kiagus H. Moh. Hasan (ulama dan guru agama) dibantu Ahmad Djamiun dan Sutan Siri yang berasal dari Minangkabau. Muhammadiyah Pagar Alam juga memiliki koperasi Sarikat Tolong Menolong dan sebuah Studieclub DONA (Laat ons niet achterblijven. Jangan Biarkan Kami Terkebelakang”) beranggotakan sekitar 4O orang.

Hal serupa dapat dijumpai di Sungai Ramok, Lematang Ulu. Perserikatan Kaoem Moeslimin dipimpin oleh Ahmad bin Syamsuddin (bekas commies kantor pos Muara Enim), dan Oesaha Kita dibentuk di Muara Enim sekitar bulan November 1930 dengan mengikuti model organisasi induk di Kota Palembang.

Organisasi sosial serupa dapat ditemukan di beberapa tempat dan sebagian sudah terjalin dengan pergerakan sekuler yang datang bersamaan dengan arus pendatang dari luar. ***

Sumber :
1. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
2. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
3. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

sumber: palpres.com
Categories
Berita Umum

Rutinan Sabtu Mts Cokro Madukara

Rutinan Sabtu — bersama Mts Cokro Madukara

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara

Categories
Berita Umum

Pembangunan mushola madrasah Mts Cokro Madukara

Proses Pembangunan yg nantinya akan digunakan sebagai mushola madrasah… Monggo bagi alumni maupun masyarakat, yang mau investasi akhirat, bisa hubungi 081371411717. Bantuan bisa berbentuk barang, uang, tenaga maupun do’a. Semoga melalui medsos facebook ini, bisa menjadi salah satu wasilah untuk segera terselesaikannya pembangunan mushola ini. Aamiin…

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara

Categories
Berita Umum

Penutupan KKN Terpadu STAI YAKASI Bandung Tahun Akademik 2019/2020 bertempat di Desa Biru Kec. Majalaya Kab. Bandung

Penutupan KKN Terpadu STAI YAKASI Bandung Tahun Akademik 2019/2020 bertempat di Desa Biru Kec. Majalaya Kab. Bandung

Categories
Berita Umum

Mts Cokro Madukara: “Teruslah berlatih untuk menempa diri”

Teruslah berlatih untuk menempa diri….menempa kemampuan,agar segala citamu tergapai…#hariahad, 9-2-2020

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara

Categories
Berita Umum

Kepramukaan Mts Cokro Madukara

Kepramukaan Mts Cokro Madukara

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara

Categories
Berita Umum

MTs Cokroaminoto Madukara Kab. Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan “Prosesi Kenaikan Golongan Penggalang Rakit”

Kepramukaan merupakan salah satu sarana dan metode pendidikan dengan sasaran akhir pembentukan mental, perilaku, serta kedisiplinan. Ciri khas dari Kepramukaan yaitu, PDK (prinsip dasar kepramukaan) dan MK (metode kepramukaan) yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Dalam Kepramukaan, pendidikan dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan. Proses ini melalui uji SKU (Syarat Kecakapan Umum) sesuai golongan dan SKK (Syarat Kecakapan Khusus) yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kenaikan tingkat atau Tanda Kecakapan Umum (TKU) serta mendapatkan Tanda Kecapakan Khusus (TKK) sesuai minat dan bidang keahlian.

Berdasarkan hal tersebut, Gerakan Pramuka Gugus Depan 04.204 – 04.205 yang berpangkalan di MTs Cokroaminoto Madukara Kab. Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan “Prosesi Kenaikan Golongan Penggalang Rakit”, yang dibalut dengan Long March Uji TKK pada hari Sabtu, 7 Februari 2020.

Longmarch start dari madrasah, finish di perbatasan Kecamatan Madukara (Plipiran) dan Kecamatan Pagentan (Larangan). Kegiatan tersebut menurut Kak Trimo Selaku Pembina dan tim kreatif, diikuti oleh 60 siswa.

Kak Subur Wahyudi,M.Pd mewakili Kamabigus MTs Cokroaminoto Madukara (Bu Tutut Widiasih,S.Ag,M.Pd) dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memotivasi pramuka penggalang agar dapat mengambil dan menerapkan nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka dalam kehidupan sehari hari. Takwa kepada Tuhan memberikan arahan kepada kita untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, Cinta alam mengajarkan kita untuk menjaga dan merawat lingkungan kita. Pramuka melatih diri untuk memiliki jiwa kemandirian,jiwa kepemimpinan dan menumbuhkan rasa disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu beliau mengapresiasi para pembina dan Pramuka Garuda yg telah merencanakan dan melaksanakan kegiatan sampai selesai. (SBe35)

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara