Categories
Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia

Ketua SEMMI Surabaya Rizki Harap Pilwali lebih dua calon

Pertarungan PDIP vs Koalisi besar sangat diharapkan dimunculkan lagi poros baru diluar dua poros yang ada
Rizky anugrah pratama, Pj Ketua umum Pengurus Cabang SEMMI (Serikat mahasiswa Muslimin indonesia) mengatakan harus diakui Risma berhasil memimpin surabaya dan pengaruh Risma besar tapi diharapkan ada Koalisi baru diluar Poros PDIP dan poros Koalisi Partai pendukung Mahfudz
“Dengan jaringan yang bagus, Jendral Mahfudz layak jadi lawan imbang PDIP tapi lebih bagus lagi bagi Kota sebesar Surabaya ada kandidat lain sebagai alternatif”ujar Rizky
Sebelumnya PDIP sudah menyebut beberapa nama seperti wakil walikota Risma dan Heru yang berpengalaman sebagai kepala Bappeko
sumber:  trans56liputan.blogspot.com
Categories
Syarikat Islam

PARMUSI dan SYARIKAT ISLAM yang kini independen

PERSAUDARAAN MUSLIMIN INDONESIA dan SYARIKAT ISLAM/SI Pernah bergabung ke salah satu partai setelah sebelumnya menjadi Partai, namun kini ia keluar dari Fusi sebuah Partai, masing-masing bahkan tak kembali menjadi Partai melainkan menjadi Ormas

DI Pusat, SI Dipimpin HAMDAN ZOELVA dan PARMUSI Kini dipimpin oleh Usamah Hisyam

pengamat dunia Islam Abdullah Amas menjelaskan SI dan PARMUSI Beruntung dipimpin oleh Figur seperti Hamdan Zoelva dan Usamah Hisyam sosok yang enerjik dan paham peta serta jago kolaborasi

sumber: jurnalpubliksi.blogspot.com
Categories
Pemuda Muslimin Indonesia

Pemuda Muslim Sulteng: “Selamat Harlah NU”

Selamat & Sukses Harlah NU 94 th.

Selamat dan Sukses Harlah NU 1926-2020

Selamat dan Sukses NAHDATUL ULAMA

Selamat HARLAH ke 94 NU

sumber: facebook.com/pmi.sulteng.125

Categories
Pemuda Muslimin Indonesia

Komitmen Pmi Sulteng dalam memenangkan gagasan-gagasan perjuangan

Di atas karpet merah komitmen Pmi Sulteng dalam memenangkan gagasan-gagasan perjuangan itu akan kita kongkrit kan menjadi suatu gerak langkah di dalam Rana praksis, teras-teras mesjid dari kota hingga pelosok kampung adalah ruang pemantapan nilai-nilai perjuangan Islam akan terus hidup.. setiap dari kita mempunyai tanggung jawab dan beban sejarah terhadap maju mundur nya bangsa ini kedepan nya….

#PemudaMuslimin_Indonesia
#Syarikat_ISLAM
#Sulawesi_Tengah

sumber: facebook.com/pmi.sulteng.125

Categories
Pemuda Muslimin Indonesia

Pemuda Muslim Sulteng: MASJID “Jantung Peradaban Islam”

MASJID “Jantung Peradaban Islam”

Masjid adalah Simbol KeIslaman. Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ummat Islam, karena Masjid merupakan bentuk kerinduan Ummat kepada Allah SWT.
Kata Masjid terulang 28 kali dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuk.

Masjid pada awal sejarah Ummat Islam, menjadi central Basis Ummat dalam penyebaran Islam. Bahkan pada masa itu, Masjid menjadi fasilitas umat Islam untuk mencapai sebuah kemajuan peradabaan.
Dari masjid seluruh central utama aktivitas keummatan, yaitu Dakwah, pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya sebagai upaya membangun sebuah peradaban Islam.

Sejarah menceritakan bahwa Masjid Nabawi, lahir peradaban Islam yang mengalahkan Romawi dan Persia. Masjid di Bagdad dan sekitarnya melahirkan intelektual muslim yang mengubah dunia.

Masjid adalah pusat cemerlangnya umat Islam, sebagai center of excellence kebangkitan umat Islam. Masjid adalah institusi pertama yang dibangun Rasulullah SAW pada periode Madinah. Keberadaan masjid dalam masyarakat Islam dapat disamakan dengan keberadaan jantung pada tubuh manusia. Jantung itu merupakan sumber tenaga dan kekuatan yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Apabila jantung itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka kehidupan manusia itu akan menderita bahkan bisa menyebabkan kematian. Karena itu masjid disebut pusat ibadah dan pusat peradaban.

Di Indonesia, Sejak dulu masjid telah menjadi salah satu pilar kekuatan masyarakat muslim Indonesia. Di era kejayaan Islam Indonesia, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, namun juga sebagai pusat kegiatan intelektualitas.

Sama halnya saat ini, Masjid menjadi pusat ibadah dan segala aktifitas keummatan ditengah-tengah kelompok minoritas di Indonesia. Secara De facto ummat terbesar di Indonesia saat ini adalah Ummat Muslim, namun hal tersebut tidak menjadikan bentuk Sistem dan kebijakan di Indonesia harus menerapkan aturan Islam sebagai proses keberlangsungan hidup di bumi Nusantara.

Pada Masjid saya ingin melihat toleransi yang terbentang pada bangunan masjid yang berdiri tegak di belahan dunia, baik di Indonesia sendiri maupun di negara lain. Masjid dibangun dengan beberapa bagian yang memiliki pesan tersirat dalam mengajarkan siapapun, termasuk pemeluk agama Islam sendiri, yakni pesan menegakkan toleransi antar umat beragama. Salah satu bagian masjid yang dimaksud adalah menara dan kubah.

Menara secara literal diambil dari bahasa Arab, manarah yang berarti “tempat api”. Ada apa dengan tempat api ini…?
Tempat api atau yang disebut dengan “menara” pada mulanya dijadikan tempat sesembahan kaum Majusi. Namun, pada kepemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan dibangun sebuah menara di Kota Bashrah supaya dapat menyaingi menara-menara lonceng di gereja.

Di samping itu, kubah masjid pada mulanya dibangun oleh peradaban Misopotamia. Perkembangannya kemudian terlihat pada periode awal masa Kristen. Bentangan kubah pada waktu itu tidak terlalu besar seperti kubah bangunan Santa Costanza di Roma. Bahkan, di Moskow Rusia berdiri bangun katedral dengan kubah di bagian atasnya yang mana saat dilihat sekilas bangunan ini menyerupai Masjid.

Oleh sebab itu, menara dan kubah yang seringkali terlihat pada hampir semua bangunan Masjid merupakan bangunan tempat ibadah non-muslim. Penyerupaan Masjid dengan tempat ibadah non-muslim bukan karena para ulama atau para pendahulu tidak kreatif merancang pembangunan Masjid berbeda dengan tempat ibadah agama lain, namun untuk menyampaikan pesan toleransi antar umat beragama.

Islam terbuka dengan budaya agama lain selagi tidak mengganggu keyakinan. Dimasukkannya menara dan kubah yang jelas budaya agama non-Islam pada kenyataannya tidak mengusik keyakinan orang Islam, bahkan membantu pemeluk agama Islam dalam beribadah. Sebelum teknologi masuk, Pengeras Suara belum ada, menara menjadi media mengumandangkan AZAN sebagai penanda masuk waktu shalat. Ketinggian menara ini membantu suara Muadzin terdengar di telinga masyarakat.

Sikap toleransi Umat tersebut diperkuat dengan bunyi surah at-Taubah ayat 6:
“Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui”.

Ayat itu menitipkan pesan toleransi terhadap pemeluk agama lain, sehingga akan tercipta perdamaian, kesejahteraan, dan saling tolong-menolong. Perlindungan terhadap pemeluk agama lain merupakan cara menghormati sesama, karena apapun agamanya semuanya tetap manusia yang memilik hak dan kewajiban yang sama: diperlakukan secara adil dan dijaga kehormatannya.

Toleransi Islam tergambar pula pada beberapa ayat yang melarang sikap diskriminatif dalam beragama: memaksa orang lain memeluk agama tertentu. Disebutkan pada surah Yunus ayat 99:
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa menusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman ?”.
Tentu, tidak dapat dibenarkan pemaksaan dalam beragama, karena keimanan adalah pilihan masing-masing orang. Pemaksaan itu berlawanan dengan kehendak hati. Orang yang dipaksa beragama Islam, sementara hatinya belum mengakuinya, maka ia sia-sia.

WAHAI SAUDARAKU NON-MUSLIM
RENUNGKAN KEMBALI BANGUNAN MASJID YANG SERING DIHANCURKAN, KARENA PADA BANGUNAN MASJID ITU ADA PESAN YANG AMAT KUAT: YAITU PESAN TOLERANSI ANTAR UMMAT BERAGAMA.
Ummat muslim Indonesia selama ini diam dengan segala bentuk kecongkakan kalian.
Islam mengajarkan kami ummat ini tentang menghargai prinsip keyakinan agama lain.

Sebagai kader Ummat, Pemuda Muslimin Sulawesi Tengah menyesalkan tindakan oknum yang memasuki dan merusak Masjid Alhidayah di Perumahan Agape, Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara.
Sebab apa yang dilakukan adalah merupakan tindakan barbar dan penistaan yang mencederai Toleransi kehidupan beragama di Sulawesi Utara. Sehingga kerukunan dan persaudaraan di daerah tersebut tercoreng.
Atas tindakan tersebut kami pun mengutuk perbuatan kelompok Non-Muslim atas pengrusakan Masjid Alhidayah di Perumahan Agape, Desa Tumaluntung Kabupaten Minahasa Utara. Juga mendesak kepada pihak pemerintah dan penegak hukum untuk melakukan sikap tegas terhadap tindakan tersebut.

Perbuatan perusak tempat ibadah tidak bisa lagi dimaafkan dalam kehidupan negara yang melindungi kemerdekaan penduduknya untuk menjalankan agama dan kepercayaan sebagaimana dijamin oleh Undang-Undang yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945.

Olehnya sebagai kader ummat Pemuda Muslimin Sulawesi Tengah, mengecam dan mengutuk kersa atas tindakan yang dilakukan oleh Oknum-oknum yg tidak bertanggung jawab atas pengrusakan Masjid Alhidayah di Perumahan Agape, Desa Tumaluntung Kabupaten Minahasa Utara.

WAHAI SAUDARAKU NON-MUSLIM
Jangan Ajarkan kami Ummat Islam soal Toleransi, sebab Islam mengajarkan kami cara menghargai keyakinan pemeluk Agama Lain.
WAHAI SAUDARAKU NON-MUSLIM
Jangan Ajarkan kami soal membela Agama dan keyakinan kami, sebab ummat Islam sudah teruji untuk SYAHID dalam membela Agama-NYA.

Takbirr…
Allahu Akbarrrr 💪💪💪🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

#PEMUDA_MUSLIMIN_INDONESIA

 

sumber: facebook.com/

Categories
Berita Umum

Ekspresi Politik Islam dan Nasib Khutbah yang Diseragamkan

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Pada zaman Orde Lama, ketika Soekarno berada dalam puncak kekuasaan usai dekrit Presiden 1959 ada situasi menarik bagi umat Islam. Suasana politik semakin panas lagi ketika Partai Masyumi dan PSI dibubarkan.  Seoekarno saat itu menafikan demokrasi. Atas nama ‘penyambung lidah rakyat’ dia berkuasa mutlak. Parlemen dibubarkan dan dia berkuasa seumur hidup.

Dalam situasi ini proklamator yang sempat menjadi rekan Soekarno menjadi Wakil Presiden, Moh Hatta, lantang memprotes melalui tulisan yang menyengat berjudul ‘Demokrasi Kita’.  Di artikel ini Bung Hatta sangat marah atas penyelewengan praktik demokrasi di Indonesia. Akibatnya, setelah itu hubungan Soekarno-Hatta yang sudah renggang setelah Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden, makin menjadi. Di publik terlihat kentara keduanya tak akur. Dan situasi makin panas ketika ‘para aktivis kiri’ makin mengomporinya. Tak hanya dengan Hatta, hubungan Soekarno dengan ‘Bung Kecil’ Syahrir juga memburuk.

Umat Islam saat itu juga resah. Ekpresi politiknya  dikebiri dengan adanya keinginan Sukarno untuk memasukannya ke koalisi tiga kaki: Nasionalis, Agama, dan Komunis. Ide Soekarno saat itu keren ingin menciptakan kerukunan nasional untuk memacu derap pembangunan secara revolusioner. Jargonnya yang membahana kala itu: Revolusi Belum Selesai, Hancurkan Kepala Batu!

Namun, ali-alih menyatukan bangsa, kolaisi Nasakom justru memecah, bahkan kemudian memicu situasi hubungan antar kemlompok layaknya minyak dan air. Memang golongan Islam, misalnya Nahdhatul Ulama, awalnya kompak dengan jargon Nasakon itu. Tapi lama-lama gerah, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) terus membabatnya. Awalnya hanya cari maki biasa, tapi lama kelamaan mulai tawuran massal. Ini mulai marak di tahun 1962-an, ketika NU tersudut dengan isu ‘Tujuh Setan Desa’ dan penguasaan tanah oleh para Kyai di Pesantren akibat UU Pokok Agraria /UU No 5 tahun 1960.

Make setelah tu, NU gerah. Diam-diam dia keluar dari barisan koalisi Nasakom. Sikapnya kemudian tak berbeda dengan Masyumi yang saat itu sudah keluar dan menjadi oposan kekuasaan. Gelar keulamaan kepada Soekarno yang sempat diberikan sebagai ‘wali negeri’ diam-diam hanya dijadikan etalase beku tanpa arti. Dan sebagai akibat sikapnya itu, PKI kemudian makin keras ‘membuly NU’. Saat itu ada ujaran yang sangat kondang yang sebenarnya bermula dari aktivis PNI. Hadi Subeno, di Semarang yang kemudian diamini juga oleh DN Aidit: Waspadalah terhadap kaum sarungan!

Apa efek berikutnya dari kebijakan tersebut. Tentu saja gerak aktivisi Islam diawasi ketat. Khutbah Jumat juga diawasi. Pengajian Buya Hamka dikuntit aparat intelejen negara. Khubtah dan pengajian rutinnya yang berlangsung di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta, diawasi. Puncaknya dalam sebuah acara pengajian untuk menyunatkan anak seorang rekan Masyumi di Banten, Hamka ditangkap. Tuduhannya tidak-main main: Melakukan rapat gelap yang merencanakan makar! Setelah itu Hamka ditangkap. Dia dipenjara tanpa diadili hingga rezin Soekarno jatuh setelah geger berdarah G30S/PKI 1965.

Celaknya, meski rezim telah berganti ekpresi umat Islam tetap saja terbatas. Bung Hatta yang sempat ingin membuat partai berbasis Islam layaknya Masyumi gagal total. Pemerinatah Orde Baru di bawah Jendral Soeharto tak mengijinkannya. Alasannya pun masih sama: Curiga adanya usaha gerilya kembali ke Piagam Jakarta.

Maka kemudian ekpresi politik umat Islam dikebiri kembali. Memang ada awalnya masa Orde Baru. yakni di Pemilu 1971 masih ada partai berbasis Islam yang berdiri, seperti Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Muslimin Indonesia, dan Partai Islam Indonesia (Perti). Namun ini sesuai pemilu ini, kemudian dipaksa untuk melebur dalam satu fusi yakni menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berlambang Ka’bah.

Dan sama dengan zaman Orde Lama, pada saat yang sama ekpresi umat Islam juga mulai diawasi secara ketat. Khutbah diam-diam diawasi. Pengajian juga diintai. Entah dari mana datangnya, riba-tiba ketika seorang kiai hendak memberikan ceramah meski hanya ceramah perkawinan, tiba-tiba didatangi aparat keamaan untuk membatalkannya. Bahkan, situasi ini sempat penulis saksikan secara langsung dalam sebuah acara perkawinan seorang ‘Bu Lik’ di sebuah kampung di Jawa Tengah.

Dipublik, wacana yang muncul pun tetap sama. Ada petinggi keamanan tetap saja mengatakan dengan terus membangunkan jargon pejoratif lama: Gerilya kembali ke Piagam Jakarta. Ucapan ini dia ucapkan saat memberi komentar tentang pengesahan undang-undang peradilan agama di awal atau menjelang dekade 90-an.

Uniknya saat itu kemudian kondisinya berbalik arah. Entah mengapa Presiden Soeharto memberikan angin kepada ekpresi politik Islam. Maka lahirlah apa yang disebut Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Penguasa saat itu getol membangun masjid hingga bank. Dan pada saat yang sama, golongan yang terus percaya bahwa  tengah ada gerilya kembali ke Piagam Jakarta, berganti  peran dari yang semula berada dalam lingkar kuasaan menjadi kaum oposan Orde Baru. Maka lahirlah Forum Prodemokasi yang kala itu diketuai mendiang Gus Dur.

sumber: republika.co.id

Categories
Berita Umum

Kegiatan Ekstrakurikuler Pencak Silat Mts Cokro Madukara

Kegiatan Ekstrakurikuler Siang sampai sore tadi….semangat terus untuk berlatih…..

sumber: facebook.com/mtscokroaminoto.madukara

Categories
Pertahanan Ideologi Syarikat Islam

FOTO: Pelantikan & Diskusi Publik PERISAI cabang Jakarta Pusat

FOTO: Pelantikan & Diskusi Publik PERISAI cabang Jakarta Pusat

Categories
Pemuda Muslimin Indonesia

FOTO: Pelantikan Pimpinan Cabang Pemuda Muslimim Indonesia Kota Palopo periode 2018-2021

FOTO: Pelantikan Pimpinan Cabang Pemuda Muslimim Indonesia Kota Palopo periode 2018-2021

Categories
Ketua Umum SI

Suami-Istri Ini Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UIN Palembang

Palembang, Gatra.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang kembali mengukuhkan guru besar, dalam sidang senat terbuka yang digelar Jumat (24/1) kemarin. Untuk pertama kalinya, pengukuhan guru besar kali ini aialah sepasang suami istri, yakni Prof Dr Muhajirin, MA, yang merupakan guru besar bidang studi islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam sedangkan Prof Maya Panorama, SE, MSi, PhD yang menjadi guru besar bidang studi Ilmu Ekonomi Pembangunan.

Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof Sirozi mengatakan pengukuhan dua guru besar menggenapkan 20 guru besar yang dimiliki universitas. Menariknya, penerima gelar guru besar ialah sepasang suami istri yang tergolong berusia muda.

“Meraih gelar guru besar, tidaklah mudah, sebab standar-standar profesor saat ini, makin ditingkatkan dengan persyaratan yang makin sulit, namun penambahan guru besar ini akan mampu menambah kredibilitas lembaga dalam melayani masyarakat dan turut mencerdaskan generasi bangsa,” ujarnya.

Pengukuhan dua profesor ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi dosen-dosen yang sudah berkualifikasi doktor khususnya di UIN Raden Fatah Palembang, guna meraih gelar yang sama.

“Saat ini ada 111 dosen yang berkualifikasi dan bergelar doktor. Saya optimis para doktor ini lebih semangat untuk meraih guru besar, sebab dosen-dosen inilah yang menentukan maju mundurnya pendidikan di Indonesia,” sambung Sirozi.

Adapun orasi ilmiah yang disampaikan Prof Dr Muhajirin, MA dengan judul Memaknai Teori Tuhan Sebagai Hukum Absolut dan Prof Maya Panorama, SE, MSi, PhD dengan judul Pengembangan Rural Micro Finance di Indonesia.

Acara pengukuhan dua profesor dua bidang studi berbeda tersebut dihadiri sejumlah pejabat penting baik dari akademisi maupun pemerintah, tokoh nasional, dan tokoh asal Sumatera Selatan. Beberapa pejabat dan tokoh tersebut di antaranya Ketua Umum Syarikat Islam dan mantan Ketua MK, Hamdan Zoelva, Ketua DPP Syarikat Islam Iwan Assa’ari, Ketua DPW Syarikat Islam Sumsel, Sudirman D Hurry, Yahya Mas, Hafiz Mustafa,  KH Mudrik Qori, MA, Prof Sri Suroso hingga imam besar Masjid Agung Palembang KH Nawawi Dencik, dan lainnya.


Editor: Tasmalinda
sumber: gatra.com